Bisnis Pakaian Olahraga Berprospek Cerah

Palembang – Bisnis pakaian dan alat-alat olah raga yang berhubungan dengan sepak bola diminati banyak orang di Indonesia, termasuk di Kota Palembang. M. Aditya Pratama menangkap peluang bisnis yang menarik ini. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, semester IV, ini berjualan pakaian dan alat-alat yang berkaitan dengan sepak bola ini sejak 2014. Aditya belum mempunyai toko. Ia berjualan secara online, dan cukup banyak konsumennya. [caption id="attachment_19927" align="alignnone" width="300"]
M. Aditya Pratama[/caption] Berbisnis pakaian dan alat-alat olah raga itu sesuai dengan hobinya. Sejak kecil Aditya gemar bermain sepak bola. Dalam pengamatannya sepak bola adalah olah raga yang paling populer di Indonesia, termasuk juga di Palembang. Dan seiring dengan hal itu banyak pengusaha yang berjualan pakaian dan alat-alat olah raga yang berhubungan dengan sepak bola, seperti sepatu, bola, kaos kaki, pin, dan lain sebagainya. Aditya merahasiakan modal awal ketika menekuni bisnis ini. Yang pasti, katanya, dari hasil penjualan pakaian dan alat-alat olah raga tersebut ia bisa memenuhi keperluannya sendiri, termasuk membiayai kuliah. “Saya tidak pernah lagi meminta uang kepada orang tua. Saya sudah bisa mandiri,” kata Aditya kepada Obsessionnews.com di rumahnya Jl. KH Ahmad Dahlan, Lorong Gubah No. 1494 RT 33/ RW 10, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, baru-baru ini. “Bisnis pakaian dan alat-alat olah raga yang berhubungan dengan sepak bola adalah bisnis yang menguntungkan, sebab banyak orang, terutama anak-anak muda, yang menyukainya. Bisnis ini mempunyai prospek yang bagus,” ujarnya. Dalam berbisnis Aditya menemukan orang-orang baru dari berbagai jenjang pendidikan, pekerjaan dan latar belakang yang berbeda-beda. Dengan demikian pergaulannya menjadi lebih luas. “Saya merasa bahagia ketika konsumen menyatakan kepuasannya dari segi pelayanan, harga, dan kualitas barang yang saya jual. Tapi di sisi lain terkadang ada konsumen yang kurang mengerti kualitas dan harga barang. Jadi, mereka menawar dengan harga yang benar-benar tidak masuk akal. Dan ada juga yang sudah banyak bertanya, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Saya dapat memaklumi, karena konsumen mempunyai watak yang berbeda-beda, tidak bisa di samakan satu dengan yang lain,” tuturnya. Pemuda kelahiran Palembang 21 Oktober 1995 ini berobsesi menjadi pengusaha sukses. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut Aditya harus bekerja ekstra keras. (Chief Hanif)
M. Aditya Pratama[/caption] Berbisnis pakaian dan alat-alat olah raga itu sesuai dengan hobinya. Sejak kecil Aditya gemar bermain sepak bola. Dalam pengamatannya sepak bola adalah olah raga yang paling populer di Indonesia, termasuk juga di Palembang. Dan seiring dengan hal itu banyak pengusaha yang berjualan pakaian dan alat-alat olah raga yang berhubungan dengan sepak bola, seperti sepatu, bola, kaos kaki, pin, dan lain sebagainya. Aditya merahasiakan modal awal ketika menekuni bisnis ini. Yang pasti, katanya, dari hasil penjualan pakaian dan alat-alat olah raga tersebut ia bisa memenuhi keperluannya sendiri, termasuk membiayai kuliah. “Saya tidak pernah lagi meminta uang kepada orang tua. Saya sudah bisa mandiri,” kata Aditya kepada Obsessionnews.com di rumahnya Jl. KH Ahmad Dahlan, Lorong Gubah No. 1494 RT 33/ RW 10, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, baru-baru ini. “Bisnis pakaian dan alat-alat olah raga yang berhubungan dengan sepak bola adalah bisnis yang menguntungkan, sebab banyak orang, terutama anak-anak muda, yang menyukainya. Bisnis ini mempunyai prospek yang bagus,” ujarnya. Dalam berbisnis Aditya menemukan orang-orang baru dari berbagai jenjang pendidikan, pekerjaan dan latar belakang yang berbeda-beda. Dengan demikian pergaulannya menjadi lebih luas. “Saya merasa bahagia ketika konsumen menyatakan kepuasannya dari segi pelayanan, harga, dan kualitas barang yang saya jual. Tapi di sisi lain terkadang ada konsumen yang kurang mengerti kualitas dan harga barang. Jadi, mereka menawar dengan harga yang benar-benar tidak masuk akal. Dan ada juga yang sudah banyak bertanya, tapi akhirnya tidak jadi membeli. Saya dapat memaklumi, karena konsumen mempunyai watak yang berbeda-beda, tidak bisa di samakan satu dengan yang lain,” tuturnya. Pemuda kelahiran Palembang 21 Oktober 1995 ini berobsesi menjadi pengusaha sukses. Untuk mewujudkan keinginannya tersebut Aditya harus bekerja ekstra keras. (Chief Hanif)




























