MER-C Kunjungi 55 Nelayan Indonesia yang Ditahan di Myanmar

MER-C Kunjungi 55 Nelayan Indonesia yang Ditahan di Myanmar
Jakarta, Obsessionnews - Tim ke-2 MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) yang mendatangi Myanmar juga mengunjungi nelayan Indonesia yang saat ini ditahan di rumah tahanan di Yangon. Kunjungan dilakukan pada Rabu (25/2), satu hari sebelum kepulangan Tim ke Jakarta. “Nelayan Indonesia yang berjumlah 55 orang ditahan otoritas Myanmar karena melanggar batas wilayah perairan Myanmar. Sudah satu tahun lebih para nelayan ini ditahan dan KBRI di Yangon tengah mengupayakan pembebasan mereka,” ungkap Laporan Misi Kemanusiaan ke-2 MER-C ke Myanmar, yang dikirimkan ke redaksi Obsessionnews.com, Senin (16/3/2015). Kunjungan ini dimungkinkan setelah Kedubes RI di Yangon memfasilitasi izin bagi Tim MER-C. Awalnya Tim MER-C berharap dapat melakukan juga pemeriksaan kesehatan kepada para nelayan asal Indonesia tersebut. Namun ternyata hal ini belum memungkinkan karena diperlukan waktu lebih lama untuk pengurusan izin pemeriksaan kesehatan. Rabu (25/2), sekitar pukul 2 siang Tim MER-C didampingi staf KBRI Yangon menuju lokasi penahanan 55 nelayan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Tim MER-C juga membawa bantuan berupa 70 paket tikar dan kaos kaki yang akan dibagikan kepada para nelayan. Sekitar satu jam, Tim MER-C yang diketuai dr. Meaty Fransisca bertemu dan berbincang dengan para nelayan asal Indonesia tersebut. “Sebenarnya para nelayan tersebut tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar batas perairan,” ujar dr. Meaty yang telah dua kali mengikuti Misi Kemanusiaan MER-C ke Myanmar. “Kami turut prihatin dan berharap Pemerintah Indonesia melalui KBRI Yangon dapat segera membantu proses pembebasan para nelayan ini,” lanjutnya. Dr. Meaty juga menambahkan, pada pertemuan tersebut para nelayan meminta bantuan buku-buku bacaan berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan mereka.  “Bahan bacaan sangat diperlukan untuk mengisi waktu selama dalam tahanan. Sudah setahun lebih ini mereka tidak menemukan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Selama dalam tahanan juga nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan. Apabila hal ini terus berlanjut mereka khawatir bisa menjadi stress,” ungkapnya. Untuk itu, usai kepulangan Tim dari Myanmar, MER-C langsung mengirimkan satu paket buku-buku melalui staf Kemenlu RI yang akan berangkat ke Myanmar. Menurut info dari KBRI Yangon, paket buku-buku tersebut sudah diterima oleh para nelayan Indonesia di Yangon. Sebelumnya, Tim MER-C sudah menyalurkan bantuan kepada korban konflik dan pengungsi di Rakhine State, Myanmar pada 16 – 26 Februari 2015 lalu berupa 1 unit ambulans, 2 unit genset, paket makanan dan 200 paket sprei, sarung bantal guling serta selimut untuk melengkapi sarana-sarana kesehatan di kamp pengungsian di Rakhine State, Myanmar. Berdasar Laporan Tim MER-C, meski sudah banyak perubahan yang terjadi pasca pembantaian Etnis Muslim di Myanmar, namun berdasarkan pengamatan Tim MER-C masih berlangsung permasalahan krusial, yaitu perlakukan diskriminatif terhadap warga muslim di Myanmar, tidak hanya warga muslim dari etnis Rohingya. Yakni, warga muslim di Myanmar menghadapi masalah stateless. Sampai dengan saat ini mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka tidak mempunyai kartu identitas penduduk tetap yang menjadi hak setiap warga negara. Hal ini menyebabkan warga muslim misalnya tidak dapat membuat paspor, anak-anak yang lulus sekolah tidak bisa mendapat ijazah sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan lain sebagainya. (Asma)