BW: Aktif atau Non-Aktif, Tak Lagi Soal

Azan Subuh baru saja berkumandang ketika Toyota Kijang berwarna hijau metalik memasuki pelataran parkir yang sederhana di sebuah rumah di kawasan Kampung Bojong Lio, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat, Sabtu (24/1). Sosok yang menyita perhatian nasional sepanjang hari Jumat (23/1) turun dari mobil dengan senyum lebar disambut beberapa wartawan yang setia menunggu sejak petang sebelumnya. Dialah Wakil Ketua KPK Bambang Widjoyanto (BW) yang akhirnya bisa kembali ke rumahnya, setelah selama hampir 20 jam ditahan di Markas Bareskrim Polri, atas sangkaan kesaksian palsu. Meski senyumnya melebar dan sikapnya tetap ramah seperti biasa, BW tak mampu menyembunyikan kelelahan di wajahnya. Toh, ia tetap setia meladeni pertanyaan wartawan dan membiarkan keluarga kecilnya menunggu di teras rumah. Rasanya bagaimana Mas, setelah melalui salah satu hari yang mungkin paling melelahkan dalam hidup Anda? Obsessionnews membuka wawancara. "Seperti Anda lihat kan, saya masih segar, masih tersenyum. Di sana juga saya lebih banyak ngaji aja, ya sudahlah, serahkan sama yang di atas aja," ujarnya enteng, seraya meneruskan, "yang jelas hari ini saya mau banyakin tidur, maklum belum sempat istirahat." Berbagai pertanyaan pun terlontar dari rekan-rekan wartawan lainnya. Termasuk pertanyaan apakah ia masih berani mengantar anak ke sekolah (BW ditahan tim Bareskrim Polri saat mengantar anaknya ke sekolah). "Lho kenapa harus takut," kalimat enteng spontan kembali terlontar dari mulutnya. Obsessionnews mengajukan pertanyaan yang lebih serius, "Seandainya Presiden Jokowi menonaktifkan Anda sebagai pimpinan KPK, apa yang akan Anda lakukan?" "Tidak ada soal. Bagi saya, mau aktif atau non-aktif di KPK, itu bukan soal lagi. Apa yang terbaik bagi Negara, bagi KPK, dan bagi Presiden, saya ikut saja," tuturnya. Didesak seandainya benar Presiden menonaktifkan dirinya, apakah ia setuju jika pimpinan KPK lainnya membawa masalah itu hingga ke Mahkamah KOnstitusi, BW menegaskan ia akan mengikuti apapun keputusan KPK yang diambil secara kolektif kolegial. Sekadar catatan, pada September 2009 silam, dua pimpinan KPK Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah dinonaktifkan oleh Presiden SBY melalui Perppu, terkait status tersangka yang dilekatkan pada mereka oleh Polri. Keduanya lantas melakukan uji materil ke MK, dan MK mengabulkan. Keduanya pun kembali menjabat. BW menyadari bahwa risiko terbesar yang ia hadapi sebagai pimpinan KPK adalah kriminalisasi. Oleh sebab itu, sejak awal ia sudah mempesiapkan diri untuk kemungkinan itu, "Termasuk menyiapkan keluarga saya untuk hal itu," lanjutnya. Jamaah sholat Subuh terlihat sudah bersiap melaksanakan ibadah di masjid yang menempel dengan kediaman BW. Ia pun mohon pamit dan bergegas menuju teras rumah, disambut dekapan haru istri dan anak-anaknya. Meski ia menegaskan sudah menyiapkan diri dan keluarganya untuk kemungkinan terburuk, termasuk dipenjarakan, BW tak bisa menyembunyikan ekspresi keharuannya saat berkumpul kembali dengan keluarganya. Satu per satu anggota keluarga ikut menyambut haru. Sekali lagi BW meminta maaf kepada wartawan dan mohon pamit masuk untuk mengambil air wudhu, lalu bergegas menuju masjid. Sebuah rutinitas keseharian seorang manusia sederhana, yang kebetulan dipercaya menjadi salah satu ujung tombak pemberantasan penyakit menahun di negeri ini, korupsi. Andi Nursaiful





























