Bergulir Wacana NU Dipimpin Direktur

Bergulir Wacana NU Dipimpin Direktur
Surabaya, Obsessionnews - Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-33 Nahdllatul Ulama (NU) di Jombang Agustus 2015, sejumlah tokoh NU sangat berharap pengelolaan organisasi secara lebih modern. Menurut Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi MA, pola kepemimpinan berbasis kharisma seorang kiai seperti yang selama ini diterapkan lambat laun mulau tidak sesuai dengan perkembangan zaman. “Zaman berganti, harus ada distribusi power,” katanya, Senin (20/4/2015). Pada awalnya, kata Masdar, NU dikelola seperti halnya sebuah pesantren karena organisasi kemasyarakatan dengan jumlah pengikut terbanyak itu bisa dilogikan sebagai pesantren besar. Layaknya pola kepemimpinan pesantren, kiai pemegang kuasa di NU punya otoritas sangat besar. “Dulu seorang rais'aam NU itu luar biasa. Semua sami'na wa ato'na, tidak ada yang berani membantah ucapannya,” katanya. Namun seiring perkembangan zaman, pola kepemimpinan absolut dan tradisional semacam itu mulai kurang cocok diterapkan untuk organisasi dengan basis massa yang besar. Terlebih NU telah ditinggalkan kiai-kiai kharismatik seperti KH Hasyim As'ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang bagi Masdar, tatarannya telah mencapai kemaksuman. “Alam sudah tidak melahirkan lagi kiai-kiai sebesar beliau-beliau,” katanya. Karena itu, Masdar setuju bila NU mulai luwes dalam mengelola organisasinya. Ia punya gagasan pemimpin NU tidak harus kiai, namun seorang direktur. Masdar membandingkan dengan kemunculan pesantren-pesantren modern yang dijalankan oleh seorang direktur dan ternyata sukses. “Pendidikannya jalan, santrinya banyak,” katanya. Meski demikian, kata Masdar, doktrin-doktrin yang bersifat dasariah dan esensial tetap harus dipertahankan. Misalnya, soal ajaran ahlus sunah wal jamaah dan Khittah Nu 1926 yang selama ini menjadi pegangan organisasi. “Ini tantangan-tantangan ke depan yang harus dihadapi NU, karena evolusi itu hukum besi” pungkasnya. (GA Semeru)