Inilah Wajah Pedalaman Aceh

Aceh, Obsessionnews - Pagi menjelang siang itu, jam menunjukan pukul 10.00 WIB, Obsessionnews.com melakukan ekspedisi menyusuri pedalaman Aceh mulai dari ujung Aceh yaitu Banda Aceh hingga ke wilayah tengah tenggara Aceh yang melalui jalur lintas pedalaman Aceh. [caption id="attachment_37769" align="alignnone" width="640"]
Longsor lintas Gayo Lues - Aceh Tenggara[/caption] Daerah yang dilalui seperti Serbe Jadi Aceh Timur, Pining Gayo Lues hingga ke Aceh Tenggara. Berangkat dari Banda Aceh pada minggu (3/5/2015), menempuh perjalanan darat kurang lebih 8 jam dari Banda Aceh ke Aceh Timur dan bermalam di Idi Rayeuk ibukota Aceh Timur. [caption id="attachment_37756" align="alignnone" width="640"]
Balok (Kayu) yang diletakkan begitu saja di tepi jalan[/caption] Keesokan paginya langsung menuju ke daerah pedalaman. Kecamatan Serba Jadi Aceh Timur merupakan tempat yang pertama yang disinggahi, kira-kira menempuh waktu 3 jam dari Ibukota Kabupaten Aceh Timur. [caption id="attachment_37776" align="alignnone" width="640"]
Rute perjalanan Serba Jadi - Pining[/caption] Banyak hal unik yang dijumpai di sana, mulai dari pemukiman yang sangat sederhana tanpa adanya sinyal telekomunikasi, hingga pakaian para lelaki disitu hampir semua memakai kain sarung yang dilingkarkan ke bahu. [caption id="attachment_37757" align="alignnone" width="640"]
Bangunan Reyot yang masih digunakan warga Serba Jadi[/caption] Hal yang paling menarik adalah Kantor Polisi Sektor (Polsek) Serba Jadi masih sangat kelihatan sederhana, seperti rumah peninggalan gaya Belanda. [caption id="attachment_37767" align="alignnone" width="580"]
Polsek Serba Jadi, Aceh Timur[/caption] Setelah itu, dilanjutkan perjalanan menembus hutan menuju kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, dalam perjalanan banyak hal menarik, mulai dari jalan yang sepenuhnya tiada beraspal bahkan cenderung rusak parah, jembatan yang sangat minim bahkan banyak sekali rute yang dilalui lagsung memotong aliran sungai. [caption id="attachment_37758" align="alignnone" width="640"]
Jalanan yang memotong Alur sungai[/caption] Perambahan hutan (illegal logging) jelas terlihat di depan mata, bongkahan kayu-kayu diletakkan di tepi jalanan dan terdengar sangat jelas suara pemotongan kayu dengan mesin. Selain itu didapati banyaknya proyek pembuatan jembatan yang tidak selesai, dibiarkan begitu saja hingga ditumbuhi semak belukar dan banyak lagi hal-hal yang janggal lainnya. [caption id="attachment_37759" align="alignnone" width="640"]
Jembatan Darurat yang dibangun oleh warga Pining[/caption] Sampai juga akhirnya di kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, disambut ramah oleh warga setempat, kita memutuskan untuk bermalam disini. Pining merupakan daerah penghasil ganja yang sangat terkenal dari Aceh. [caption id="attachment_37774" align="alignnone" width="640"]
Perambahan hutan langsung terlihat dari mobil[/caption] Beberapa info didapatkan bahwa sampai saat ini masih banyak yang menanam daun mabuk itu di pegunungan disekitar pemukiman. [caption id="attachment_37760" align="alignnone" width="640"]
Jembatan Pining[/caption] Beberapa hari kemudian perjalanan dilanjutkan ke Blangkejeren ibukota Kabupaten Gayo Lues dan menginap beberapa hari di daerah tersebut, sambutan Pemerintah Daerah (Pemda) Gayo Lues sangat bersahabat dan banyak informasi yang dapat digali dari Kabupaten Gayo Lues yang merupakan salah satu Kabupaten di Aceh yang sangat jauh jaraknya dari pusat Pemerintahan Aceh yaitu Banda Aceh. [caption id="attachment_37762" align="alignnone" width="640"]
Kayu yang berada di tepi jalan[/caption] Perjalanan pun dilanjutkan ke Kabupaten Aceh Tenggara, didalam perjalanan terjadi longsor dan harus terjebak hingga 6 jam hingga longsor tersebut dapat diatasi. [caption id="attachment_37772" align="alignnone" width="640"]
Proyek Jembatan yang terlantar di lintas pedalaman Aceh[/caption] Perjalananpun dilanjutkan, dari Aceh Tenggara langsung menuju Provinsi Sumatera Utara. Niat hati ingin singgah di Gunung Sinabung, tetapi apa daya, waktu tidak mengizinkan karena saat tiba di Kabupaten Karo, Sumatera Utara hari telah gelap dan tidak dapat mendokumentasikan Gunung Sinabung yang baru-baru ini meletus, membuat warga harus mengungsi dan memakan korban jiwa. [caption id="attachment_37771" align="alignnone" width="557"]
Wartawan Obsessionnews Agung Sanjaya ekspedisi di Pedalaman Aceh[/caption] Ekspedisi dilanjutkan hingga kembali ke Banda Aceh melalui via Medan yang dapat menghabiskan jarak tempuh sehari semalam di dalam perjalanan, Jum’at (8/5/2015). (Agung Sanjaya)
Longsor lintas Gayo Lues - Aceh Tenggara[/caption] Daerah yang dilalui seperti Serbe Jadi Aceh Timur, Pining Gayo Lues hingga ke Aceh Tenggara. Berangkat dari Banda Aceh pada minggu (3/5/2015), menempuh perjalanan darat kurang lebih 8 jam dari Banda Aceh ke Aceh Timur dan bermalam di Idi Rayeuk ibukota Aceh Timur. [caption id="attachment_37756" align="alignnone" width="640"]
Balok (Kayu) yang diletakkan begitu saja di tepi jalan[/caption] Keesokan paginya langsung menuju ke daerah pedalaman. Kecamatan Serba Jadi Aceh Timur merupakan tempat yang pertama yang disinggahi, kira-kira menempuh waktu 3 jam dari Ibukota Kabupaten Aceh Timur. [caption id="attachment_37776" align="alignnone" width="640"]
Rute perjalanan Serba Jadi - Pining[/caption] Banyak hal unik yang dijumpai di sana, mulai dari pemukiman yang sangat sederhana tanpa adanya sinyal telekomunikasi, hingga pakaian para lelaki disitu hampir semua memakai kain sarung yang dilingkarkan ke bahu. [caption id="attachment_37757" align="alignnone" width="640"]
Bangunan Reyot yang masih digunakan warga Serba Jadi[/caption] Hal yang paling menarik adalah Kantor Polisi Sektor (Polsek) Serba Jadi masih sangat kelihatan sederhana, seperti rumah peninggalan gaya Belanda. [caption id="attachment_37767" align="alignnone" width="580"]
Polsek Serba Jadi, Aceh Timur[/caption] Setelah itu, dilanjutkan perjalanan menembus hutan menuju kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, dalam perjalanan banyak hal menarik, mulai dari jalan yang sepenuhnya tiada beraspal bahkan cenderung rusak parah, jembatan yang sangat minim bahkan banyak sekali rute yang dilalui lagsung memotong aliran sungai. [caption id="attachment_37758" align="alignnone" width="640"]
Jalanan yang memotong Alur sungai[/caption] Perambahan hutan (illegal logging) jelas terlihat di depan mata, bongkahan kayu-kayu diletakkan di tepi jalanan dan terdengar sangat jelas suara pemotongan kayu dengan mesin. Selain itu didapati banyaknya proyek pembuatan jembatan yang tidak selesai, dibiarkan begitu saja hingga ditumbuhi semak belukar dan banyak lagi hal-hal yang janggal lainnya. [caption id="attachment_37759" align="alignnone" width="640"]
Jembatan Darurat yang dibangun oleh warga Pining[/caption] Sampai juga akhirnya di kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, disambut ramah oleh warga setempat, kita memutuskan untuk bermalam disini. Pining merupakan daerah penghasil ganja yang sangat terkenal dari Aceh. [caption id="attachment_37774" align="alignnone" width="640"]
Perambahan hutan langsung terlihat dari mobil[/caption] Beberapa info didapatkan bahwa sampai saat ini masih banyak yang menanam daun mabuk itu di pegunungan disekitar pemukiman. [caption id="attachment_37760" align="alignnone" width="640"]
Jembatan Pining[/caption] Beberapa hari kemudian perjalanan dilanjutkan ke Blangkejeren ibukota Kabupaten Gayo Lues dan menginap beberapa hari di daerah tersebut, sambutan Pemerintah Daerah (Pemda) Gayo Lues sangat bersahabat dan banyak informasi yang dapat digali dari Kabupaten Gayo Lues yang merupakan salah satu Kabupaten di Aceh yang sangat jauh jaraknya dari pusat Pemerintahan Aceh yaitu Banda Aceh. [caption id="attachment_37762" align="alignnone" width="640"]
Kayu yang berada di tepi jalan[/caption] Perjalanan pun dilanjutkan ke Kabupaten Aceh Tenggara, didalam perjalanan terjadi longsor dan harus terjebak hingga 6 jam hingga longsor tersebut dapat diatasi. [caption id="attachment_37772" align="alignnone" width="640"]
Proyek Jembatan yang terlantar di lintas pedalaman Aceh[/caption] Perjalananpun dilanjutkan, dari Aceh Tenggara langsung menuju Provinsi Sumatera Utara. Niat hati ingin singgah di Gunung Sinabung, tetapi apa daya, waktu tidak mengizinkan karena saat tiba di Kabupaten Karo, Sumatera Utara hari telah gelap dan tidak dapat mendokumentasikan Gunung Sinabung yang baru-baru ini meletus, membuat warga harus mengungsi dan memakan korban jiwa. [caption id="attachment_37771" align="alignnone" width="557"]
Wartawan Obsessionnews Agung Sanjaya ekspedisi di Pedalaman Aceh[/caption] Ekspedisi dilanjutkan hingga kembali ke Banda Aceh melalui via Medan yang dapat menghabiskan jarak tempuh sehari semalam di dalam perjalanan, Jum’at (8/5/2015). (Agung Sanjaya) 




























