Mi Kenyol, Jajanan Pekalongan yang Ditelan Zaman

Mi Kenyol, Jajanan Pekalongan yang Ditelan Zaman
Pekalongan – Bagi warga Kota Pekalongan, Jawa Tengah, di era 1990-an mungkin masih akrab dengan jajanan pasar berbahan dasar mi ini. Bentuknya yang khas serta tekstur uniknya seakan menjadi sensasi tersendiri bila memakannya. Bu Imah (62 tahun), warga Pantai Sari, Keluarahan Panjang Wetan, Kota Pekalongan, salah seorang dari lima penjual kuliner gurih nan kenyal ini. Ditemui Obsessionnews.com di kawasan Bendan, Pekalongan Barat, Minggu (11/1/2015), Bu Imah dengan senang hati menceritakan cara membuat mi kenyol. Pengolahan yang Sulit Mi kenyol merupakan jajanan yang berbahan dasar mi. Namun, bukan sembarang mi yang dipergunakan, melainkan mi yang terbuat dari tepung kanji atau biasa disebut mi pati. Mi ini bila direbus akan mempunyai tekstur kenyal, sehingga apabila dimakan memerlukan tenaga ekstra. [caption id="attachment_17797" align="alignnone" width="200"]Bu Imah Bu Imah[/caption] Sedangkan untuk membuat mi kenyol adalah dengan memotong mi menjadi kecil-kecil. Dikarenakan bahan dasar mi kenyol adalah mi pati, maka proses memotong ini yang terbilang cukup menguras tenaga, karena mi tersebut cenderung sangat lentur dan susah untuk dipotong. Kemudian mi yang sudah menjadi kecil direbus dengan menggunakan air dan minyak goreng hingga menjadi lunak dan kenyal. Setelah matang, mi ditumis lagi menggunakan bumbu rempah. Mi ini biasanya dibungkus menggunakan daun pisang dan disajikan sebagai camilan bersama gorengan di sore hari. Proses memotong dan merebus mi yang merepotkan membuat saat ini keberadaan mi kenyol menjadi semakin memudar. Menurut Bu Imah, rata-rata penjual enggan membuat mi kenyol, karena proses mengolahnya yang menyita waktu, yakni mulai dari memotong, merebus dengan menggunakan air dan minyak, hingga menggoreng dan mengepak mi kenyol dengan daun pisang. “Bikinnya itu susah, harus metal-metal (memotong kecil), terus direbus, memakai air dan minyak goreng. Memotong dan memasaknya itu yang ribet,” ujar Bu Imah sambil melayani pembeli. Bu Imah telah 24 tahun berjualan mi kenyol selama. Sebelumnya ia membuka warung, namun karena keterbatasan tempat akhirnya ia memilih untuk berdagang keliling kota. Penghasilan yang didapatnya cukup untuk membuat dapurnya tetap mengepul. Dalam sehari ia bisa menjual hingga 40 bungkus. Harga yang dipatoknya cukup murah, hanya Rp. 2000 untuk dapat menikmati panganan yang unik ini. Dirindukan Penggemarnya Dewasa ini penjual mi kenyol jarang ditemukan. Hal tersebut membuat kerinduan tersendiri bagi orang yang pernah menikmati kelezatan dan sensasi dalam menikmati makanan kenyal ini. Salah satu penggemar mi kenyol adalah Angga (23 tahun). Warga Bendan ini bercerita di masa kecilnya mi kenyol termasuk jajanan yang paling laris di Pekalongan. “Waktu saya kecil banyak yang berjualan mi kenyol. Hampir tiap sore saya selalu jajan mi kenyol di dekat sekolah. Tapi ndak tahu sekarang kok sudah jarang yang berjualan mi kenyol. Setahu saya cuma Bu Imah saja yang saya tahu masih ngider (berdagang keliling) mi kenyol,” tuturnya. Karena keunikan rasa dan teksturnya, mi kenyol diburu warga Pekalongan, apalagi jika menjelang bulan Ramadhan. Rasanya yang gurih dipadu kekenyalannya yang unik menjadikan mi kenyol salah satu hidangan wajib di saat berbuka bagi warga Pekalongan. (Yusuf Isyrin Hanggara)