Dana Desa Jangan Hancurkan Kearifan Lokal

Dana Desa Jangan Hancurkan Kearifan Lokal
Magelang, Obsessionnews - Kepemimpinan Jokowi-JK memberi harapan baru dalam pemerataan pembangunan hingga ke pelosok-pelosok desa. Pembangunan pun kini berkiblat ke pedesaan dengan adanya anggaran khusus bernama Dana Desa. "Ini patut disyukuri mengingat masih besarnya ketimpangan pembangunan antara desa dan kota sehingga memicu angka urbanisasi yang tinggi," tegas Peneliti Merapi Cultural Institute (MCI), Hrb. Binawan, Sabtu (21/5/2016). Namun demikian, selain mempertimbangkan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), pembangunan desa hendaknya dalam pelaksanaannya memperhatikan analisis dampak sosial-budaya. "Pembangunan desa jangan sampai menabrak kearifan-kearifan lokal yang akhirnya menjadi pemicu hancurnya semangat gotong-royong, kekeluargaan dan belarasa," harap dosen Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) ini. Ia menegaskan, harus diakui bahwa di tengah arus modernisasi yang begitu deras, tradisi pedesaan menjadi oase bagi nilai-nilai kemanusiaan universal. Desa yang adalah pusat harmoni kehidupan yang humanis memberikan nuansa kedamaian batin yang mendalam. Tak heran kini banyak dijumpai berbagai aktivitas bisnis yang “menjual” nuansa pedesaan. Karena pada dasarnya, kita selalu rindu suasana desa yang “manusiawi”. Faktanya, penggerusan nilai-nilai tradisi terus merambah ke pedesaan. Semangat musyawarah mufakat yang menjadi roh kehidupan desa, kini mulai kurang dihiraukan. Di beberapa desa dijumpai beberapa rencana pembangunan akhirnya harus gugur di tengah jalan. "Setelah ditanya ke penduduk desa, ternyata mereka merasa tidak diberitahu perihal rencana itu sehingga mereka pun enggan mengerjakannya," tegasnya setelah melakukan penelitian lapangannya. Gotong-royong yang dahulu menjadi ciri khas pedesaan, kini sedikit demi sedikit mulai luntur. Pekerjaan membuat sarana umum yang dahulu dikerjakan secara bersama-sama secara sukarela dan tanpa upah, kini rasa-rasanya hampir sulit dilakukan. "Bagaimana tidak? Struktur bangunan saat ini rata-rata memiliki struktur yang rumit, sehingga perlu mendatangkan tenaga ahli minimal sebagai pendamping. Kehadiran pendamping tak jarang justru mengendurkan niat gotong-royong dari para warga," terang lulusan Pascasarjana Pendidikan Bidang Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selain itu, perlu juga kesiapan mental dari seluruh masyarakat desa terutama perangkat-perangkatnya untuk secara cerdas dan arif memenuhi setiap persyaratan dalam pengajuan program, pelaksanaan hingga pelaporannya. Pola pikir yang cenderung ingin instan dan tidak mengindahkan kearifan lokal seperti nilai kejujuran, keterbukaan, gotong-royong dan musyawarah mufakat justru akan beresiko pada kegagalan dalam program kerja pembangunannya. "Dalam beberapa kasus, kegagalan ini tidak hanya menyebabkan urungnya pembangunan desa, namun juga menyebabkan beberapa perangkat desa harus berurusan dengan hukum," jelasnya. Binawan berpendapat kearifan lokal sebaiknya tidak dipandang sebagai penghambat pembangunan, sebaliknya dijadikan sebagai pedoman dan sekaligus pengontrol pembangunan terutama dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan sebaiknya mengikutsertakan masyarakat dan harus berpedoman pada tingkat kebutuhan dan kondisi riil masyarakat setempat, bukan semata-mata aji mumpung. Pembangunan yang memakai perspektif pembangunan ala kota tanpa mempertimbangkan kebutuhan riil yang lahir dari kerarifan lokal hanya akan membawa beban sosial-budaya warga desa. Belum lagi, dalam jangka panjang mendatangkan beban ekonomi berupa biaya perawatan besar yang kadang tak terpikirkan. Mumpung ada dana, dibuat sebagus-bagusnya. Selanjutnya, pusing karena terbebani dengan biaya perawatan. Ia menambahkan pembangunan ekonomi termasuk sarana dan prasarana pedesaan yang terlalu tiba-tiba atau bahkan terlalu dipaksakan demi terlaksananya rencana anggaran yang telah dialokasikan, justru bakal berakibat buruk. Selain itu, apabila perkembangan ekonomi yang pesat tidak diimbangi dengan pembanguan mental masyarakat pedesaan dan kesadaran akan kearifan lokal maka akan berdampak pada mentalitas masyarakat yang materialistis yaitu mentalitas yang selalu mempertimbangkan untung-rugi dalam berinteraksi. Mentalitas materialistis ini menjadi ancaman besar bagi kearifan lokal. "Pembangunan pedesaan yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal akan memperkuat jatidiri bangsa. Sebaliknya, pembangunan yang meminggirkan nilai kearifan lokal dikhawatirkan justru semakin menggilas posisi desa sebagai ‘nurani’ bangsa," pungkasnya. (Red)