Emerging Market dan Rupiah Kembali Tertekan

Jakarta, Obsessionnews - Pada perdagangan saham kemarin, Selasa (22/9), kembali dilanda aksi jual pemodal seiring meningkatnya resiko capital outflow menyusul berlanjutnya depresiasi rupiah atas dolar AS yang sudah menembus Rp14500. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun, gagal menembus resisten di 4390 dan berakhir dengan koreksi 32,038 poin (0,73%) di 4344,044. Nilai transaksi di Pasar Reguler kemarin hanya Rp2,95 triliun dan pemodal asing kembali mencatatkan nilai penjualan bersih Rp380,83 miliar. Analis Pasar Modal David Setyanto, Rabu (23/9), menyebutkan Koreksi IHSG kemarin, terutama akibat meningkatnya kekhawatiran pemburukan ekonomi kawasan Asia setelah ADB menurunkan proyeksi pertumbuhannya. Akibatnya, mata uang emerging market termasuk rupiah kembali tertekan. Kemarin, ADB menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia tahun ini menjadi hanya 5,8% dari sebelumnya 6,1%. Perekonomian China tahun ini juga diperkirakan hanya tumbuh 6,8% turun dari proyeksi sebelumnya 7,2% dan dari tahun lalu 7,3%. Sementara itu, ekonomi Indonesia tahun ini oleh ADB diperkirakan hanya tumbuh 4,9% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya 5%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi Asia ini, juga ikut berimbas pada tekanan jual di komoditas dan pasar saham global tadi malam. Indeks Eurostoxx di zona Euro anjlok hingga 3,41% di posisi 3076,05. Indeks DJIA dan S&P di Wall Street masing-masing terkoreksi 1,09% dan 1,23% tutup di pada level 16330,47 dan 1942,74. Indeks saham The MSCI Emerging Markets koreksi 0,9% di 808,23. Harga minyak mentah tadi malam juga terkoreksi 1,82% di 45,83 dolar AS perbarrel. Sedangkan indeks The Bloomberg Commodity tadi malam koreksi 1% terendah dalam bulan ini. Memburuknya outlook perekonomin global dan kawasan Asia dengan China sebagai motor utamanya, membuat aset beresiko kembali dihindari pemodal. IHSG pada perdagangan hari ini menjelang libur nasional besok, akan kembali didominasi tekanan jual. Saham-saham sektoral berbasiskan komoditas terutama tambang akan cenderung tertekan seiring memburuknya outlook harga komoditas tambang. Data awal aktivitas manufaktur China yang akan keluar hari ini akan turut mempengaruhi sentimen pasar. IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support 4300 dan resisten di 4365 cenderung tertekan. (Mahbub Junaidi)





























