Bangun Gedung Baru DPR, Kurang Peka Nasib Rakyat

Bangun Gedung Baru DPR, Kurang Peka Nasib Rakyat
Bandung, Obsessionnews - Terkait rencana pengadaan gedung baru DPR RI, pihak legislatif (parlemen) dan eksekutif (pemerintah) dinilai kurang peka terhadap nasib rakyat yang kini banyak menderita akibat kenaikan harga-harga dan lainnya. Demikian ditegaskan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Dr Arry Bainus MA, Selasa (28/4/2015).  "Saya merasa sedih setelah beberapa waktu lalu pengadaan mobil dinas yang di setujui presiden, saat ini kembali berkembang wacana pengadaan gedung baru bagi lesgislatif," paparnya. Meski usuluan tersebut datang dari legislatif, tapi tetap eksekutornya eksekutif.  Apalagi dikaitkan dengan infrastruktur, seperti pendidikan dan kesehatan untuk rakyat yang jauh dari wajar. Rakyat sebenarnya tidak mampu berbuat banyak dan seharusnya legislatif yang harus mampu mengontrol dan memberikan perbaikan untuk infrastruktur tersebut. Di sisi lain, lanjutnya, pakaian dan jas anggota dewan yang cukup mahal, sehingga pakaian itu menurut Arry seharusnya digalakan kembali pakaian batik yang tidak mahal. Sensitivitas anggota legislatif dinilai sudah hilang "Saya malu ngomongnya juga, ditengah kekurangan dan kemiskinan masyarakat," tandas Arry. Gedung dan bentuk bangunan DPR saat ini sudah ikon nasional yang dibangun Ir. Soekarno dan Silaban, tidak perlu lagi membangun yang baru. Apakah sudah semua anggota DPR diajak bicara tentang persetujuan mereka terhadap gedung baru itu, jangan-jangan tidak semua anggota legislatif menyetujuinya. "Dulu kan sudah ditolak tentang pembangunan itu, kenapa sekarang di-acc (disetujui) pembangunan itu," ungkapnya. Anggota legislatif masih menunjukan sikap yang jauh dari keinginan rakyat. "Masa' datang mengunjungi rakyat dengan menggunakan mobil mewah? Mana empatinya terhadap rakyat?" ujarnya mempertanyakan. Seharusnya, tegas dia, banyaknya infrastruktur yang minim termasuk pendidikan dan kesehatan didahulukan setelah semua kebutuhan rakyat terpenuhi, baru memikirkan gedung. Contoh masih adanya jembatan gantung di Jawa Barat yang dilewati anak-anak sekolah dengan resiko maut sangat memprihatinkan. "Mau apa dimewahin dengan meniru Amerika tentang perpustakaan di gedung dewan," bebernya. Dr ari Bainus Ia pun meminta, prioritaskan anak-anak kita dulu dan jangan berpikir hanya untuk pembangunan gedung yang cukup mewah. Kita harus banyak mengontrol tentang keinginan legislatif yang kurang sensitiv ini, dengan banyak mengontrol lewat media dan juga mengkritisi mereka. "Jeritan rakyat saat ini sangat banyak, kesedihan ini semoga didengar oleh elit diatas, namun kayaknya sampai nangis darah pun mereka tidak akan mendengarkan", ujarnya. Yang paling mudah saat ini adalah bagaimana caranya untuk pemilihan mendatang kita benar-benar memilih wakil rakyat yang sensitiv terhadap keinginan rakyat. Sehingga kita kedepan harus melahirkan sistem politik yang tidak dableg dan mampu memikirkan keinginan masyarakat tentunya apabila hal ini terjadi akan bermanfaat bagi generasi mendatang. "Ke depannya kita harus memilih wakil yang terbaik agar rakyat sejahtera," tegas dia. "Kita harus mampu memunculkan orang-orang terbaik bukan dari partai politik, contohnya dari independen, sehingga meskipun pemilu juga perlu, tapi coba munculkan orang-orang terbaik dari non partai, sehingga marilah bersama-sama perbaiki sistem kita sehingga mampu melahirkan pemimpin yang terbaik," tambahnya. Selain itu, tutur dia, harus banyak ruang publik untuk dapat memunculkan kritik dan perbaikan mekanisme untuk menunjang perbaikan tersebut, namun masyarakat juga harus tetap optimis. "Masyarakat jangan mau lagi menerima money politik, sehingga akan memunculkan pemimpin yang mampu membawa perubahan dan kesejahteraan masyarakat," jelas Arry. (Dudy Supriyadi)