Zona Berbahaya di Kawah Gunungapi

Zona Berbahaya di Kawah Gunungapi
Purwokerto, Obsessionnews - Tragedi yang dialami seorang mahasiswa asal Yogjakarta bulan ini, Mei 2015, di Kawah Merapi menimbulkan keprihatinan yang mendalam.  Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan menghadapi cobaan ini. Korban terjatuh ke dalam kawah sedalam kira-kira 200 meter saat berada di bibir kawah. Demikian pemaparan Sachrul Iswahyudi ST MT, Dosen Vulkanologi, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah kepada Obsessionnews.com, Kamis (21/5/2015). Ia mengungkapkan, kematian korban diduga karena beberapa faktor seperti jatuh dari ketinggian, menghirup gas-gas beracun, temperatur yang tinggi, dan lain-lain.  Peristiwa ini sepatutnya juga dijadikan pelajaran berharga dan introspeksi semua pihak terkait keselamatan pendakian gunung. Selanjutnya dijelaskan, kawah gunungapi dan daerah sampai pada radius beberapa ratus meter dari kawah itu sendiri sebenarnya merupakan zona berbahaya (death zone).  Rekahan (fractures) atau patahan (faults) banyak terbentuk di sekitar kawah akibat gempa-gempa kecil atau besar yang pernah terjadi atau longsoran-longsoran karena material yang belum stabil. Rekahan-rekahan tersebut menjadi jalan keluar bagi panas dan gas-gas magmatik berbahaya, seperti CO2, SO2 atau H2S mencapai permukaan kawah.  Seringkali rekahan-rekahan tersebut juga tertutup oleh material volkanik produk erupsi terbaru, sehingga gas-gas dan panas tidak mencapai permukaan kawah. Akan tetapi, karena tekanan gas-gas atau panas tersebut lebih tinggi daripada tekanan litostatik di atasnya, bisa jadi, material volkanik yang menutupi rekahan-rekahan tersebut tetap saja akan tertembus walaupun dalam jumlah kecil. Keberadaan gas-gas toksin (beracun) tersebut sebenarnya dapat diindikasikan dari minimnya tumbuhan pada lokasi tersebut.  Hal ini terjadi karena tumbuhan sebagai mahluk hidup juga akan mati jika terkena gas-gas beracun pada konsentrasi tinggi. Mendekati puncak atau kawah gunungapi, umumnya tumbuhan menjadi semakin jarang, bahkan hanya berupa padang pasir gunungapi, atau hanya tumbuh-tumbuhan tertentu saja yang ada.  Hal ini disebabkan karena temperatur, konsentrasi gas-gas toksin dan volume material baru hasil erupsi gunungapi yang semakin tinggi. Kawah biasanya berada di puncak gunungapi yang terbentuk karena erupsi atau letusan gunungapi.  Lokasi sebelum menuruni kawah atau pada bibir kawah di puncak merupakan lokasi dengan elevasi yang tinggi dan terbuka relatif terhadap sekitarnya.  Dengan demikian terpaan angin relatif sangat kuat. Mendekati puncak, pada bibir kawah dan di kawah itu sendiri merupakan daerah dimana batuan-batuan baru hasil erupsi banyak dan terus terendapkan.  Umur batuan tersebut relatif sangat muda sehingga belum terkompaksikan. Ditambah dengan kelerengannya yang semakin tinggi karena endapan hasil erupsi yang terus bertambah, lokasi tersebut menjadi sangat labil sehingga dapat terjadi longsoran-longsoran yang membahayakan. Temperatur tinggi pada kawah terkait dengan panas magma dangkal yang dekat dengan permukaan, dengan demikian konsentrasi gas-gas magmatik berbahaya dari magma tersebut juga melimpah. Adanya panas dan fluida panasbumi berupa uap yang ikut naik ke atas permukaan menyebabkan perubahan-perubahan yang terjadi di permukaan.  Salah satu yang penting untuk juga dicermati terkait keselamatan pendakian adalah adanya lokasi-lokasi tanah atau batuan lunak yang jenuh fluida panasbumi.  Pendaki akan terperosok pada lokasi tersebut dan menimbulkan cedera serius karena temperatur tanah tersebut yang panas. Pemilihan waktu yang baik untuk melakukan pendakian biasanya pagi sampai sore hari.  Selain dapat menikmati pemandangan indah sepanjang jalan, faktor keselamatan juga menjadi pertimbangan. Sinar matahari akan membuat gas-gas toksin memuai (molekul-molekul bergerak saling menjauh) dan ditambah hembusan angin siang hari juga akan membuat gas-gas beracun menjadi terdistribusi lebih jauh sehingga konsentrasi menjadi relatif lebih kecil. Saat malam hari jarak pandang terbatas sehingga sulit melakukan antisipasi jika bahaya menghadang.  Kemampuan navigasi dan orientasi medan akan jauh berkurang pada malam hari karena gelap.  Alat-alat seperti peta, kompas, GPS mungkin akan jarang digunakan pada malam hari. Tetapi sering pula terjadi, perjalanan dilakukan pada malam hari karena alasan tidak terlalu panas oleh matahari, menghindari kelelahan berlebihan di siang hari atau pertimbangan keterbatasan waktu. Pemilihan waktu dan menejemen perjalanan menjadi pilihan masing-masing dengan pertimbangan masing-masing, termasuk konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan tersebut. (Asma)