Dua Desa Grobogan Hancur Diterjang Banjir

Puluhan hektar sawah sudah berbentuk layaknya lautan air. Genangan makin merambah, bercampur tanah membuat kawasan sekitar bagai kota mati. Terlihat satu dua orang mengangkut barang berharga menggunakan rakit berbahan batang pisang. Ada yang masih bertahan, ada pula yang terpaksa bermalam di tenda-tenda darurat. Inilah sekilas potret bencana yang menimpa kawasan kecamatanTegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.Semarang, Obsessionnews – Bencana banjir melanda dua desa, yakni Tajemsari dan Karangpasar, Kabupaten Grobogan selama akhir pekan ini. Ratusan warga terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Dapur umum pun segera didirikan berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan untuk membantu warga. Saat obsessionnews.com mencoba menyambangi salah seorang pengungsi. Ahmad Syahir, warga dusun Tajemsari yang rumahnya ikut terendam, mengatakan banjir mulai terasa ketika Kamis malam, (30/4) sekitar pukul 23.00 WIB. “Banjir sudah ada dari Jumat pagi, mas. Tapi masih normal. Wong siangnya masih bisa shalat Jumat. Lha menjelang tengah malam, langsung naik hampir sampai pinggang, mas,” terangnya.
Syahir yang sehari-hari berprofesi sebagai petani harus pasrah melihat ladang jagung miliknya hancur terendam air. Menurutnya, banjir di Dusun Tajemsari merupakan banjir tahunan. Meski begitu, banjir kali ini adalah yang terparah dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Ndak parah gimana mas, yang di tengah desa rumahnya sudah terendam sampai genteng kok,” ujarnya saat mengantar berkeliling desa. Banjir menerjang hampir 90% keseluruhan dukuh di Desa Tajemsari dan Karangpasar. Menurut data dari pemerintah Kecamatan Tegowanu, wilayah yang terendam ialah Dusun Kendalsari, Dusun Mlangi, Dusun Krajan di Desa Tajemsari dengan jumlah 2.855 jiwa. Kemudian menyusul Dusun Kalisari di dalam Desa Karangpasar dengan jumlah 1.950 jiwa. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah mengingat total wilayah pertanian terkena imbas banjir mencapai 253 hektar. Itu belum termasuk kerugian di sektor rumah dan barang-barang elektronik yang terendam. [caption id="attachment_36236" align="alignnone" width="640"]
Warga terpaksa mengungsi ketempat lebih tinggi agar terhindar dari banjir[/caption] Berdasarkan pantauan obsessionnews.com, tinggi genangan air di keseluruhan wilayah bahkan sudah mencapai 3 meter terutama di sisi utara. Sebagian besar warga sudah mengungsi ke desa lain dan tenda darurat. Namun ada juga warga yang nekat bertahan di kediamannya. Rofiq, warga Kendalsari masih bertahan untuk menjaga harta benda dan rumah. Memang, di malam hari kondisi di seluruh desa sangatlah sepi karena banyak warga yang mengungsi. “Saya tetap disini mas. Njagani (menjaga) barang-barang. Soale sepi banget, mas,” tuturnya, Sabtu (02/05). Banyak ternak warga seperti angsa dan bebek yang tidak bisa diselamatkan harus ditinggal begitu saja. Persoalan lain ialah mereka merasa lebih nyaman berada di rumah sendiri ketimbang harus tidur di tenda pengungsian. [caption id="attachment_36238" align="alignnone" width="640"]
Lokasi bencana yang sulit diakses membuat banyakrl relawan dan lembaga pemerintah harus bekerja extra keras untuk mengevakuasi warga serta mendirikan dapur umum[/caption] Pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi wilayah bencana. Mereka bersinergi dengan para relawan seperti Dinas Sosial Tagana Jateng, PMI Grobogan, TNI, Pramuka, Badan SAR Nasional (Basarnas), RAPI dan tentu saja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan, Kudus, Jepara dan Provinsi Jawa Tengah. Keseluruhan lembaga dan organisasi berada dalam komando BPBD Grobogan untuk penanggulangan bencana. Sebanyak hampir 500 personil berada di lokasi hingga sekarang. Menurut penuturan Darsono, Kepala Sie Logistik Basarnas, banjir disebabkan jebolnya tanggul di Sungai Cabean yang terletak di dekat kedua desa. Ditambah datangnya kiriman air banjir dari wilayah lebih tinggi yaitu Salatiga dan Ungaran makin memperparah kondisi. “Banjir sendiri sudah mulai tanggal 26 April lalu namun dalam taraf aman. Daerah paling parah itu dusun Kendalsari yang sudah terisolir sejak Jumat malam.”
Terkait logistik, pihaknya bersama stakeholder terkait sudah menyediakan berbagai bahan kebutuhan pokok. Pengolahan konsumsi dilakukan di dapur umum yang tersebar di kedua desa. “Untuk tiga hari kedepan masih cukup. Belum tahu jika lebih dari itu. Tapi kami tetap stay disini sampai banjir benar-benar surut.” Menurutnya, kawasan bencana ini berbentuk cekungan. Hal itu membuat air susah untuk mencari jalan keluar. Tentunya ketinggian air akan terus stagnan untuk beberapa hari kedepan. “Jadi airnya kejebak ditengah-tengah gitu. Kita hanya bisa menunggu proses alamiah air terserap oleh tanah,” jelas Darsono. [caption id="attachment_36242" align="alignnone" width="640"]
Ratusan rumah warga terendam akibat kiriman air dari wilayah ungaran dan Salatiga[/caption] Saat ini, ratusan warga membutuhkan uluran tangan bantuan seperti makanan higienis dan pakaian. Rata-rata dari mereka hanya sempat menyelamatkan barang-barang sekenanya saja. Sehingga kebutuhan pokok seperti baju dan selimut sangat dinantikan. (Yusuf IH)
Syahir yang sehari-hari berprofesi sebagai petani harus pasrah melihat ladang jagung miliknya hancur terendam air. Menurutnya, banjir di Dusun Tajemsari merupakan banjir tahunan. Meski begitu, banjir kali ini adalah yang terparah dibanding tahun-tahun sebelumnya. “Ndak parah gimana mas, yang di tengah desa rumahnya sudah terendam sampai genteng kok,” ujarnya saat mengantar berkeliling desa. Banjir menerjang hampir 90% keseluruhan dukuh di Desa Tajemsari dan Karangpasar. Menurut data dari pemerintah Kecamatan Tegowanu, wilayah yang terendam ialah Dusun Kendalsari, Dusun Mlangi, Dusun Krajan di Desa Tajemsari dengan jumlah 2.855 jiwa. Kemudian menyusul Dusun Kalisari di dalam Desa Karangpasar dengan jumlah 1.950 jiwa. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah mengingat total wilayah pertanian terkena imbas banjir mencapai 253 hektar. Itu belum termasuk kerugian di sektor rumah dan barang-barang elektronik yang terendam. [caption id="attachment_36236" align="alignnone" width="640"]
Warga terpaksa mengungsi ketempat lebih tinggi agar terhindar dari banjir[/caption] Berdasarkan pantauan obsessionnews.com, tinggi genangan air di keseluruhan wilayah bahkan sudah mencapai 3 meter terutama di sisi utara. Sebagian besar warga sudah mengungsi ke desa lain dan tenda darurat. Namun ada juga warga yang nekat bertahan di kediamannya. Rofiq, warga Kendalsari masih bertahan untuk menjaga harta benda dan rumah. Memang, di malam hari kondisi di seluruh desa sangatlah sepi karena banyak warga yang mengungsi. “Saya tetap disini mas. Njagani (menjaga) barang-barang. Soale sepi banget, mas,” tuturnya, Sabtu (02/05). Banyak ternak warga seperti angsa dan bebek yang tidak bisa diselamatkan harus ditinggal begitu saja. Persoalan lain ialah mereka merasa lebih nyaman berada di rumah sendiri ketimbang harus tidur di tenda pengungsian. [caption id="attachment_36238" align="alignnone" width="640"]
Lokasi bencana yang sulit diakses membuat banyakrl relawan dan lembaga pemerintah harus bekerja extra keras untuk mengevakuasi warga serta mendirikan dapur umum[/caption] Pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi wilayah bencana. Mereka bersinergi dengan para relawan seperti Dinas Sosial Tagana Jateng, PMI Grobogan, TNI, Pramuka, Badan SAR Nasional (Basarnas), RAPI dan tentu saja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan, Kudus, Jepara dan Provinsi Jawa Tengah. Keseluruhan lembaga dan organisasi berada dalam komando BPBD Grobogan untuk penanggulangan bencana. Sebanyak hampir 500 personil berada di lokasi hingga sekarang. Menurut penuturan Darsono, Kepala Sie Logistik Basarnas, banjir disebabkan jebolnya tanggul di Sungai Cabean yang terletak di dekat kedua desa. Ditambah datangnya kiriman air banjir dari wilayah lebih tinggi yaitu Salatiga dan Ungaran makin memperparah kondisi. “Banjir sendiri sudah mulai tanggal 26 April lalu namun dalam taraf aman. Daerah paling parah itu dusun Kendalsari yang sudah terisolir sejak Jumat malam.”
Terkait logistik, pihaknya bersama stakeholder terkait sudah menyediakan berbagai bahan kebutuhan pokok. Pengolahan konsumsi dilakukan di dapur umum yang tersebar di kedua desa. “Untuk tiga hari kedepan masih cukup. Belum tahu jika lebih dari itu. Tapi kami tetap stay disini sampai banjir benar-benar surut.” Menurutnya, kawasan bencana ini berbentuk cekungan. Hal itu membuat air susah untuk mencari jalan keluar. Tentunya ketinggian air akan terus stagnan untuk beberapa hari kedepan. “Jadi airnya kejebak ditengah-tengah gitu. Kita hanya bisa menunggu proses alamiah air terserap oleh tanah,” jelas Darsono. [caption id="attachment_36242" align="alignnone" width="640"]
Ratusan rumah warga terendam akibat kiriman air dari wilayah ungaran dan Salatiga[/caption] Saat ini, ratusan warga membutuhkan uluran tangan bantuan seperti makanan higienis dan pakaian. Rata-rata dari mereka hanya sempat menyelamatkan barang-barang sekenanya saja. Sehingga kebutuhan pokok seperti baju dan selimut sangat dinantikan. (Yusuf IH) 




























