Inilah Enam Fakta di Balik Letusan Tambora

Semarang, Obsessionnews - Tanggal 10 April 2015 lalu diperingati sebagai hari bersejarah bagi masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat. Bagaimana tidak, sebuah letusan maha dahsyat pernah terjadi di sebuah gunung yang terletak di wilayah ini. Gunung Tambora, yang berarti “mengajak menghilang”, meletus dua ratus tahun lalu dan berdampak tidak hanya Indonesia, namun dunia. Ingin tahu lain fakta dibalik eksotisme gunung Tambora? Simak penelusuran obsessionnews.com berikut ini. 1. Pernah Menjadi Tertinggi Kedua di Indonesia Siapa sangka gunung Tambora pernah menyandang gelar tertinggi di Indonesia setelah Gunung Jayawijaya. Sebelum meledak, gunung Tambora memiliki tinggi 4.300 meter diatas permukaan laut (mdpl) bersaing dengan Jayawijaya yang mempunyai ketinggian 4.884 mdpl. Hal ini disebabkan zona subduksi dibawah gunung sehingga meningkatkan jarak puncak ke tepi laut. Setelah meletus di bulan April tahun 1815, ketinggian Tambora menyusut menjadi 2.850 mdpl dengan 20 kawah yang masih aktif menghasilkan lava basal. 2. Erupsi Terbesar dalam 10.000 Tahun Terakhir Peristiwa letusan Tambora di tahun 1815 memang terbilang sangat besar. Hampir 50 kubik magma dilepaskan selama ledakan. Tak pelak kaldera di atas Tambora runtuh, meratakan 30 kubik bagian gunung dan membentuk kaldera baru dengan lebar 6 kilometer serta kedalaman 1.250 meter. Tinggi erupsi dikatakan mampu mencapai lapisan stratosfer dan menghalangi sinar matahari dengan kandungan sulfur oksida. 3. Tahun Tanpa Musim Panas Dampak letusan Tambora mampu mempengaruhi stabilitas iklim dunia pada saat itu. Di belahan Eropa dan Amerika musim tidak dapat diprediksi. Hasil pertanian hancur total selama tahun 1816. Asap dan debu Tambora yang meledak di awal April 1815 menutup sinar matahari. Sejarah mencatat banyak bencana kelaparan akibat musim panas yang tetap bersuhu dingin. Bahkan Presiden Amerika, Thomas Jefferson harus berhenti menjabat dan kembali menjadi petani karena gagal panen berkelanjutan yang menggiringnya kepada hutang. 4. Menginspirasi Berbagai Penemuan Walaupun Tambora telah merenggut ribuan nyawa, ternyata dari bencana tersebut lahir beberapa penemuan. Novel terkenal, Frankenstein karya Mary Shelley tercipta ketika ia dan temannya terpaksa bertahan di dalam hotel di Swiss akibat hujan debu. Kurangnya gandum membuat banyak kuda mati. Hal ini menginspirasi Karl Drais, penemu asal Jerman membuat draisine atau velocipede. “Mesin Berjalan” ini kelak menjadi cikal bakal sepeda masa kini. 5. Menyapu Habis 3 Kerajaan Kerajaan di Bima terdiri dari Kerajaan Sanggar, Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Ketiga kerajaan yang sebelumnya memiliki ribuan warga tersapu habis akibat letusan. Bahkan seluruh anggota kerajaan Tambora tewas karena dilanda banjir lahar. Bagaimana tidak letusan Tambora mampu terdengar hingga ke pulau Bangka yang berjarak 1500 kilometer. Jumlah korban belum terhitung berasal dari luar Nusa Tenggara Barat. Gempa dan gelombang pasang setinggi 6 kaki membuat daerah disekelilingnya ikut menanggung dampak. Setelah Tambora meledak, sisa dua kerajaan yakni Tambora dan Pekat menjadi bagian Kesultanan Dompu. Tentu saja, mengingat seluruh masyarakat kedua kerajaan tersebut telah meninggal. 6. Kekalahan Napoleon Akibat Letusan Pertempuran Waterloo, atau lebih dikenal pertempuran terakhir Napoleon Bonaparte kepada negara lawan harus berakhir menyedihkan. Hujan badai dan dinginnya suhu di musim panas membuat pasukan Napoleon terjebak lumpur. Pasukan darat serta kavaleri tidak bisa menggunakan meriam secara efektif sehingga menurut Napoleon Society hal ini dianggap akibat dari letusan gunung sejauh ribuan kilometer dari lokasi peperangan. (Yusuf IH)





























