Jika Rupiah Diatas Rp13.000 Bisa Pengaruhi Psikologi Pasar

Semarang, Obsessionnews - Rupiah yang di awal tahun 2015 semakin terombang-ambing lantaran mengikuti arus pasar membuat harga berbagai macam bahan pokok meroket. Tercatat angka Rp13.000 per dollar AS ditembus lantaran pemerintah melepas nilai rupiah. Tentu di benak warga negara terpikir apakah rupiah dapat berjaya seperti dahulu kala? Pakar ekonomi dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Prof FX Sugiyanto menjelaskan kepada obsessionnews.com perihal gonjang-ganjing rupiah di sela-sela dia sedang mengajar di Undip, Rabu (8/4). "Angka Rp13.000 ini masih aman tapi wajib dijaga betul jangan sampai cepat naik, karena hal itu akan mempengaruhi psikologi pasar terutama para trader," tuturnya. Berikut petikan wawancara obsessionnews.com dengan Prof Sugiyanto. Menurut Bapak apakah dollar dapat menurun hingga titik rendah, katakanlah Rp 5000 per dollar AS?Ndak mungkin itu. Kecuali rupiahnya diganti mata uang lain baru bisa. Yang menentukan harga rupiah terhadap kurs itu tergantung banyak variabel kekuatan ekonomi dari pendapatannya (negara). Kemudian porsi ekonomi dari negara lain, jadi tidak mungkin itu rupiah bisa jadi serendah Rp5.000/dollar. Ada ekonom yang berpendapat ia bisa membuat nilai rupiah menjadi setara dengan Rp 1 per dollarAS, mungkinkah itu?Orak biso (tidak bisa), dengan kondisi sekarang ini orak biso (tidak bisa). Biarkan aja dia. Dia kan dengan asumsi tidak realistis. Porsi ekonomi rupiah terhadap dollar itu kan hanya sepersekian. Hampir tidak mungkin. Ya kemungkinan 1 persen lah. Kalau begitu berapa nilai rupiah yang ideal Prof ? Kalau ideal sekarang dengan kondisi seperti ini ya sekitar Rp12.800 sampai Rp13.000 itu. Jadi kalau ideal sampai Rp5.000 per dollar itu ilusi menurut saya. Jika dollar naik akan menambah ekonomi Indonesia, benarkah itu? Ingat, di sisi yang sama impor kita juga naik. Jadi, masalahnya apakah kenaikan itu menyebabkan selisih ekspor impor lebih besar atau lebih kecil. Dan jangan lupa bahwa sekitar 25% kebutuhan industri di Indonesia masih impor. Sehingga kalau dollarnya naik terus nanti pengeluaran impor juga jadi mahal. Lantas bagaimanakah cara menurunkan dollar? Sebenarnya ada banyak hal. Yang paling penting ekspor kita. Tetapi sebetulnya ekspor kita belum cukup kuat walaupun sudah cukup membaik. Kuncinya ekspor impor non minyak. Kuncinya ada di ekspor non migas. Tentunya infrastruktur juga sangat terkait agar biaya produksi industri dan ekspor impor bisa berkurang. Perlukah kita khawatir? Sebenarnya kalau terlalu tinggi juga mengkhawatirkan. Angka Rp13.000 ini masih aman tapi wajib dijaga betul jangan sampai cepat naik, karena hal itu akan mempengaruhi psikologi pasar terutama para trader. (Yusuf IH)





























