Wisatawan Mancanegara Berburu Batu Akik di Pasar Dargo

Semarang – Batu akik atau disebut juga batu mulia akhir-akhir ini bak jamur di musim hujan, menjalar di sela-sela perekonomian masyarakat Indonesia. Hingga kini booming adanya batu akik tersebut mulai terasa di berbagai kota besar di Indonesia, termasuk di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Sebagai pusat berkumpulnya para pedagang batu akik di Semarang, menjadikan Pasar Dargo yang terletak di Jalan Dr. Cipto, Semarang Tengah, ini sering dikunjungi para pemburu batu akik. Pedagang di wilayah ini dulunya berjualan di Pasar Kartini, namun sejak adanya relokasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang pada Desember 2014 lalu, seluruh pedagang batu akik pun berpindah lapak ke Pasar Dargo. Para pedagang menyetujui dan mendukung relokasi tersebut karena mereka memang menginginkan adanya Semarang Gems Centre atau sentra batu akik melalui Pasar Dargo. [caption id="attachment_20070" align="alignnone" width="300"]
Salah satu sudut Pasar Dargo yang rencananya akan dijadikan sentra batu mulia dan permata (Semarang Gems Centre)[/caption] Keriuhan para penjual dan pembeli sudah dimulai sejak pukul sembilan pagi hingga empat sore. Hampir tiap hari transaksi jual beli batu akik dilakukan oleh para penggemar batu akik di bagian bawah pasar. Pengunjungnya pun tidak hanya warga lokal, tapi juga masyarakat dari luar daerah, bahkan wisatawan mancanegara pun datang kemari untuk berburu batu akik. Tentu saja sebagai pasar batu akik terbesar se-Jateng Pasar Dargo tak ayal menjadi magnet tersendiri bagi para pecintanya. [caption id="attachment_20073" align="alignnone" width="300"]
Margono salah seorang penjual batu akik[/caption] Di pasar ini diperdagangkan berbagai macam batu akik. Mulai dari batu bacan yang banyak diburu para kolektor karena warnanya yang dapat berubah-ubah, atau batu Kalimaya yang berasal dari Banten yang terkenal di kalangan turis mancanegara, hingga permata pun diperjualbelikan di Pasar Dargo. Harga yang ditawarkan pun bervariasi dari yang paling murah Rp 50.000 hingga yang berharga ratusan juta rupiah. Seperti yang dijelaskan oleh Margono (47), salah seorang pedagang batu akik di pasar ini. “Harganya bervariasi. Ada yang murah banget. Biasanya harga Rp 50.000 sudah dapet. Tapi kalau yang kualitas top bisa sampai Rp 100 juta lebih,” ujarnya kepada Obsessionnews.com, Sabtu (24/1). [caption id="attachment_20074" align="alignnone" width="300"]
Seorang pelanggan sedang melihat lihat koleksi batu akik[/caption] Margono berdagang batu akik semenjak lima tahun yang lalu. Dia menjelaskan batu akik tidak mudah terpengaruh oleh naik turunnya perekonomian di masyarakat. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk berjualan batu akik karena stabilnya harga di pasaran. Para pedagang di sini rata-rata berburu batu akik hingga ke luar Jawa untuk mencari batu dengan kualitas prima. Untuk mendapatkan batu akik dengan kualitas tinggi dibutuhkan kejelian agar dapat melihat keaslian dan kualitas batu tersebut. Akan tetapi tidak jarang juga ada orang yang menitipkan batu di lapak para pedagang untuk dijual kembali. “Kami mencari barang sampai ke Jakarta dan Banten. Ada juga pelanggan yang udah bosen sama batunya dititipkan ke kami untuk dijual kembali,” terang Margono Tingkat tinggi rendahnya harga dari sebuah batu akik dapat dinilai dari kekerasan dan warna serta carat dari batu. Untuk permata metode menilai harga batu dapat dilihat dari tinggi rendahnya carat. Semakin tinggi carat, maka semakin mahal harga permata tersebut. Sedangkan untuk batu lain seperti bacan bisa dihargai melalui kejernihan warna dan corak warna. Rata-rata yang dicari para penghobi adalah corak warna yang unik dan kehalusan dari batu yang membuat harga dari sebuah batu akik menjadi selangit. Dengan merebaknya tren batu akik, tidak menutup kemungkinan banyaknya batu akik palsu yang beredar di pasaran. Bahkan adanya para pemalsu batu ini kian meresahkan peminat batu akik yang tertipu oleh mereka. Untuk mencegah hal tersebut Margono menyarankan agar membeli di toko yang sudah dapat dipercaya dan mempunya banyak langganan. “Banyak batu palsu. Makanya baiknya beli di toko atau lapak yang emang pamornya udah gede. Jadi terjamin keasliannya,” tuturnya. Ada beberapa cara untuk membedakan asli atau palsu dari sebuah batu akik. Salah satunya adalah dengan membakar batu tersebut. Jika berasal dari plastik maka otomatis batu tersebut akan hangat dalam waktu cukup lama, sedangkan bila asli maka batu akan segera menjadi dingin suhunya. Sedangkan cara lain ialah dengan menyorot batu dengan senter sehingga terlihat serat-serat batu yang menandakan keaslian dari batu tersebut. Mardoko menyarankan agar penilaian batu dengan cara dibakar diserahkan kepada yang ahli karena berisiko dapat merusak keindahan batu. “Kalau cara paling mudah disorot itu mas. Kalau kelihatan seratnya kemungkinan besar asli karena batu alam itu pasti punya serat-serat di dalamnya,” pungkasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)
Salah satu sudut Pasar Dargo yang rencananya akan dijadikan sentra batu mulia dan permata (Semarang Gems Centre)[/caption] Keriuhan para penjual dan pembeli sudah dimulai sejak pukul sembilan pagi hingga empat sore. Hampir tiap hari transaksi jual beli batu akik dilakukan oleh para penggemar batu akik di bagian bawah pasar. Pengunjungnya pun tidak hanya warga lokal, tapi juga masyarakat dari luar daerah, bahkan wisatawan mancanegara pun datang kemari untuk berburu batu akik. Tentu saja sebagai pasar batu akik terbesar se-Jateng Pasar Dargo tak ayal menjadi magnet tersendiri bagi para pecintanya. [caption id="attachment_20073" align="alignnone" width="300"]
Margono salah seorang penjual batu akik[/caption] Di pasar ini diperdagangkan berbagai macam batu akik. Mulai dari batu bacan yang banyak diburu para kolektor karena warnanya yang dapat berubah-ubah, atau batu Kalimaya yang berasal dari Banten yang terkenal di kalangan turis mancanegara, hingga permata pun diperjualbelikan di Pasar Dargo. Harga yang ditawarkan pun bervariasi dari yang paling murah Rp 50.000 hingga yang berharga ratusan juta rupiah. Seperti yang dijelaskan oleh Margono (47), salah seorang pedagang batu akik di pasar ini. “Harganya bervariasi. Ada yang murah banget. Biasanya harga Rp 50.000 sudah dapet. Tapi kalau yang kualitas top bisa sampai Rp 100 juta lebih,” ujarnya kepada Obsessionnews.com, Sabtu (24/1). [caption id="attachment_20074" align="alignnone" width="300"]
Seorang pelanggan sedang melihat lihat koleksi batu akik[/caption] Margono berdagang batu akik semenjak lima tahun yang lalu. Dia menjelaskan batu akik tidak mudah terpengaruh oleh naik turunnya perekonomian di masyarakat. Oleh karena itulah dia akhirnya memutuskan untuk berjualan batu akik karena stabilnya harga di pasaran. Para pedagang di sini rata-rata berburu batu akik hingga ke luar Jawa untuk mencari batu dengan kualitas prima. Untuk mendapatkan batu akik dengan kualitas tinggi dibutuhkan kejelian agar dapat melihat keaslian dan kualitas batu tersebut. Akan tetapi tidak jarang juga ada orang yang menitipkan batu di lapak para pedagang untuk dijual kembali. “Kami mencari barang sampai ke Jakarta dan Banten. Ada juga pelanggan yang udah bosen sama batunya dititipkan ke kami untuk dijual kembali,” terang Margono Tingkat tinggi rendahnya harga dari sebuah batu akik dapat dinilai dari kekerasan dan warna serta carat dari batu. Untuk permata metode menilai harga batu dapat dilihat dari tinggi rendahnya carat. Semakin tinggi carat, maka semakin mahal harga permata tersebut. Sedangkan untuk batu lain seperti bacan bisa dihargai melalui kejernihan warna dan corak warna. Rata-rata yang dicari para penghobi adalah corak warna yang unik dan kehalusan dari batu yang membuat harga dari sebuah batu akik menjadi selangit. Dengan merebaknya tren batu akik, tidak menutup kemungkinan banyaknya batu akik palsu yang beredar di pasaran. Bahkan adanya para pemalsu batu ini kian meresahkan peminat batu akik yang tertipu oleh mereka. Untuk mencegah hal tersebut Margono menyarankan agar membeli di toko yang sudah dapat dipercaya dan mempunya banyak langganan. “Banyak batu palsu. Makanya baiknya beli di toko atau lapak yang emang pamornya udah gede. Jadi terjamin keasliannya,” tuturnya. Ada beberapa cara untuk membedakan asli atau palsu dari sebuah batu akik. Salah satunya adalah dengan membakar batu tersebut. Jika berasal dari plastik maka otomatis batu tersebut akan hangat dalam waktu cukup lama, sedangkan bila asli maka batu akan segera menjadi dingin suhunya. Sedangkan cara lain ialah dengan menyorot batu dengan senter sehingga terlihat serat-serat batu yang menandakan keaslian dari batu tersebut. Mardoko menyarankan agar penilaian batu dengan cara dibakar diserahkan kepada yang ahli karena berisiko dapat merusak keindahan batu. “Kalau cara paling mudah disorot itu mas. Kalau kelihatan seratnya kemungkinan besar asli karena batu alam itu pasti punya serat-serat di dalamnya,” pungkasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)




























