Menteri Susi Marah, Bongkar Mafia Illegal Fishing dan Asing !!!

Jakarta, Obsessionnews.com – Ternyata, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi dan rasa pembelaan terhadap bangsa-negara yang besar. Bahkan, Menteri Susi yang dikenal gaya bicaranya terbuka dan blak-blakan ini mengancam akan mundur jika penangkapan ikan di perairan Indonesia dikuasai asing. Dengan berani dan tanpa tedeng aling-aling, Senin (8/8/2019), akhirnya Menteri Susi membuka semua borok yang ada dan membongkar kebusukan mafia illegal fishing yang marak di tanah air tercinta ini. Berikut pernyataan Menteri Susi dalam kalimat langsung: "Hampir 2 decade PMA (pemodal asing) diperbolehkan investasi 100% di Perikanan Tangkap. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan ijin tangkap untuk kurang lebih 1300 kapal dari China, Thailand, Taiwan, Jepang dan lain-lain. Kapal-kapal tersebut ada yang masuk PMA murni karena boleh 100% asing dan ada PMDN dan join venture. Sementara Pengolahan di wilayah barat investasi asing maksimum 40% dan di Timur maksimum 67%. Dari sisi ini kelihatan peraturan investasi ini memang pro Ilegal fishing, bawa kapal, bikin pabrik abal-abal, tangkap ikan, transhipment di tengah laut, bawa pergi ikan ke negeri masing-masing dengan kapal-kapal Tramper mereka yang berukuran 1000 GT sampai 10000 GT. Yang terjadi adalah 1300 ijin kapal tangkap diduplikasi, realita lebih dari 10000 (sepuluh ribuan lebih) kapal ikan dari negara-negara tetangga tangkap ikan di laut kita. Beberapa Ribu bahkan tanpa ijin sama sekali. Lautan Indonesia menjadi zona bebas mengeruk uang tunai/ikan, udang dan sebagainya dari dalam laut dan juga tempat penyelundupan dari tekstil, miras, narkoba dan lain-lain. Selain ambil ikan dan lainnya dari laut mereka juga membawa binatang-binatang langka dari burung kakaktua, buaya, penyu, cendrawasih dan lain-lain. Perikanan Indonesia dari tahun 2003 sampai dnegan tahun 2013 kehilangan 115 pabrik pengolahan tutup/bangkrut karena tidak ada bahan baku;semua dicuri;dan rumah tangga nelayan berkurang 50% dari jumlah 1.6 juta menjadi tinggal 800 ribuan. Hidup sebagai nelayan tidak lagi bisa mencukupi. Contoh Cirebon 15 sampai 20 tahun yang lalu udang dalam satu malam ratusan ton. Cilacap 50 sampai 100 ton per hari. Pangandaran 10 sampai 50 ton per hari. Semua hilang, sampai 2 tahun yang lalu ada 1 ton sudah banyak. Nelayan yang masih sisa mencoba dengan segala cara untuk bisa hidup, destruktif fishing pakai portas, bom, cantrang/trawl. Pemerintah Indonesia hanya dapat maksimum Rp300 miliar PNBP KKP dan itu pun juga separuh dari kapal-kapal dalam negeri. Pajak hampir tidak ada. Memang ada beberapa pengusaha/tokoh masyarakat/pejabat/aparat dan lain-lain yang dapat fee dari kegiatan bisnis penangkapan ikan kapal-kapal asing. Mereka inilah yang dua tahun tidak dapat lagi itu fee atau komisi pengamanan kegiatan penangkapan ikan secara ilegal. Mereka terus mencoba dengan segala cara. Semua pintu diketuk. Organisasi dipakai untuk teriak kepentingan yang terganggu. Akademisi dipakai dan disuruh menganalisa secara ilmiah. Untuk mempertanyakan kenapa sekarang Pemerintah membuat investasi penangkapan ikan tertutup untuk asing. Dan membuka investasi pengolahan diperbolehkan sampai 100% untuk asing. Karena inilah yang benar dan sesuai dengan misi Pemerintah menjadikan Laut Indonesia adalah masa depan bangsa. Dua tahun perang terhadap ILegal unreported dan unregulated fishing dilakukan dimulai dengan permen moratorium untuk kapal-kapal eks asing 2x6 bulan dan pelarangan transhipment, analisa dan evaluasi dilakukan. Yang akhirnya Perikanan menyumbangkan pertumbuhan PDB akhir tahun 2015 menjadi 8.96%. Hampir 2x dibanding sektor lainnya. Nilai tukar nelayan di tahun 2014 September hanya 102 naik di awal tahun 2016 mencapai 110. Harga ikan juga menyumbangkan deflasi 0.42 atas harga ikan yang cenderung turun. Pasar-pasar becek sekarang ada ikan, warteg juga jualan ikan. Subtitusi yang benar untuk kebutuhan Protein Bangsa kita pada saat impor daging begitu besar dan sangat mahal harganya. Thailand terpuruk PDB perikanannya (pertama kali minus PDB perikanannya. Begitu juga yang lain). Semua itu mestinya menyadarkan kita Indonesia bisa dan mampu dan Kita Punya. Saya yang memiliki pendidikan terendah di jajaran anak bangsa, merasa bangga mengatakan dan menyatakan hal ini. Dan saya berani untuk tetap mempertanyakan kepada siapa saja tentang Investasi Asing di Perikanan tangkap yang sudah pernah ada di Negeri ini. Silakan siapa yang mau menyebutkan Perikanan tangkap Asing itu siapa? Dari negara mana? Perusahaan apa? Apa yang telah diberikan kepada negeri ini? Apa yang telah diambil, ayo angkat tangan, sebutkan nama anda, perusahaan? Berapa nilai ekonomi negeri yang anda berikan? Saya akan cermati!!! Wassalam Susi Pudjiastuti, Menteri KP." (Red)





























