Musim Tanam Mundur, Sebabkan Harga Beras Naik

Subang, Obsessionnews– Lantaran musim tanam padi mundur di Subang, Jawa Barat, menyebabkan harga beras di sana, naik tajam. Lantaran produksi beras sedikit, pedagang terpaksa harus mendatangkan dari Kudus, Demak, dan Sragen. Menurut Iin, salah satu pedagang beras di Pasar Subang, Jumat (27/2/2015), melonjaknya harga beras merupakan rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir. "Harga beras biasanya dibawah Rp 9.000 sekarang menjadi lebih dari Rp 10.000. Ini mah bukan naik harga. Tapi pindah harga,” ujar Iin. Dia memperkirakan, penyebab kenaikan harga beras lantaran berkurangnya produksi beras. Disebabkan, musim tanamnya mundur. “Biasanya Januari - Februari panen raya di sini. Tapi, sekarang panen cuma sedikit. Sedangkan kebutuhan (beras) cukup tinggi,” ujarnya lagi. Untuk memenuhinya Iin sampai harus membeli beras dari Kudus, Demak dan Sragen. Harga yang diperoleh pun cukup tinggi berkisar antara Rp 10.200 – Rp 10.300 per kilogram. Berdasarkan pantuan di lapangan, harga beberapa jenis beras mengalami kenaikan cukup signifikan. Beras jenis Muncul I naik 23,76 persen dari Rp 10.100 per kilogram menjadi Rp 12.500 per kilogram, muncul II naik 31,87 persen dari Rp 9.100 menjadi Rp 11.200, dan Muncul III naik dari Rp 8.600 menjadi Rp 11 ribu per kilogram. Di kelas medium, beras IR64 I naik 18,52 persen dari Rp 9.450 menjadi 11.200 per kilogram, IR II naik 19,32 persen dari Rp 8.800 menjadi Rp 10.500 per kilogram, dan IR III naik dari Rp 8.200 menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan, Sub Divisi Regional Bulog Subang menyatakan apabila dibutuhkan siap melakukan operasi pasar. "Kami akan menyediakan seberapa kuat yang mereka minta. Namun, hingga kini kami belum menerima perintah Pemda Subang mengelar oprasi pasar." ujar Kepala Sub Divisi Regional (Divre) Badan Logistik (Bulog) Subang, Dedy Supriadi. Stok beras Bulog Subang, kata Dedy tersedia 13.000 ton. Stok tersebut bisa memenuhi kebutuhan untuk 6 bulan kedepan. Dedy tak khawatir karena panen raya akan dimulai pada Maret mendatang, sehingga Bulog bisa segera mengisi lagi gudang-gudangnya. “Kami segera menyerap beras secara maksimal saat itu, jadi kita sangat siap untuk mengelar oprasi pasar,” paparnya. (Teddy Widara)





























