Berkiprah dalam Dongeng Nusantara

Yogyakarta, Obsessionnews - Sebuah ide datang dari sebuah grup terbuka. Dengan berbasis kebudayaan dan kesenian, lalu terpikirkan untuk merancang bersama membuat suatu perkumpulan dengan sistem penggalian dongeng-dongeng Nusantara.
Komunitas ini berdiri pada 2011 lalu. Sebut saja Folk Mataraman Institute (FMI). Komunitas yang dibentuk di Yogyakarta ini dipelopori Encik Krisna, Ong Hari Wahyu, Samuel Indratma, Bege, dan masih ada beberapa seniman lainnya. Tergabung ribuan anggota di dalamnya dari seluruh Indonesia. Tidak hanya para seniman saja yang bergelut di bidang ini, namun ada juga pelukis, musisi, desainer, dokter, dan lain-lain.
FMI berawal dari berkumpulnya Encik Krisna dan teman-temannya di jejaring sosial. Dari situlah kemudian terbentuk komunitas yang bertujuan tak bisa dianggap remeh. Walau kadang-kadang bisa disebut komunitas longgar, karena aktivitas apapun dilakukan di dalam komunitas ini.
“Programnya sederhana, yaitu menciptakan dongeng yang dishare lewat online digital. Program membuat album dongeng untuk anak-anak. Menyumbangkannya kemudian dibaca dan direkam. Diberikan kepada orang tua anak-anak tersebut, bahwa anaknya pun bisa memberikan dongeng baru dengan eksperimen baru. Serta dongeng-dongeng tersebut bisa diputar untuk anak sebagai pengiring tidur,” ujar Samuel.
Program untuk anak-anak tersebut merupakan bagian dari edukasi. Selain itu, FMI juga memiliki program tur keliling yang sering disebut sititur yang diambil dari nama city tour. Dengan kendaraan roda tiga melihat seni dan budaya yang berada di Yogyakarta. Misalnya saja Tamansari, lanjut Samuel, dengan adanya program ini, anak-anak bisa berwisata di sini dengan diberi dongeng-dongeng yang hampir mirip kisah aslinya.
“Misalnya dongeng anak memancing, diceritakan bagaimana memancing itu. Ikan apa yang dipancing. Tapi ada sedikit perbedaan cerita memancing pada umumnya dengan diberi cerita yang sedikit gurauan. Intinya seselo-selonya mendongengkan dengan kisah yang sama, tapi ada sedikit tawa canda di dalamnya,” ucapnya.
Untuk arahnya, FMI menginginkan praktisi muda juga ikut andil dalam program semacam ini. FMI tampil dan muncul untuk melestarikan kesenian dan kebudayaan Jawa khususnya. Dengan beberapa program tersebut, muncullah kreativitas bekerja untuk berkesenian.
“Kebetulan di sini juga banyak senimannya yang dapat berbagi ilmu. Cara berpikirnya pun secara organik. Memposisikan kelompok ini untuk tujuan pengetahuan. Seperti sititur tadi, jika ada yang ingin berwisata ke Yogyakarta, dengan FMI bisa diberi dongeng seputar tempat apa yang dikunjungi,” terangnya.
Selain itu dalam bidang musik, Encik Krisna membuat komuniti label musik. Banyak orang yang mendukung program ini. Bisa untuk launching album, rekaman, dan belajar alat musik, seperti biola dan gitar.
Di balik programnya ini, FMI ingin berekspresi saja. Tidak harus ada beban jika ingin masuk ke dalam kelompok ini. Jaringan komunitas pun mendukung. Berkonsep spirit dan terbuka, semua terjadi secara spontan.
“Ide lahirnya komunitas muncul dari banyak orang. Dongeng-dongeng yang ada masih terkait cerita asli tapi diselingi tawa canda agar lebih menarik. Hanya bercanda tapi ya bisa jadi benar juga,” tambah Ong.
Potensi-potensi bisa digali, lanjut Ong, menggali lebih dalam kreativitas seseorang dalam hidupnya. Bermanfaat untuk orang lain, mengapa tidak? Dongeng-dongeng baru pun berhasil dibuat seperti Bunda Menyanyi, dan Senandung Nyonyah. Menceritakannya pun harus gembira.
Selain itu, juga ada pembacaan puisi, seni rupa, teater, dan musik. “Terakhir kami mendirikan sebuah sekolah atau bisa dibilang taman bermain di daerah Kalasan untuk pengembangan edukasi seperti ekstrakulikuler. Dari usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA. Sempat beberapa kali bertukar program,” pungkas Encik Krisna. (Nissa)





























