Didominasi Usaha Mikro, Kredit BRI Tumbuh 13,88 Persen

Didominasi Usaha Mikro, Kredit BRI Tumbuh 13,88 Persen
Jakarta - Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat penyaluran keridit sepanjang tahun 2014 mengalami peningkatan hingga 13,88 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Porsi terbesar dari pencapaian tersebut masih didominasi oleh bisnis mikro dengan fokus pada Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sementara kredit di segmen korporasi diutamakan penyalurannya kepada bisnis yang memiliki trickle down bussines terhadap UMKM.‬ “Dengan itu kami mampu mempertahankan posisi sebagai bank nasional yang fokus kepada segmen UMKM,” kata pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama BRI Asmawi Syam saat pemaparan kinerja keuangan triwulan IV-2014 di gedung Bank BRI, Jakarta, Senin (26/1/2015). Dikatakan, porsi pinjaman mikro BRI tahun ini telah mencapai 31,25 persen dari total pinjaman Bank BRI dengan komposisi nasabah yang sebanyak 7,3 juta nasabah. Sedang secara year on year (yoy), pinjaman mikro BRI tumbuh sebesar 16 persen jika dibandingkan pada pertumbuhan tahun sebelumnya. Sementara itu tingkat rasio kredit bermasalah (NPL) gross BRI masih berada di level 1,69 persen dengan persentase NPL mikro BRI pada 1,12 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa BRI tetap menjaga kesehatan penyaluran kredit. “NPL mikro BRI yang terjaga pada angka 1,12 persen ini merupakan indikator produktif, bahwa pertumbuhan kredit BRI mikro tetap diimbangi dengan kualitas kredit yang baik,” ujar dia, Lebih lanjut dia juga mengatakan bahwa sepanjang tahun ini penerimaan dari Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan adanya peningkatan yang cukup banyak. Secara rinci disebutkan bahwa penghimpunan DPK telah mencapai Rp600,40 triliun, atau tumbuh 23,45 persen jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya mencapai sebesar Rp486,37 triliun. Hal tersebut menyebabkan rasio kredit terhadap DPK tercatat sebesar 81,68 persen di akhir 2014, dimana angka tersebut menunjukkan fungsi financial intermediary BRI masih berjalan dengan optimal. Dengan pencapaian tersebut, ditambah dengan penambahan unit jaringan kerja perseroan, Asmawi optimistis aset dan laba BRI ditahun ini akan tumbuh lebih tinggi dari pada tahun 2014. “Indikatornya, kinerja 2014 adalah hasil kinerja 2013. Tahun 2013 jaringan kerja konvensional BRI ada 9.800 dengan Lalu di 2014 ada 10392 yang baru akan terlihat dampaknya di tahun 2015. Jadi jika jaringan kerja kita bertambah otomotis akan naik juga pertumbuhan kita,” ujar dia. Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan ditahun ini juga akan ditopang dengan adanya peningkatan jumlah jaringan e-channel. “Berarti tahun depan akan lebih tinggi karena e-channel kita itu bertambah,” terang dia. Sebagai informasi, sepanjang tahun 2014 BRI mencatat peraihan laba bersih sebesar Rp 24,20 triliun. Raihan tersebut meningkat 14,35 persen dibandingkan 2013 sebesar Rp 21,16 triliun. Menurut Asmawi, pertumbuhan tersebut telah menghasilkan earning per share (EPS) sebesar Rp981 per lembar saham di akhir 2014, lebih tinggi dari perolehan ditahun 2013 yang hanya mencapai Rp 858 per lembar saham. (Kukuh Budiman)