Joko Santoso: Diperlukan Orang "Gila" Memimpin Semarang

Semarang - Banyak kalangan yang menilai Joko Santoso figur wakil rakyat yang merakyat. Wakil Ketua DPRD Kota Semarang dari Partai Gerindra yang akrab dipanggil Joko ini rajin turun ke lapangan untuk menyerap aspirasi rakyat. Pria yang humoris ini menyediakan waktu untuk wawancara khusus dengan obsessionnews.com di Semarang, Jumat (9/1/2015).
[caption id="attachment_17671" align="alignnone" width="275"]
Joko Santoso, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang[/caption]
Apa tugas dan wewenang yang diamanahkan undang-undang kepada DPRD?
Tugas kami meliputi fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan. Berkaitan dengan fungsi pengawasan, kami mengawasi kinerja Pemerintah Kota Semarang.
Langkah apa saja yang telah Anda lakukan untuk memenuhi ketiga fungsi tersebut?
Sesuai dengan prosedur yang ada, kami melakukan semaksimal mungkin ketiga fungsi tersebut, terutama fungsi pengawasan. Kami mengawasi kebijakan Pemkot Semarang dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Saat ini apa permasalahan utama di Kota Semarang?
Banyak hal, dan yang paling krusial adalah banyaknya infrastruktur yang belum terbenahi, birokrasi yang belum efektif, banjir, pendidikan, dan kemacetan. Karena itu yang difokuskan saat ini adalah mengenai pengawasan terhadap penerapan Sapta Program yang dilakukan Pemkot Semarang. Sesuai dengan visi Kota Semarang sebagai kota perdagangan dan jasa, kami mendorong Pemkot Semarang bekerja lebih keras mengembangkan sektor perdagangan dan jasa. Selain itu kami memperjuangkan bidang pendidikan dan mengentaskan kemiskinan agar tercapai tagline Kota Semarang Setara.
Apa yang dimaksud Semarang Setara?
Semarang Setara bukan berarti setara jeleknya lho. Setara yang dimaksud agar setara dengan kota-kota besar lain seperti Bandung dan Jogjakarta. Diharapkan nantinya apa yang kami perjuangkan saat ini di DPRD mampu menyerap berbagai aspirasi dan mengawasi Pemkot Semarang agar berjalan sesuai tugasnya. Kami ingin mengejar target agar dapat menjadi seperti kota-kota besar itu, tapi bukan mengejar macetnya, tapi mengejar dari keberhasilan sisi penataan kota, dan lain-lainnya.
Apa harapan Anda terhadap Pemkot Semarang?
Diperlukan orang "gila" dalam tanda kutip tidak edan untuk memimpin Semarang. Untuk mengubah Semarang yang masih banyak kekurangan ini perlu tangan lembut dari pemimpin yang “gila”. Gila dalam berpikir progresif ke depan.
Bagaimanakah Anda menilai Walikota Semarang?
Kalau saya lihat Walikota hanya melanjutkan program yang sudah ada sebelumnya. Belum mempunyai terobosan yang baru. Kita lihat saat ini pembangunan monoton saja. Dia belum banyak melakukan pembangunan yang pro dengan kepentingan rakyat.
Berarti kinerja Walikota masih kurang ya?
Ya begitulah. Saya rasa masih kurang. Kita lihat di daerah pinggiran, prosentase pembangunan infrastruktur di tengah kota dengan pinggiran kota kurang berimbang. Saya berharap pembangunan infrastruktur merata di tengah kota dan pinggiran kota. Karena pemerataan pembangunan untuk mengurai kepadatan di tengah kota.
Mengenai fungsi pengawasan, apa saja yang dilakukan DPRD ketika Pemkot Semarang menyimpang dari rencana kerja?
Tentu saja kami tegur! Tugas kami sebagai pengawas. Ketika Walikota melaksanakan rencana kerja tidak pas kami tegur. Beberapa pembangunan di tahun 2014 yang tidak selesai, itu menjadi sorotan kami. Contohnya pembangunan Rumah Sakit Daerah Kota Semarang yang harusnya selesai tahun 2014, ternyata baru 29% dibangun. Selain itu, ada 3 Puskesmas yang terbengkalai, tidak direvitalisasi. Kami juga mengkritisi masalah birokrasi, misalnya penempatan orang yang tidak sesuai kompetensinya di jabatan tertentu. Itulah tugas pokok kami selaku lembaga pengawas pemerintah.
Apakah Pemkot Semarang sudah melakukan perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan seperti yang Anda sebutkan itu?
Wajib diperbaiki. Kalau tidak, ya entah bagaimana caranya kami melalui berbagai prosedur yang ada akan meminta laporan pertanggung jawaban Walikota.
Ada wacana pusat pemerintahan akan dipindah ke daerah pinggiran kota, bagaimana tanggapan Anda?
Saya sepakat mengenai wacana tersebut. Ini untuk memungkinkan agar kepadatan di tengah kota dapat diurai. Nanti imbasnya pada pemerataan pembangunan dan berkurangnya kemacetan di Kota Semarang.
Apakah DPRD sudah mempunyai usulan konsep tentang pemerataan pembangunan?
Kami sudah mempunyai wacana agar pemerintah pusat dipindah ke daerah Mijen, agar nantinya kepadatan penduduk tidak hanya terpusat di tengah kota (Jl Pemuda). Kalau kami lihat di daerah Tembalang sudah mulai bergeliat karena ada Universitas Negeri Diponegoro. Di Gunung Pati juga sudah mulai maju karena ada Universitas Negeri Semarang. Nah, untuk kawasan Mijen nantinya akan dibangun pusat pemerintahan.
Bagaimana mengatasi kemacetan?
Kami sudah mempunyai konsep untuk itu juga. Kan Semarang ini terpusat di daerah Simpang Lima. Nantinya kami ada wacana berupa pembuatan Simpang Lima 2 di daerah Pedurungan.
Di Mijen sudah ada kawasan Industri. Jika wacana tersebut terealisasikan, bagaimana dengan pemukiman warga dan aktivitas pemerintahan?
Saya sendiri kurang setuju dengan adanya kawasan industri di Mijen. Kan di sana sudah ada perumahan BSB, tapi kok sekarang dicampur dengan kawasan industri. Saya lebih sepakat di Mijen hanya khusus pemukiman saja. Kalau ada kawasan industri tentunya akan mengganggu aktivitas warga dan aktivitas pemerintahan dengan banyaknya lalu lalalng kendaraan berat.
Terkait dengan kemacetan, apakah sudah ada tindakan langsung dari Pemkot Semarang?
Dii Semarang saat ini ada dua kegiatan besar, yaitu pembangunan ring road Mangkang-Arteri dan Ring Road Mangkang-Mijen. Jalurnya adalah ke Banyumanik, sehabis Banyumanik terus dibangun menuju arah Tembalang. Jadi seperti melingkari kota Semarang nantinya hingga ke daerah pinggiran. Untuk tahun depan yang akan dibangun ring road di sisi barat terlebih dahulu, karena kemacetan sering terjadi di daerah Krapyak.
Apa saja aspirasi rakyat yang Anda serap?
Kami menggunakan masa reses untuk menjaring aspirasi dari masyarakat. Di masa reses menyosialisasikan program pemerintah dan sekaligus menyerap keinginan rakyat. Kan keinginan rakyat kan ndak semua bisa terdengar? Maka dari itu saya tiap malam Senin selalu turun ke bawah untuk mencari masalah apa di Semarang. Masyarakat itu kurangnya apa. Jadi saya nantinya di DPRD bisa menyuarakan pendapat mereka yang ada di bawah, terutama dari daerah pemilihan (dapil) saya, yaitu dapil Utara, Timur dan Tengah.
Selain dengan blusukan, apakah ada hal lain yang bapak lakukan untuk lebih efektif lagi menjaring keinginan rakyat?
Untuk menjawab keinginan rakyat, saya mengikuti berbagai organisasi masyarakat yang ada di Kota Semarang. Melalui organisasi-organisasi itu saya mendapat masukan lebih banyak lagi keinginan rakyat. (Yusuf Isyrin Hanggara)





























