“Tape Ketan 38” Pas untuk Oleh-oleh ke Luar Negeri

Magelang, obsessionnews.com - Makanan khas Indonesia yang satu ini memang tak pernah pudar keberadaannya. Olahan hasil fermentasi dari bahan pangan berkarbohidrat seperti beras ketan ini tampaknya sangat berarti bagi pebisnis asal Magelang, Jawa Tengah, Widodo. Ya, pria ini seorang pembuat tape ketan hijau yang cukup terkenal di Magelang dengan produk “Tape Ketan 38”. Usaha yang dilakoninya bermula dari tetangganya yang juga pembuat tape saat ia masih tinggal di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pada tahun 1990, Widodo memulai usaha ini dibantu oleh isterinya. Berbahan baku beras ketan 2-3 kilogram per harinya pada waktu itu, Widodo menjajakan tape ketan hijau yang dibungkus daun pisang atau daun jambu. Saat tinggal di Banjarmasin ia menjualnya dengan bungkusan daun pisang dan berkeliling kampung. Dari warung ke warung maupun dari kantin ke kantin. Hanya menitipkan tape ketan yang tak seberapa jumlahnya. “Pada tahun 1990 saya memulai usaha ini dengan istri saya. Waktu itu di Banjarmasin saya menempati rumah kontrakan. Ya gimana caranya sampai mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga pada saat itu,” terangnya pada obsessionnews.com, Senin (2/2/2015) pagi. Lantas tak henti-hentinya Widodo berusaha agar usahanya ini bisa berkembang. Tahun 1994 Widodo pindah ke Magelang, karena dia sejatinya adalah pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah rumah sakit jiwa di Magelang. Widodo masih tetap ingin mempertahankan usaha yang dijalaninya sewaktu di Banjarmasin. Prosesnya pun hampir satu tahun Widodo mencoba membuat tape ketan dalam jumlah besar. Yang biasanya hanya 2-3 kilogram per hari menjadi 150 kemasan kini mencapai 50-75 kilogram. Apalagi saat Lebaran dengan permintaan yang lebih banyak pernah mencapai 600 kilogram hingga 1 ton menjadi ribuan kemasan. Widodo tak mudah putus asa begitu saja. Ia memasukkan produknya ke kantin, toko oleh-oleh, pusat perbelanjaan, dan hampir semua toko. Sampai sekarang Widodo terus mengembangkan usahanya. Mengapa tape? Karena baginya tape itu manis sehingga banyak peminatnya. Diberi nama “Tape Ketan 38” karena nomor rumah saat tinggal di Banjarmasin adalah 38. Dan hingga sekarang Widodo tetap mempertahankan nama 38 pada produknya. Awal “Tape Ketan 38” diproduksi dengan modal Rp 150 ribu. Widodo menuturkan, di rumah yang juga sebagai tempat produksi, Perum Depkes Blok D/8 nomor 23, kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, ini dengan dibantu empat pegawainya bisa beromset Rp 60 juta – Rp 70 juta per bulan. Proses pembuatannya tak mudah. Pemilihan bahan baku beras ketan yang berkualitas baik juga menjadi pedomannya. Pertama, beras ketan direndam lalu dibilas dan dikukus selama satu jam. Kemudian diberi pewarna makanan berwarna hijau yang menjadi ciri khasnya, ditiriskan selama satu jam juga sampai warnanya menyatu. Terakhir beras ketan diberi ragi tape dan kemudian dikemas. Untuk harganya bermacam-macam. Ukuran plastik 450 gram dihargai Rp 9.000. Ukuran plastik 1 kilogram dihargai Rp 17.500. Kemasan cup 400 gram dibandrol harga Rp 11.000. Kemasan cup 750 gram dihargai Rp 19.500. Sementara kemasan cup 1 kilogram dihargai Rp 23.000. Masih terjangkau bukan? Untuk pemasaran tape ketan saat ini hampir semua toko oleh-oleh di Magelang dan sebagian Yogyakarta. Bahkan ke luar kota hampir seluruh Indonesia juga ke luar negeri. “Untuk oleh-oleh sudah sampai Palembang, Riau, dan luar negeri. Memang tape ketan ini pas untuk oleh-oleh ke luar negeri,” ujar bapak dua anak ini. Limbah dari tape ketan juga bermanfaat. Leri dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman dan limbah tape bisa untuk makan ikan. “Jadi limbah tape tidak dibuang begitu saja. Tapi bisa dimanfaatkan untuk yang lain,” pungkasnya. (Anissa Nurul Kurniasari)





























