Tampilan Rumah Ong Hari Wahyu Mirip Trowulan

Bantul, Obsessionnews - Rileksasi, sesuatu yang selalu diharapkan Ong Hari Wahyu, visual art Indonesia ini pada bangunan yang ditempatinya hingga sekarang. Bentuk limasanlah yang dirasa unik dan menarik baginya. Pembangunannya penuh perjuangan dan terkonsep dengan apa yang dibayangkan. Awalnya saat Ong kuliah dulu, masih dalam sistem kontrak. Sewa tanah selama 10 tahun pun dijalaninya. Mencari dan membangun rumah yang unik itulah inspirasinya. Lama-kelamaan, ia membeli tanah seharga Rp 600 ribu pada waktu itu. Sambil jalan, proses membangun rumah yang sederhana dan nyaman juga berestetika apik ini ia nikmati. [caption id="attachment_26644" align="alignnone" width="300"]
Bagian dalam rumah[/caption] [caption id="attachment_26645" align="alignnone" width="300"]
Kolam ikan[/caption] Pria yang akrab dipanggil Mas Ong ini menuturkan, rumah yang dibangunnya di atas tanah seluas 500 meter persegi pada 1996. Saat itu pelan-pelan ia rancang hingga menjadi sekarang ini. “Dulunya tidak seperti ini. Saya menemukan apa saat saya jalan saya tambal atau saya letakkan sebagai pelengkap bangunan ini,” ujarnya kepada obsessionnews.com beberapa waktu lalu. Baginya, rumah yang kini didiaminya seolah-olah ibu kandungnya sendiri. Dia membangun rumah unik di Nitiprayan RT 04/RW 20 Nomor 136, Ngestiharjo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ong begitu mengidolakan seorang ibu. Ketika pulang ke rumah seperti pulang ke rumah ibu. Rumahnya juga dirawat seperti ibu agar tetap cantik. [caption id="attachment_26646" align="alignnone" width="300"]
Ong Hari Wahyu[/caption] Dalam membangun rumahnya, Ong tetap menggunakan bahan-bahan material lokal. Paling tidak berasal dari sekitar rumahnya saja. Agar alamiah, Ong memakai kayu-kayu bekas dan batu bata merah. Tak hanya itu, bagian pagar dan pintu rumahnya pun dirancang sedemikian rupa agar tetap melambangkan rumah yang ada di kampung-kampung. Seperti pagar dan atap pendoponya terbuat dari bambu. Desain Madura dan Jawa ia campuradukkan ke dalam bangunan rumahnya. Lonceng kayu di atas kolam misalnya, ia dapatkan saat pergi ke luar kota maupun ke luar negeri. Jika benda itu unik dan menarik, ia langsung membawanya pulang. Batas-batas ruangan ia hilangkan. Menurutnya, rumah tak sekadar fashion tapi juga sebagai fungsi. Pendopo yang berada di teras depan digunakannya jika banyak teman yang sering datang mengunjunginya. Spirit orang Jawa, kata dia, mangan ora mangan ngumpul, los saja. Di setiap bagian rumahnnya bisa digunakan untuk kumpul. Intinya tak dibatasi oleh bangunan itu sendiri. Ingin tidur dan makan di mana saja bisa. Sebagai unsur atmosfer yang tenang, beberapa lonceng kayu dikumpulkan hingga terdapat bunyi-bunyian yang kalem. “Saya memang suka dengan barang-barang antik. Terlebih barang-barang lama dan kuno saya koleksi. Sampai lonceng kayu juga saya fungsikan,” ceritanya. Bangunan seluas 270 meter ini menampilkan keindahan dan nilai tradisi yang tinggi. Dibuatnya seperti ini sebagai ke ruangan layout yang tak terbatas. Terdapat pendopo atau ruang tamu, dua kamar, studio tempatnya bekerja dan panggung kecil untuk melukis. Terdapat perpustakaan kecil. Buku-buku miliknya tertata rapi di perpustakaan itu. Kemudian ruang makan dan dapur seminimalis mungkin. Bagi Ong rumah adalah tempat rileksasi. Rumah untuk tatanan hidup formal tak ada dalam bayangannya. Seperti dipaksa oleh bentuk bangunan. Terlebih, jika dibatasi dengan ruang-ruang tertentu. Beberapa pintu gapura kecil mirip museum arkeologi di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pun ia masukkan ke dalamnya. “Pintu seperti Trowulan itu kan sangat menarik. Selain sebagai penyangga, juga menggunakan batu bata yang ditumpuk-tumpuk mirip kraton jaman dahulu,” terang lelaki yang juga sebagai perancang produksi film Soegija ini. Untuk pagar, bagi art director film Daun Di Atas Bantal ini, sebagai penutup jika ingin leluasa di pendopo. Fungsi pagar menurutnya sangat penting. Dari batu bata ditumpuk-tumpuk saja tanpa net. Hanya saja tetap diberi sedikit campuran semen. “Tanah rumah ini kan tinggi. Ditumpuk itu menjadi alasan agar lebih kuat nantinya. Dengan ditanami pohon matoa, sirsak, dan manggis agar lebih hijau,” ucap pria kelahiran 22 Desember 1958 ini. Berkunjung ke rumah Ong disuguhkan berbagai barang unik dan antik. Memasuki pintu masuk disambut kolam ikan di sebelah kanan rumah. Dan pendopo yang cukup luas untuk bersantai dengan meja dan kursi kuno. “Semua adalah barang bekas tapi fungsional,” ungkap desaigner production film Ainun dan Habibie yang tayang Agustus 2012 lalu. Sebelah pendopo terdapat beberapa tanaman seperti pohon matoa, sirsak, dan manggis. Buah matoanya pun sudah pernah ia panen. Dibiarkannya tumbuh karena sejak lama ia tinggal di rumah itu tanaman-tanaman tersebut sudah dirawatnya. Kemudian di sebelah kanan pendopo terdapat studio kecil tempat ia bekerja. Di dalamnya juga ada perpustakaan kecil menyimpan banyak buku miliknya. Masuk ke ruangan dalam tentunya diperoleh perabot rumah yang sebagian besar merupakan barang-barang lama. Uniknya, seperti radio, jam, dan perabotan yang didapatkannya ketika jalan-jalan ke luar kota. Hingga peralatan makan seperti gelas dan piring masih menggunakan model tempo dulu. Lantainya pun termasuk barang lama. Ong membelinya dari pedagang yang ada di Semarang. Pemberian kolam ikan di depan pendopo dimaksudkan untuk menyuguhkan unsur air. Adanya nuansa air, rumah menjadi tidak panas. “Di dalam kolam ada ikan koi dan lain-lainnya. Unsur air itu juga sangat penting. Di mana ada air disitu orang pasti hidup,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kolam. (Nissa)
Bagian dalam rumah[/caption] [caption id="attachment_26645" align="alignnone" width="300"]
Kolam ikan[/caption] Pria yang akrab dipanggil Mas Ong ini menuturkan, rumah yang dibangunnya di atas tanah seluas 500 meter persegi pada 1996. Saat itu pelan-pelan ia rancang hingga menjadi sekarang ini. “Dulunya tidak seperti ini. Saya menemukan apa saat saya jalan saya tambal atau saya letakkan sebagai pelengkap bangunan ini,” ujarnya kepada obsessionnews.com beberapa waktu lalu. Baginya, rumah yang kini didiaminya seolah-olah ibu kandungnya sendiri. Dia membangun rumah unik di Nitiprayan RT 04/RW 20 Nomor 136, Ngestiharjo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ong begitu mengidolakan seorang ibu. Ketika pulang ke rumah seperti pulang ke rumah ibu. Rumahnya juga dirawat seperti ibu agar tetap cantik. [caption id="attachment_26646" align="alignnone" width="300"]
Ong Hari Wahyu[/caption] Dalam membangun rumahnya, Ong tetap menggunakan bahan-bahan material lokal. Paling tidak berasal dari sekitar rumahnya saja. Agar alamiah, Ong memakai kayu-kayu bekas dan batu bata merah. Tak hanya itu, bagian pagar dan pintu rumahnya pun dirancang sedemikian rupa agar tetap melambangkan rumah yang ada di kampung-kampung. Seperti pagar dan atap pendoponya terbuat dari bambu. Desain Madura dan Jawa ia campuradukkan ke dalam bangunan rumahnya. Lonceng kayu di atas kolam misalnya, ia dapatkan saat pergi ke luar kota maupun ke luar negeri. Jika benda itu unik dan menarik, ia langsung membawanya pulang. Batas-batas ruangan ia hilangkan. Menurutnya, rumah tak sekadar fashion tapi juga sebagai fungsi. Pendopo yang berada di teras depan digunakannya jika banyak teman yang sering datang mengunjunginya. Spirit orang Jawa, kata dia, mangan ora mangan ngumpul, los saja. Di setiap bagian rumahnnya bisa digunakan untuk kumpul. Intinya tak dibatasi oleh bangunan itu sendiri. Ingin tidur dan makan di mana saja bisa. Sebagai unsur atmosfer yang tenang, beberapa lonceng kayu dikumpulkan hingga terdapat bunyi-bunyian yang kalem. “Saya memang suka dengan barang-barang antik. Terlebih barang-barang lama dan kuno saya koleksi. Sampai lonceng kayu juga saya fungsikan,” ceritanya. Bangunan seluas 270 meter ini menampilkan keindahan dan nilai tradisi yang tinggi. Dibuatnya seperti ini sebagai ke ruangan layout yang tak terbatas. Terdapat pendopo atau ruang tamu, dua kamar, studio tempatnya bekerja dan panggung kecil untuk melukis. Terdapat perpustakaan kecil. Buku-buku miliknya tertata rapi di perpustakaan itu. Kemudian ruang makan dan dapur seminimalis mungkin. Bagi Ong rumah adalah tempat rileksasi. Rumah untuk tatanan hidup formal tak ada dalam bayangannya. Seperti dipaksa oleh bentuk bangunan. Terlebih, jika dibatasi dengan ruang-ruang tertentu. Beberapa pintu gapura kecil mirip museum arkeologi di Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pun ia masukkan ke dalamnya. “Pintu seperti Trowulan itu kan sangat menarik. Selain sebagai penyangga, juga menggunakan batu bata yang ditumpuk-tumpuk mirip kraton jaman dahulu,” terang lelaki yang juga sebagai perancang produksi film Soegija ini. Untuk pagar, bagi art director film Daun Di Atas Bantal ini, sebagai penutup jika ingin leluasa di pendopo. Fungsi pagar menurutnya sangat penting. Dari batu bata ditumpuk-tumpuk saja tanpa net. Hanya saja tetap diberi sedikit campuran semen. “Tanah rumah ini kan tinggi. Ditumpuk itu menjadi alasan agar lebih kuat nantinya. Dengan ditanami pohon matoa, sirsak, dan manggis agar lebih hijau,” ucap pria kelahiran 22 Desember 1958 ini. Berkunjung ke rumah Ong disuguhkan berbagai barang unik dan antik. Memasuki pintu masuk disambut kolam ikan di sebelah kanan rumah. Dan pendopo yang cukup luas untuk bersantai dengan meja dan kursi kuno. “Semua adalah barang bekas tapi fungsional,” ungkap desaigner production film Ainun dan Habibie yang tayang Agustus 2012 lalu. Sebelah pendopo terdapat beberapa tanaman seperti pohon matoa, sirsak, dan manggis. Buah matoanya pun sudah pernah ia panen. Dibiarkannya tumbuh karena sejak lama ia tinggal di rumah itu tanaman-tanaman tersebut sudah dirawatnya. Kemudian di sebelah kanan pendopo terdapat studio kecil tempat ia bekerja. Di dalamnya juga ada perpustakaan kecil menyimpan banyak buku miliknya. Masuk ke ruangan dalam tentunya diperoleh perabot rumah yang sebagian besar merupakan barang-barang lama. Uniknya, seperti radio, jam, dan perabotan yang didapatkannya ketika jalan-jalan ke luar kota. Hingga peralatan makan seperti gelas dan piring masih menggunakan model tempo dulu. Lantainya pun termasuk barang lama. Ong membelinya dari pedagang yang ada di Semarang. Pemberian kolam ikan di depan pendopo dimaksudkan untuk menyuguhkan unsur air. Adanya nuansa air, rumah menjadi tidak panas. “Di dalam kolam ada ikan koi dan lain-lainnya. Unsur air itu juga sangat penting. Di mana ada air disitu orang pasti hidup,” ujarnya sambil menunjuk ke arah kolam. (Nissa) 




























