Pesona Tugu Khatulistiwa

Pesona Tugu Khatulistiwa
Pontianak, Obsessionnews - Siang itu terasa panas sekali. Saking panasnya badan ini rasanya tidak betah dan ingin segera mandi. Suhu panas tersebut bukan berasal dari pabrik-pabrik pengolahan barang, tetapi berasal dari teriknya matahari. Terik matahari tersebut berada di atas kepala, bila kita berdiri tegak seperti tidak ada bayangan. Terik panas matahari yang begitu dekat bahkan sampai tersasa kedalam rumah terasa sangat panas. Kipas angin selalu berputar di setiap rumah, tetapi hawa panasnya masih belum bisa hilang. Bahkan tidak bisa membayangkan apabila kita berada di luar rumah. [caption id="attachment_28979" align="alignnone" width="300"]Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono aktif mempromosikan Tugu Khatulistiwa untuk menjaring wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono aktif mempromosikan Tugu Khatulistiwa untuk menjaring wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara[/caption] Edi Rusdi Kamtono bersama pengungjung Dari wisatawan mancanegara di Tugu Khatulistiwa Baru-baru ini Terik matahari tersebut biasa dirasakan di Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Maret dan September setiap tahunnya. Maklum Pontianak mendapat julukan sebagai kota panas di Indonesia, karena kota ini dilintasi garis khatulistiwa. Tentu Anda ingin mengetahui lebih dalam informasi tentang khatulistiwa dan mengapa fenomena itu bisa terjadi, bukan? Sejarah Tugu Khatulistiwa Tugu Khatulistiwa di Pontianak dibangun pada 1928 oleh tim Exspedisi Geograpi Internasional secara astronomi yang dipimpin oleh seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Artinya, pengukuran yang mereka lakukan tanpa mempergunakan alat yang canggih seperti satelit. Mereka hanya berpatokan pada garis yang tidak smooth (garis yang tidak rata/ bergelombang), serta berpatokan benda-benda alam seperti rasi bintang (ilmu falaq). Tugu Khatulistiwa yang asli terbuat dari kayu belian (kayu besi atau kayu ulin) yang terdiri dari empat tonggak. Dua tonggak bagian depan berketinggian 3,05 meter dari permukaan tanah, dan 2 tonggak bagian belakang berketinggian 4,40 meter dari permukaan tanah. Keterangan simbol berupa anak panah menunjukkan arah utara - selatan (lintang 0`derajat). Keterangan simbol berupa flat lingkaran yang bertuliskan EVENAAR (Bahasa Belanda) yang artinya khatulistiwa, menunjukkan belahan garis khatulistiwa atau batas utara dan selatan. Sedangkan plat di bawah arah panah ditulis 109°20’0”0LvGR, artinya garis khatulistiwa di Pontianak bertepatan dengan 109° garis bujur timur 20 menit 00 detik GMT. Tugu khatulistiwa mempunyai beberapa tahap penyempurnaan yang dimulai dari tahun 1928, yaitu tahun 1930 yang disempurnakan adalah tonggak, lingkaran dan tanda panah. Tahun 1938 lingkaran disempurnakan lagi oleh arsitek Silaban. Pada 1990-1991 dibangun duplikat atau replika Tugu Khatulistiwa dan bangunan pelindung yang dibangun secara permanen berbentuk kubah dan diresmikan pada 21 September 1991 oleh Gubenur Kalbar Parjoko Suryo Kusomo. Garis khatulistiwa membentang melingkari tengah dan membelah bumi menjadi dua belahan yang sama , yaitu belahan utara dan belahan selatan. Garis khatulistiwa melewati beberapa kota di Kalbar, yakni Sekadau, Nanga Dedai, dan beberapa provinsi di Indonesia, yakni Sumatera Barat (Sumbar), Riau, Kalimantan Tengah (Kalteng), Kalimantan Timur (Kaltim), Sulawesi Tengah (Sulteng), Maluku, dan Papua. Selain itu juga garis khatulistiwa tersebut melintasi lima negara di Afrika, yakni Gabon, Zaire, Uganda, Kenya dan Somalia. Di Amerika Latin, garis Khatulistiwa melintasi empat negara, yakni Equator, Peru, Colombia dan Brazil. Dalam kenyataannya bumi selain berputar pada sumbunya (rotasi), juga berevolusi mengelilingi Matahari dengan periode satu tahun (365 hari). Dengan adanya rotasi tersebut, maka terjadi siang dan malam, dan dengan adanya revolusi bumi, maka timbul perubahan musim. Dalam satu tahun matahari melintasi garis khatulistiwa sebanyak dua kali, yakni antara tanggal 21-23 Maret yang bergerak ke arah utara dan antara tanggal 21-23 September bergerak ke arah selatan. Kulminasi merupakan suatu kejadian, di mana matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada siang hari terjadi kulminasi atas, yaitu bila pusat matahari benar-benar berada di garis khatulistiwa. Sedangkan kulminasi bawah terjadi bila pusat matahari berada di garis bujur di balik belahan bumi utara dan selatan. Bagi kita yang berada di garis khatulistiwa, matahari akan tampak di atas kepala. Kulminasi atas terjadi sekitar tanggal 21-23 Maret dan tanggal 21-23 September. Titik balik selatan terjadi sekitar tanggal 21 Desember, dan titik balik utara terjadi sekitar tanggal 21 Juni. Titik perpotongan antara pusat matahari dengan garis khastulistiwa pada 21-23 Maret yang di sebut vermal equinox atau (awal musim semi). Untuk perpotongan yang terjadi pada tanggal 21-23 September disebut autum equinox (awal musim gugur). Pada Maret 2005 posisi Tugu Khatulistiwa dikoreksi kembali oleh tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berkerja sama dengan Pemerintah Kota Pontianak. Secara satelit, ternyata terdapat perbedaan ±117 m dari posisi yang asli ke arah selatan khatulistiwa. Perbedaan itu terjadi karena faktor akurasi alat dan cara yang dipergunakan pada waktu dulu dan sekarang. Menurut ahli geologi, bumi itu mengalami pergeseran secara alami sebanyak ± 1 mm, apalagi kalau terjadi gempa akan semakin besar pergeserannnya. Jadi perbedaan antara pengukuran astronomi (ilmu falaq) dan satelit tidaklah perlu diperdebatkan. Kita harus menghargai perbedaan dan jerih payah orang- orang terdahulu sebelum pengukuran secara satelit ditemukan. Yang harus kita lakukan sekarang adalah memelihara dan melestarikan aset yang sangat berharga ini agar tidak hilang dimakan zaman dan demi untuk generasi yang akan datang. Wisata Kota Hadirnya Tugu Khatulistiwa membawa daya tarik tersendiri sebagai ikon Pontianak. Tugu Khatulistiwa menjadi salah satu wisata kota yang patut dikunjungi oleh masyarakat Pontianak khususnya dan wisatawan dari daerah lain. Walaupun terasa cukup panas, wisata ini sungguh menarik perhatian masyarakat. Jarak tempuh untuk menuju ke Tugu Khatulistiwa sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda motor dan hampir sejam dengan naik mobil atau bus pariwisata. Bisa juga naik kapal pariwisata yang memakan waktu 45 menit ke daerah tersebut. [caption id="attachment_28978" align="alignnone" width="300"]Suhartini, Direktur Dompet Ummat Kalbar Suhartini, Direktur Dompet Ummat Kalbar[/caption] Kapal wisata tersebut dimulai pengoperasiannya pada akhir 2013 yang digagas oleh lembaga sosial, Dompet Ummat. Kapal wisata tersebut dikelola oleh warga masyarakat Kampung Beting, Kecamatan Pontianak timur. Kampung Beting dikenal sebagai pusat transaksi dan pengedaran narkoba terbesar di Kalbar. “Karenanya Dompet Ummat melakukan pemberdayaan masyarakat Kampung Beting supaya tidak ada stigma yang negatif tentang mereka,” ujar Suhartini, Direktur Dompet Ummat Kalbar Kepada obsessionnews.com, Kamis (26/3). Tini, sapaan akrabnya, mengungkapkan, dulu hanya terdapat tiga kapal wisata, sedangkan sekarang terdapat 15 kapal. Secara terpisah Wakil Walikota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, penataan Pontianak menjadi fokus Pemkot Pontianak dalam satu periode ini. “Kami berupaya membuat sebanyak-banyaknya tempat-tempat wisata kreasi keluarga di setiap kecamatan di Pontianak,” katanya kepada obsessionnews.com, Kamis (26/3). Menurut Edi, Tugu Khatulistiwa merupakan objek wisata andalan Pontianak. Karenanya di tahun 2015 Pemkot Pontianak sudah melakukan kesepakatan dengan pihak swasta untuk pengembangan kawasan Tugu Khatulistiwa menjadi pusat rekreasi terbesar di Kalbar. “Untuk pembebasan lahan sudah dilakukan pada 2014 yang lalu, dan tahun ini segera memulai pengerjaannya pada Juni. Alokasi dananya sudah siap,” tuturnya. Fasilitas pengembangan Tugu Khatulistiwa yang akan dibangun meliputi planetarium, hotel bintang lima, kawasan rekreasi keluarga, water boom, pusat olah raga, pusat kerajinan, oleh-oleh khas Kalbar, dan dermaga untuk kapal wisata. “Kita bisa melihat ciri khas dari kota yang dilintasi garis khatulistiwa, seperti halnya Pontianak yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi setiap tahunnya. Kemudian suhu dan temperatur yang sangat tinggi dan sinar matahari yang menyinari secara terus- menerus sepanjang masa,” ucapnya. Keunikan yang lain dari pesona titik kulminasi Tugu Khatulistiwa yang terjadi pada Maret dan September setiap tahunnya adalah pengunjung bisa mencoba menegakkan telur ayam. “Telur ayam tersebut disiapkan pihak pengelola Tugu Khatulistiwa agar para pengunjung bisa mencoba menegakkannya. Konon, siapapun yang bisa menegakkan telur bisa awet muda selama satu tahun,” papar Edi. Penasaran dengan pesona titik kulminasi atau lebih dikenal dengan berdiri tanpa bayangan di Tugu Khatulistiwa? Menarik, bukan? Tunggu apalagi. Segera jadualkan pada September nanti untuk berkunjung ke Pontianak. (Ahmad Saufi)