Sugeng Pujiono Sukses Berbisnis Kopi Luwak Cikole

Surabaya, Obsessionnews.com – Sugeng Pujiono lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH ) Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, tahun 1988. Namun, ia tidak berpraktik sebagai dokter hewan. Ia justru menekuni dunia bisnis, dan sukses sebagai pengusaha Kopi Luwak Cikole. Sebelumnya pria kelahiran berusia 53 tahun lalu tersebut berhenti dari jabatannya sebagi General Manager (GM) PT Sanbe Farma dan PT Caprifarmindo Labs di tahun 2013. Hal itu dilakukannya agar dapat berkonsentrasi dalam usaha kopi luwak yang ia rintis sejak tahun 2012. Dikutip dari siaran pers Unair, Sabtu (23/7/2016), usaha Sugeng boleh dikata tidak berjalan mulus. Awalnya ia memulai usaha tersebut dengan budidaya 10 ekor luwak. Untuk bisa mendapatkan biji kopi luwak berkualitas, Sugeng melakukan banyak eksperimen dengan mengatur pola makanan juga pola hidup luwak yang dibudidayakannya. Menurutnya, hal tersebut mempengaruhi metabolisme dalam tubuh luwak dalam menghasilkan biji kopi luwak yang berkualitas. Dalam menjalankan bisnisnya, tidak jarang Sugeng menjumpai banyak penolakan terhadap produk kopi luwak miliknya. Terutama harga kopi luwak yang memang melambung tinggi. Namun dengan terus memperbaiki kualitas kopi luwak miliknya, Sugeng mulai meraih banyak kepercayaan dari penikmat kopi. “Masih jarangnya studi mengenai hewan luwak, membuat saya tertantang untuk terus mempelajari hewan asli Indonesia tersebut. Di samping itu, sedikitnya produsen kopi luwak dan penikmat kopi luwak di Indonesia membuat saya termotivasi mengembangkan usaha ini,” ujarnya usai mengisi seminar di FKH Unair, Kamis (14/7). Kerja keras yang diawali Sugeng dengan 10 ekor luwak tersebut kini berkembang dengan jumlah sekitar 250 ekor. Di atas lahan di kampung Babakan, Desa Cikole, Lembang Bandung, Sugeng kini memiliki pusat penangkaran dan rumah produksi kopi luwak yang satu-satunya diakui oleh pemerintah Indonesia. Di Desa Cikole tersebut di samping menjual produk kopi luwak, pengunjung bisa menikmati secara langsung suasana pegunungan disana. Selain itu, ada pula breeding farm luwak yang bisa menjadi sarana edukasi bagi pengunjung. Adanya paket tour and destination semakin memanjakan pengunjung yang justru banyak berdatangan dari mancanegara. Tercatat lebih dari 55 negara yang pernah datang ke kedai, workshop, dan penangkaran luwak milik Sugeng. “Kendala yang bermunculan seperti keluarnya protes keras tentang tuduhan eksploitasi terhadap luwak,” ujar Sugeng. Sugeng dengan tegas menolak tuduhan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa usahanya tidak menyiksa luwak. Dia memperhatikan pola makanan dan menjaga pola hidup luwak-luwak miliknya. Namun seiring berjalannya waktu, protes itu pun terbantahkan. Keputusan Sugeng resign dari posisi GM dan mengelola kopi luwak adalah langkah besar yang dibuatnya untuk menantang dirinya sendiri dalam berpikir berbeda dan berani mengambil risiko. “Dunia entrepreneurship yang saya geluti saat ini membuat saya menjadi pribadi yang memiliki nilai berbeda. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan saya menghadapi tantangan dalam memperoleh peluang dan menerima resiko,” katanya. Tidak puas dengan bisnis kopi luwak, Sugeng kini merambah dunia kuliner dengan membangun sebuah kafe dan resto bernama “Kangen Lembur Cikole”, yang masih satu lokasi dengan pusat penangkaran luwak miliknya. “Saya berharap seluruh civitas akademika Unair memiliki jiwa entrepreneurship. Karena hal ini akan membuat mereka berani untuk menjadi seseorang yang berbeda, dan terbiasa menciptakan peluang dan berpikir inovatif. Yang terpenting adalah jangan hanya menunggu peluang. Jadilah orang yang menciptakan peluang,” tandasnya. Selain itu, Sugeng juga mengembangkan bisnis dalam bidang produk kesehatan hewan, yakni PT ISSU Medika Veterindo yang dimulainya sejak tahun 2013. Dia menjelaskan, PT ISSU tidak hanya sekadar rumah produksi melainkan juga sebagai sarana edukasi. Hingga saat ini tidak sedikit para akademisi yang datang untuk melihat proses produksi di PT ISSU. (@arif_rhakim)





























