Pameran Lukisan Istana Bisa Dilihat Masyatakat Umum

Jakarta, Obsessionnews.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyebut, gelaran pameran lukisan-lukisan Istana merupakan salah satu bukti dari pesan Presiden Jokowi bahwa apa yang ada di wilayah Istana sejatinya merupakan milik rakyat. Dirinya juga menerangkan bahwa ini merupakan kali pertama bagi masyarakat umum untuk melihat koleksi lukisan Istana dari dekat. Menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-71, Istana Kepresidenan menggelar pameran sejumlah koleksi lukisan dan foto. Pameran yang bertajuk '17/71: Goresan Juang Kemerdekaan' tersebut diagendakan untuk dibuka mulai tanggal 1 hingga 30 Agustus 2016 di Galeri Nasional, Jakarta. "Perlu kami garis bawahi, bahwa Bapak Presiden sudah mengirimkan pesan kepada semua bahwa apa yang ada di wilayah Istana ini menjadi milik rakyat. Ini adalah salah satu bukti bahwa koleksi lukisan Istana bisa diakses. Biasanya kita menyaksikan lukisan-lukisan itu dari jarak jauh," ucap Anies di gedung Setneg, Jakarta, Senin (25/7/2016). Dalam kesempatan yang sama, Anies Baswedan berharap momentum ini dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat menyadari bahwa sebenarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang kreatif. Selain itu, momentum ini menurutnya dapat dimanfaatkan untuk mengingatkan kembali bahwa prestasi bagi para anak bukan hanya prestasi akademik, namun juga kreatif. "Kami berharap dari sini kita menyadari lagi, mengingatkan ulang, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kreatif. Karya-karya lukis kreatif, bagi sekolah, bagi guru-guru, adalah kesempatan untuk mengingatkan kembali bahwa yang disebut sebagai prestasi dari anak-anak kita bukan saja prestasi akademik di bidang-bidang yang diujikan secara standar, tapi juga prestasi-prestasi bidang kreatif, utamanya pada bidang seni," terangnya. Anies mengajak masyarakat untuk turut merayakan suasana HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71. Dirinya juga bersyukur bersama dengan Kementerian Sekretariat Negara dan Badan Ekonomi Kreatif, kementeriannya turut terlibat dalam gelaran tersebut. "Jadi kami menyambut baik dan berterima kasih atas kesempatan berpartisipasi. Insya Allah bulan Agustus nanti benar-benar menjadi bulan di mana kita merayakan 71 tahun Indonesia, sekaligus merayakan ekspresi seni lukis Indonesia di lukisan-lukisan berkelas yang ada di Istana ini," tutupnya. Sebelumnya, Presiden Jokowi menyambut baik penyelenggaraan pameran ini. Menurutnya, pameran ini merupakan salah satu wujud pertanggungjawaban Istana Kepresidenan yang mendapat amanah untuk merawat koleksi-koleksi terbaik itu. "Saya ingin lukisan-lukisan ini akan tetap abadi dan terus menerus bisa disajikan di hadapan publik seluruh dunia," ujar Presiden. Adapun daftar koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan ditampilkan adalah sebagai berikut: 1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946 2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946 3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949 4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949 5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955 6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949 7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo) 8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949 9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857 10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939 11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947. 12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964 13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950 14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949 15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947 16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7 17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956 18. Soerono, Ketoprak, 1950 19. Ir. Sukarno, Rini, 1958 20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961 21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954 22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955 23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955 24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936 25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930 26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949 27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977 28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950an). (Has)





























