Wayang Kulit Menembus Pasar Luar Negeri

Yogyakarta - Wayang kulit yang merupakan seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. [caption id="attachment_17916" align="alignnone" width="300"]
Sagio[/caption] Sama halnya dengan hobi seorang maestro wayang kulit di Yogyakarta, Sagio. Lelaki kelahiran 63 tahun silam ini mengagumi wayang kulit. Hobinya sejak kecil membuat wayang kulit cerita Ramayana dan Mahabharata ini hingga kini tetap mempertahankan kebudayaan Jawa dengan telaten. Sagio bergelut di bidang pewayangan sejak tahun 1963 saat ia berumur 11 tahun. Ayahnya juga pembuat wayang kulit. Sagio mengembangkan sendiri hobi wayang kulitnya, karena sang ayah tidak menurunkan ilmu membuat wayang kulit kepada anak-anaknya. “Waktu masih kecil saya sering membuat wayang kulit dari tangkai daun singkong itu. Kemudian saya menonton ayah yang sedang menggarap wayang kulit. Saya amati betul-betul bagaimana cara pembuatannya. Saya belajar dari situ,” terangnya kepada Obsessionnews.com pekan lalu. Pada saat itu, kata Sagio, hiburannya hanya wayang di kampungnya. Radio dan TV belum ada saat itu. “Namanya sudah senang ya akan saya teruskan sampai masa hidup saya. Seperti ada kontrak dengan diri sendiri. Belajar dari orang tua, tetangga, dan orang-orang kerato yang ahli di bidang wayang, saya mulai menggeluti pewayangan tadi,” ujarnya. Sagio yang juga bekerja di keraton bidang wayang membuka usahanya sejak tahun 1974. Ia memberikan pelatihan bagi pengunjung dan warga kampungnya dalam pembuatan wayang. Dulu muridnya mencapai 50 orang, dan kini mereka sudah bisa membuat wayang sendiri. Pemilik Sagio Puppet di Desa Gendeng RT 04/02 Bangunjiwo, Jogja, ini, menuturkan pemesan atau pengunjung bisa datang langsung ke tempat pembuatan wayang kulit ini. Lewat telepon maupun email juga bisa dilayani. Sagio membuka usaha ini tanpa ada cabangnya. Jika ingin memesan wayang kulit datang saja ke Sagio Puppet. Wayang kulit yang dibuat Sagio semacam wayang Purwo. Untuk bahan-bahannya, sudah ada pengelola kulit sapi Indonesia, khususnya Jawa, yang berada di sekitar Yogyakarta. Harus pintar memilih kulit sapi yang bagus untuk diolah menjadi wayang kulit sesuai kebutuhan. Proses pembuatan wayang tak mudah. Ada beberapa metode yang harus dilakukan. “Pertama, membuat pola dari kertas atau gambar yang sudah pernah digunakan. Kemudian pola yang sudah digambar tadi dibentuk ke dalam kulit sapi yang sudah siap. Selanjutnya kulit sapi dengan pola tadi dipahat. Ada yang namanya istilah ngopi, menggambar pola dengan gambar yang sudah ada untuk mempercepat membentuk pola,” katanya. Sementara ukurannya untuk jenis wayang Petruk yang paling mudah dibuatnya. Sehari pun jadi. Tapi memang tergantung tingkat kerumitannya. Bahkan ada yang satu wayang 2-3 minggu baru jadi. Dengan dibantu 10 karyawannya, Sagio menyanggupi pesanan yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Untuk ukuran standar wayang kulit dari 30 centimeter hingga 1-2 meter. Proses pemahatannya membutuhkan waktu satu minggu dan pemasangan tangkai serta pewarnaan juga satu minggu lamanya hingga mewujudkan hasil wayang yang apik. (Anissa Nurul Kurniasari)
Sagio[/caption] Sama halnya dengan hobi seorang maestro wayang kulit di Yogyakarta, Sagio. Lelaki kelahiran 63 tahun silam ini mengagumi wayang kulit. Hobinya sejak kecil membuat wayang kulit cerita Ramayana dan Mahabharata ini hingga kini tetap mempertahankan kebudayaan Jawa dengan telaten. Sagio bergelut di bidang pewayangan sejak tahun 1963 saat ia berumur 11 tahun. Ayahnya juga pembuat wayang kulit. Sagio mengembangkan sendiri hobi wayang kulitnya, karena sang ayah tidak menurunkan ilmu membuat wayang kulit kepada anak-anaknya. “Waktu masih kecil saya sering membuat wayang kulit dari tangkai daun singkong itu. Kemudian saya menonton ayah yang sedang menggarap wayang kulit. Saya amati betul-betul bagaimana cara pembuatannya. Saya belajar dari situ,” terangnya kepada Obsessionnews.com pekan lalu. Pada saat itu, kata Sagio, hiburannya hanya wayang di kampungnya. Radio dan TV belum ada saat itu. “Namanya sudah senang ya akan saya teruskan sampai masa hidup saya. Seperti ada kontrak dengan diri sendiri. Belajar dari orang tua, tetangga, dan orang-orang kerato yang ahli di bidang wayang, saya mulai menggeluti pewayangan tadi,” ujarnya. Sagio yang juga bekerja di keraton bidang wayang membuka usahanya sejak tahun 1974. Ia memberikan pelatihan bagi pengunjung dan warga kampungnya dalam pembuatan wayang. Dulu muridnya mencapai 50 orang, dan kini mereka sudah bisa membuat wayang sendiri. Pemilik Sagio Puppet di Desa Gendeng RT 04/02 Bangunjiwo, Jogja, ini, menuturkan pemesan atau pengunjung bisa datang langsung ke tempat pembuatan wayang kulit ini. Lewat telepon maupun email juga bisa dilayani. Sagio membuka usaha ini tanpa ada cabangnya. Jika ingin memesan wayang kulit datang saja ke Sagio Puppet. Wayang kulit yang dibuat Sagio semacam wayang Purwo. Untuk bahan-bahannya, sudah ada pengelola kulit sapi Indonesia, khususnya Jawa, yang berada di sekitar Yogyakarta. Harus pintar memilih kulit sapi yang bagus untuk diolah menjadi wayang kulit sesuai kebutuhan. Proses pembuatan wayang tak mudah. Ada beberapa metode yang harus dilakukan. “Pertama, membuat pola dari kertas atau gambar yang sudah pernah digunakan. Kemudian pola yang sudah digambar tadi dibentuk ke dalam kulit sapi yang sudah siap. Selanjutnya kulit sapi dengan pola tadi dipahat. Ada yang namanya istilah ngopi, menggambar pola dengan gambar yang sudah ada untuk mempercepat membentuk pola,” katanya. Sementara ukurannya untuk jenis wayang Petruk yang paling mudah dibuatnya. Sehari pun jadi. Tapi memang tergantung tingkat kerumitannya. Bahkan ada yang satu wayang 2-3 minggu baru jadi. Dengan dibantu 10 karyawannya, Sagio menyanggupi pesanan yang datang baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Untuk ukuran standar wayang kulit dari 30 centimeter hingga 1-2 meter. Proses pemahatannya membutuhkan waktu satu minggu dan pemasangan tangkai serta pewarnaan juga satu minggu lamanya hingga mewujudkan hasil wayang yang apik. (Anissa Nurul Kurniasari)



























