Daerah Antik yang Rawan Longsor

Daerah Antik yang Rawan LongsorOleh: Indra Permanajati ST MT Brebes, Obsessionnews - Daerah Ciregol yang tepatnya di Desa Kutamandala, Kecamatan Tonjong, Brebes, Jawa Tengah merupakan daerah yang menjadi area rawan longsor. Hampir tiap tahun terutama di musim penghujan daerah ini sering terkena longsor. Lokasi yang sangat rawan longsor adalah di km 115+50 sampai 115+900, tepatnya di Desa Kutamandala. Daerah ini sangat menarik dan antik karena wilayah ini diapit oleh dua sungai besar yaitu Sungai Glagah dan Sungai Pedas, dalam istilah geologi disebut sebagai morfologi pelana (saddle structure), yang secara alamiah merupakan daerah yang rawan longsor karena proses alam bisa menyebabkan dua sungai ini menyatu. Kedua sungai tersebut berbentuk meandering yang berkelok-kelok, sehingga beberapa sisi kelokan sungai menggerus tepian jalan atau biasa disebut erosi tebing sungai (under cut slope). Kondisi inilah yang ikut mendukung terjadi longsoran di jalan Ciregol, tetapi melihat kondisi demikian bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi, dengan teknologi tentu kondisi alam bisa diketahui dan dapat dicari solusinya. Tetapi memang setiap lokasi mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Longsoran yang terjadi hari sabtu kemarin, merupakan area yang menjadi jalur mahkota longsoran yang kebetulan memotong jalan umum. Sebenarnya mahkota longsoran bisa berkembang dimana saja terutama di daerah rawan longsor, kebetulan di daerah Ciregol jalur tersebut memotong jalan umum. Dari kajian geologi teknik beberapa faktor menjadi penyebab utama longsoran di daerah Ciregol yaitu jalan yang dekat tebing sungai yang terjal dengan ketinggian sekitar 50 – 70 m, erosi pinggir sungai yang kuat, batuan yang secara alamiah mendukung longsoran yaitu endapan breksi laharik muda yang menumpang di atas batuan lempung formasi Tapak. Kemudian ada faktor yang ikut mendukung mempercepat longsoran yaitu kegiatan pengambilan tanah didekat bahu jalan untuk pembuatan batu bata. Kalau faktor alam sebenarnya berbeda-beda tingkat kerawanannya dan kesulitannya dalam pencegahannya, tetapi usaha yang dilakukan tentu akan mengurangi tingkat kerawanan bencana. Seperti di daerah Ciregol penanganan longsor sudah baik artinya penanganan cepat ditangani dan langsung dikoordinasikan kesemua pihak yang terkait seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera), Polres, dan sebagainya. Hal ini sebagai indikator adanya kemajuan dalam penanganan bencana. Memang masalah yang harus terus difikirkan pihak-pihak terkait adalah penanganan jangka panjang. Melihat faktor alam yang demikian seperti daerah Ciregol tentu langkah teknik dapat dilakukan dengan mengamati faktor yang menjadi penyebab utama longsoran, tetapi untuk daerah seperti Ciregol memang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Langkah pencegahan tidak mudah dilakukan dan membutuhkan biaya yang tinggi. Seperti pengaturan intensitas dan jalur arus air supaya tidak menggerus lereng, pengaturan geometri lereng dan beban lereng bagian atas, struktur penahan lereng yang kuat, dan sebagainya. Kegiatan pencegahan longsor harus menjadi agenda penting bagi institusi-institusi universitas dan lembaga riset lainnya untuk pengembangan teknologi pencegahan longsor yang efektif dan efisien. Dinas-dinas terkait harus terus didukung oleh lembaga-lembaga pengembang penelitan tersebut. Kemudian masyarakat dihimbau untuk tidak melakukan penambangan di area dekat bahu jalan, karena akan mengganggu kestabilan jalan. Sepertinya menjadi tugas pemerintah dan dinas terkait untuk melakukan pendekatan ke masyarakat. [#] *) Indra Permanajati ST MT - Kandidat Doktor Teknik Geologi ITB Bandung. Ahli Bidang Geologi Longsor dan Geologi Teknik.





























