Serabi Kalibeluk yang Penuh Legenda

Serabi Kalibeluk yang Penuh Legenda
Batang – Di tengah maraknya berbagai macam makanan ringan, jajanan satu ini masih eksis dan bertahan hingga saat ini. Merupakan kuliner khas Kabupaten Batang, Jawa Tengah, serabi kalibeluk tergolong makanan kecil. Namun, jangan salah, sekali makan dijamin perut langsung kenyang. [caption id="attachment_17808" align="alignnone" width="300"]Pedagang serabi kalibeluk Pedagang serabi kalibeluk[/caption] Serabi kalibeluk salah satu makanan asli dari Desa Kalibeluk, Kecamatan Warung Asem, Kabupaten Batang. Serabi ini erat kaitannya dengan cerita zaman Kerajaan Mataram. Dikisahkan, dulu ada seorang putri cantik bernama Dewi Rantansari. Sang putri yang cantik jelita disukai oleh Sultan Mataram. Kemudian Sultan Mataram mengutus Bahureksa untuk meminang Dewi Rantansari. Tak dinyana, Bahureksa malah jatuh cinta pada sang putri. Untuk mengelabui Sultan Mataram, Bahureksa mencari gadis lain yang mempunyai paras setara kecantikan Dewi Rantansari. Dipilihlah Endang Wiranti, anak seorang penjual serabi dari Desa Kalibeluk. Endang Wiranti lalu menemui Sang Sultan dengan menyamar sebagai Dewi Rantansari. Sultan menerima dengan senang hati, tetapi Endang tidak tahan untuk berbohong hingga ia pingsan. Setelah siuman, Endang menceritakan semuanya. Lantaran kejujurannya, Sang Sultan menghadiahi Endang sejumlah uang untuk kembali ke Desa Kalibeluk dan melanjutkan usahanya. Kisah ini begitu terpatri kuat di masyarakat Desa Kalibeluk. Tokoh Endang diyakini benar-benar ada, sehingga masih ada anggota masyarakat yang menjual serabi kalibeluk sebagai bentuk penghormatan Endang Wiranti. Menggunakan Peralatan Tradisional Serabi kalibeluk mempunyai rasa yang enak dan ukurannya yang besar. Serabi ini dalam pengolahannya masih menggunakan peralatan tradisional, yaitu tungku dan cetakan dari tanah liat. [caption id="attachment_17807" align="alignnone" width="300"]Surimi memasak serabi dengan peralatan tradisional Surimi memasak serabi dengan peralatan tradisional[/caption] Surimi (60 tahun), penjual serabi kalibeluk, yang ditemui Obsessionnews.com di rumahnya, Minggu, (11/1/2015) mengatakan, serabi kalibeluk berbahan dasar gula pasir, pandan, tepung dan gula aren. Adonan serabi dijadikan satu, kemudian dimasukkan ke dalam cetakan. Setelah itu, adonan dipanggang di atas tungku hingga matang. Serabi kalibeluk mempunyai ciri khas ukurannya besar dan teksturnya agak lengket. Dari segi rasa, serabi ini mempunyai dua pilihan rasa, yaitu manis dan gurih. Untuk rasa manis, dijamin akan membuat ketagihan karena rasa manis yang berasal dari gula aren ini sangatlah pas di lidah. Belum lagi teksurnya yang agak lengket menjadikan rasa manis pada serabi bertahan lama ketika dikunyah. Cara memakannya tanpa menggunakan kuah seperti serabi pada umumnya. Biasanya serabi ini dimakan sebagai kudapan pada pagi hari, karena satu serabi sudah dapat mengenyangkan perut. Surimi menekuni usaha serabi selama 30 tahun. Keluarganya membuat serabi secara turun-temurun. Harga yang dipatok per tangkep Rp 8.000 dengan isi dua buah serabi. Di samping itu, serabi ini hanya dijual di Pasar Warungasem dan sekitar Kabupaten Batang. Tetapi untuk nama, serabi ini sudah kondang di mana-mana. Pemerintah Kabupaten Batang pernah mengajak para penjual serabi untuk mengikuti event di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, ketika kontingen kesenian Batang tampil di Anjungan Jateng. Di balik itu semua masih ada kesulitan yang dirasakan oleh para perajin serabi, salah satunya adalah pemasaran. Kendala lainnya ialah serabi kalau tidak habis maka pedagang akan rugi, mengingat serabi ini hanya bertahan selama kurang lebih tiga hari. Namun demikian, mengingat keunikan dan rasanya yang khas, serabi kalibeluk wajib Anda cicipi ketika singgah di Batang. (Yusuf Isyrin Hanggara)