Komunitas Ini Peduli Kaum Pinggiran

Yogyakarta - Komunitas ini lahir dan besar di jalanan, namun memiliki konsep akan sosial yang tinggi. Terbentuklah nama komunitas Merkid’s. Dimana dengan menghimpun kegiatan sosial profesional yang non partisan. Berdirinya komunitas ini sempat menjadi pro kontra di Jogja. Dengan image yang dulunya dikenal negatif. Seperti arogan, anarkisme, maupun terlihat nakal di jalanan. Pelan-pelan komunitas Merkid’s mengubah image atau paradigma baru yang tadinya negatif menjadi positif di mata masyarakat. Dengan merangkul anggota baru untuk menjadi lebih baik. Beberapa kegiatan sosial pun telah dilakukannya untuk berbagi dengan sesama. Seperti tahun 2006, dengan menjadi relawan musibah gempa dan gunung Merapi. Membawa nama Merkids dipandang sebagian besar masyarakat peduli akan kehidupan sosial masyarakatnya. Awalnya Merkids sendiri berasal dari tempat tinggal saya kampung Mergangsan Timur daerah Taman Siswa. Dulunya Merkids dikenal nakal dan urakan. Berdiri pada tahun 1999 dengan image yang negatif di masyarakat. Namun, sejak tahun 2006 baru mulai eksis dan terjun ke bidang sosial, terang Hasannudin, ketua Merkids (22/1/2015) siang. Untuk kepedulian, Hasan yang akrab dipanggil Gepeng ini, mengatakan, intinya ada niat sosial peduli terhadap fakir, miskin, dan anak yatim piatu. "Seperti visi kami dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Selebihnya menyongsong esok raih kebersamaan. Serta misi kami yakni mari kita damai selamanya," paparnya. Merkids yang notabene beranggotakan 75 orang aktif dan simpatisan 600 orang dari berbagai divisi Merkids yang berada di Bantul, Gunungkidul, Klaten, dan Magelang. Komunitas ini yang dulunya identik dengan kriminal mengubah program sosial lebih baik. Menurut Doddy Tri Pamungkas alias Doddy Abu Sayaf, sekjend Merkids, menuturkan, sebenarnya tidak ada ciri khusus dari Merkids. Namun, komunitas ini lebih konsen ke arah pendidikan dan kehidupan kaum pinggiran terutama wilayah Jogja khususnya. Apalagi yang utama adalah fakir, miskin, dan anak yatim piatu. Orang-orang yang mereka rangkul adalah orang-orang atau masyarakat yang tidak tersentuh pemerintah karena minimnya pengetahuan mereka tentang birokrasi. Dan susahnya mendapatkan pengakuan sosial di masyarakat. Dengan tekad bulat, lanjut Doddy, Merkids berusaha membuatkan lapangan pekerjaan atau memberikan kegiatan positif bagi anak-anak alumni lembaga pemasyarakatan dan bekas kriminal yang sulit mendapatkan perkerjaan. Dengan seperti itu mereka alumni tadi tidak merasa dipandang sebelah mata oleh lingkungan sehingga merasakan yang namanya putus asa dan akhirnya tercebur kembali pada dunia kriminal karena tidak ada pilihan pekerjaan lain. Hasan juga mengatakan orang-orang seperti itulah yang perlu dikhususkan. "Perlu kita bantu agar mereka sadar akan kehidupan yang sebenarnya. Walau secara pelan-pelan mendidiknya, kita akan usahakan mereka menjadi manusia yang lebih baik lagi. Serta pekerjaan yang layak bagi mereka," tambahnya. Soal alumni tadi mereka titipkan ke beberapa rumah makan sebagai pelayan, SPBU, dan parkir di wilayah-wilayah Yogyakarta. Bahkan diikutkan teman-teman dari mereka yang memang memiliki usaha seperti EO, advertising, dan lainnya. Cara mendidiknya pun tidak mudah. Namun, pelan-pelan tentunya. Terutama dengan pendekatan agama, kekerabatan, dan masukan dari beberapa senior yang sudah mapan untuk memberikan masukan positif kepada mereka. "Kita juga menjalin komunikasi dengan ustadz dan pimpinan-pimpinan panti yang ada di Jogja. Kedepannya, agar bisa lebih terarah tujuan Merkids sebagai bentuk pengabdian kita yang bisa member sumbangsih solusi tentang penataan mental anggota kami," cerita dia. Rutin setiap tahunnya, kata Hasan, Merkids mengirimkan air bersih ke daerah-daerah yang kekurangan air di Kabupaten Gunungkidul. Dan setiap hari rabu sore diadakan pengajian rutin yang diisi oleh ustadz setempat. "Selain itu, bidang pendidikan, Merkids memang belum bisa maksimal memberikan dukungan lebih. Hanya saja Merkids baru bisa mengumpulkan dana untuk mendukung pendidikan formal seperti SPP atau pembelian keperluan sekolah. Sudah ada 20 anak yang kami bantu secara rutin," ujar Hasan. Bicara soal dana, kata Doddy, selama ini Merkids menghimpun dana dari iuran anggota yang mampu. Biasanya menyisihkan dari hasil pekerjaan masih-masing anggota. Dukungan dari beberapa alumni jalanan yang sudah sukses dan donator-donatur baik tetap maupun tidak tetap yang merasa pernah dibantu oleh komunitas ini. "Kita butuh pemikir-pemikir masa depan anak bangsa yang mungkin terlalu dipinggirkan karena sepak terjang masa lalu. Untuk itu, Merkids dari hati ingin mewujudkannya demi masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (Anissa Nurul Kurniasari)





























