PBNU Nilai Konflik Sosial Keagamaan Catatan Buruk Jokowi-JK

PBNU Nilai Konflik Sosial Keagamaan Catatan Buruk Jokowi-JK
Jakarta, Obsessionnews – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai konflik sosial bernuansa keagamaan menjadi catatan buruk dalam setahun kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). PBNU juga menilai kinerja intelijen sangat lemah dalam mengantisipasi munculnya konflik sosial masyarakat di berbagai daerah. Menurut Sekretaris Jendral (Sekjen) PBNU Helmy Faishal Zaini, dalam setahun pemerintahan Jokowi-JK setidaknya ada dua catatan minus dalam kehidupan sosial, yakni konflik di Tolikara, Papua, dan Aceh Singkil, Aceh. "Dua konflik sosial bernuansa keagamaan ini seharusnya bisa dicegah bila intelijen kuat," katanya ketika dihubungi Senin (19/10/2015). Dia berpendapat, perusakan rumah ibadah di Tolikara dan di Aceh tidak dimotivasi sentimen radikalisme antar agama, ini murni masalah politik lokal dan aturan rumah ibadah. Helmy yang juga anggota Fraksi PKB DPR ini menilai harusnya intlijen baik kepolisian maupun TNI itu punya informasi, data dan peta konflik sehingga konflik bisa dicegah. "Nah ini seharusnya diantisipasi intelijen, jadi tidak kecolongan. Sudah jelas intelijen kita lemah," tandasnya. Permasalahan sosial yang masih menjadi catatan setahun kinerja Jokowi-JK lainnya, seperti kekerasan terhadap anak. Menurut Helmi, angka untuk kasus ini semakin tinggi. "Ini ada kaitannya dengan pelemahan ekonomi, urusan perut menimbulkan permasalahan," cetus mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal di era SBY ini. Karena itu, lanjutnya,penegakan hukum, penguatan dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyakat harus lebih bisa ditingkatkan. Terutama pemerintah harus mencari jalan agar kondisi ekonomi dan tingkat kesejahteraan tidak semakin terpuruk. Seperti diketahui, kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Papua, 17 Juli 2015, berawal dari adanya surat dari Badan Pekerja Wilayah Tolikara Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Surat itu berisi larangan bagi umat Muslim untuk mengadakan shalat Idul Fitri di Tolikara. Sehingga terjadi kerusuhan dengan adanya pembakaran dan pelemparan mushola dan kios-kios. Sementara itu terjadi bentrok antarwarga di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Selasa (13/10/2015). Akibat insiden tersebut, sebuah gereja ikut dibakar oleh warga. Selain itu, pecahnya bentrok mengakibatkan dua warga tewas dan empat luka-luka. (rol/arh)