PMI Pontianak Kekurangan Darah

Pontianak, Obsessionnews - Kebutuhan darah di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sangat tinggi, apalagi dengan banyaknya kasus demam berdarah yang melanda daerah ini. Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Pontianak bekerja semaksimal mungkin untuk memenuhi permintaan masyarakat. “Stok darah di PMI sering kosong. Hal itu disebabkan minimnya kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darahnya ssecara suka rela,” ungkap Direktur UUD PMI Pontianak dr. Darmanelly kepada obsessionnews.com di ruang kerjanya, Selasa (17/2) siang. Kebutuhan darah di Pontianak mecapai 1.200 kantong per bulan, sedangkan stoknya hanya 50%. 1.200 kantong darah dibagi untuk 17 rumah sakit dan 2 bank darah di rumah sakit. Menurut Darmanelly, persoalan paling berat yang dihadapi PM adalah mengajak orang untuk mendonorkan darahnya secara suka rela. "Kami gencar melakukan donor darah di kampus, pusat perbelanjaan, dan instansi pemerintah dalam upaya mengatasi kekosongan pasokan darah,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang, tahun 1988, ini. Jenis darah yang harus dipersiapkan PMI untuk memenuhi permintaan dari rumah sakit yakni whole blood dan komponen darah. Komponen darah ini ada dua macam yakni komponen seluler dan komponen non seluler. Komponen seluler terdiri dari darah merah, trombosit pekat, dan leukosit pekat. Untuk kasus demam berdarah diperlukan komponen darah seluler trombosit pekat yang hanya bertahan 5 hari setelah darah disadap. Hal ini berbeda dengan darah merah yang bertahan hingga 14 hari dan whole blood yang bisa bertahan hingga 35 hari. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan trombosit diperlukan pendonor yang baru menyumbangkan darahnya. Hingga saat ini PM terus berupaya memperbaiki sistem pencatatan dan pelaporan untuk mengetahui semua darah yang masuk dan keluar. “Selama ini ada anggapan di masyarakat PMI menjual darah, padahal itu benar. Itu hanya dilakukan oknum yang tidak bertanggung jawab dengan meminta bayaran,” ujar wanita yang meraih titel magister dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) tahun 2000 ini Setiap kantong darah yang masuk diregistrasi dan diproses. Hal ini dilakukan untuk memastikan hanya darah yang sehat dan aman yang boleh dikeluarkan. “Pengeluaran darah pun tidak boleh sembarangan, harus berdasarkan surat permintaan dari rumah sakit, sehingga tidak terjadi kebocoran di PMI,” tutur dokter kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, 15 Juni 1962, ini. Darmanelly yang menjadi Direktur UDD PMI Pontianak sejak 7 oktober 2014 lalu terus berupaya melakukan beberapa terobosan dan sosialisasi secara berkala kepada kelompok masyarakat, komunitas pemuda dan kalangan pelajar/mahasiswa dalam upaya meningkatkan pasokan darah di Kota ini. “Sebagai bentuk dari upaya masyarakat yang suka rela mendonorkan darahnya secara berkala tiga bulan sekali, PMI akan memberikan penghargaan kepada mereka,” cetusnya. Untuk 10 kali mendonor mendapat penghargaan dari Direktur UUD PMI Pontianak, 25 kali mendonor mendapat penghargaan dari Walikota Pontianak, dan 50-75 kali mendonor mendapat penghargaan dari Gubernur Kalbar. “Sedangkan yang 100 kali mendonor mendapat penghargaan dari Presiden RI dan diundang ke Istana Presiden untuk menerima hadiah cincin emas,” ujarnya. (Ahmad Saufi)





























