Dampak Penurunan BBM, Inflasi Tahunan Bisa Turun

Jakarta - Kebijakan pemerintah untuk kembali menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) beberapa waktu yang lalu diperkirakan akan berdampak kepada penurunan laju inflasi tahun 2015. Hal tersebut disampaikan oleh analis CORE Indonesia, Mohammad Faisal, saat diskusi bersama media di Jakarta, Rabu (21/1/2015). Ia memprediksi, setelah pengumuman penurunan harga BBM, angka pencapaian invlasi pada tahun ini kemungkinan akan ada pada kisaran 5% sampai 6%. “Angka inflasi tahun ini sekitar 5%-6%, itu karena ada hitungan penurunan harga BBM. Awalnya kan kami prediksi 8%-9% atau lebih tinggi, tapi ternyata pemerintah mengumumkan BBM lebih maju yang otomatis member efek,” kata dia. Meski demikian ia mengaku prediksi tersebut juga belum final, alasannya karena saat ini harga BBM sebagai urat nadi dari transportasi telah di floating mengikuti harga pasar yang sewaktu – waktu bisa naik dan turun atau fluktuatif. Bersamaan dengan itu, nilai tukar rupiah juga cukup fluktiatif sehingga mempersulit prediksi pencapaian inflasi pada tahun 2015 ini. “Saat ini harga minyak dunia dalam posisi rendah itu kita bisa bernapas. Namun kalau pada akhirnya harga dunia tidak seperti ini terus, akan naik dan turun, maka itu akan menjadi warning bagi pemerintah,” tambah dia. Faisal juga menyatakan, dengan adanya tren yang bisa naik dan turun seperti itu juga akan menyusahkan pemerintah untuk menangani gejolak inflasi dalam negeri. Oleh karenanya ia mengusulkan beberapa cara agar inflasi di tahun ini tetap terkendali. Salah satunya adalah batas atas harga BBM yang harus diputuskan oleh pemerintah. Sehingga ketika harga minyak dunia meroket, harga dipasaran tetap berada pada level yang sudah diperkirakan dampaknya. Selain itu pemerintah, lanjut dia, juga harus bisa mengendalikan inflasi yang diakibatkan oleh komuditas pangan, dan masalah transportasi. Khusus terkait masalah transportasi, ia berharap pemerintah dapat berkoordinasi dengan Organda terkait kenaikan tarif angkutan umum. “Jadi kalau misalkan harga BBM naik, maka pemerintah sudah punya kesepakata apa yang akan dilakukan, begitu juga jika harga naik dan turun. Makanya salah satunya yang saya selalu tekankan, seharusnya pemerintah sudah memiliki batas atas untuk BBM. Jadi tidak murni dilepas semua,” terang dia. Terkait dengan masalah pangan, seperti diketahui naiknya beberapa komuditas bahan – bahan kebutuhan pokok bulan lalu merupakan salah satu penyumbang inflasi. Karenanya, Peneliti Senior CORE, Dwi Andreas Santosa berharap pemerintah dapat mewujudkan kedaulatan pangan untuk menyejahterakan para petani Untuk itu ia berharap pemerintah mau mengubah struktur pertanian nasional agar menjadi demokratis. Caranya dengan mengutamakan pertanian rakyat dan pertanian keluarga agroekologi di atas kebutuhan industri dan pengusaha pangan itu sendiri. Selain itu, ia juga berharap pemerintah mau memperbaikan irigasi dan pembangunan bendungan untuk mewujudkan kedaulatan pangan dan mensejahterakan petani Lebih lanjut ia bahkan mengusulkan agar pemerintah juga mau membuat Bank Agro maritim dan Asuransi Pertanian untuk membantu usaha para petani. “Selain itu, juga mengganti subsidi benih, pupuk dan raskin menjadi direct cash transfer serta menjamin harga melalui Badan Otoritas Pangan,” tambah dia. Menurut Andreas langkah – langkah tersebut sangat penting dilakukan untuk menjaga harga kebutuhan pokok. Dengan kuatnya petani dan produk pertanian kita, Indonesia akan memiliki ketahanan pangan yang mantap. “Dan bukan tidak mungkin Indonesia tak akan lagi jadi pengimpor pangan. Karena dengan sejahteranya para petani, maka dengan sendirinya produktifitas pangan pertanian akan meningkat,” tambah dia. (Kukuh Budiman)





























