Kue Semprong Mejing Menembus Pasaran Nasional

Kue Semprong Mejing Menembus Pasaran Nasional
Sleman - Usaha yang menjanjikan membuat Farida Yuliana berkecimpung membuat kue semprong yang manis dan renyah. Lulusan Teknologi Pertanian Universitas Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, beberapa tahun silam ini mencoba gebrakan baru dengan memproduksi kue semprong di daerahnya, Mejing. Wanita berjilbab ini membuat kue semprong di rumahnya, Jalan Margohadi Nomor 12 C Dusun Mejing Lor RT 03/RW 03 Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sudah setahun ini Farida menggeluti usaha kue yang renyah dan manis tersebut. [caption id="attachment_17577" align="alignnone" width="300"]Farida Yuliana Farida Yuliana[/caption] Farida menuturkan awal pembuatan kue semprongnya ini dari ibunya yang juga memproduksi kue semprong selama 15 tahun. Hanya saja dulunya ibunya membuat di rumahnya yang berada di Cilacap. Kemudian Farida membawa resep buatan ibunya dan teknik pembuatan kue semprong itu ke Sleman. Belum ada orang yang berjualan kue semprong di daerahnya. Dia lalu membuat kue semprong. Karena ia tinggal bersama suami dan anaknya di daerah Mejing, kue semprong buatannya dinamai Semprong Mejing. “Dulunya saya hanya melihat-lihat ibu saya saat membuat kue semprong. Kemudian setelah menikah dan tinggal di Mejing, saya membuka usaha kue semprong, karena belum ada yang membuatnya di sini,” ungkapnya pekan lalu kepada obsessionnews.com. Tak mudah membuat kue semprong yang renyah dan manis. Tapi, berkat usaha dan dibantu suaminya dan dua karyawan, Farida berhasil mengembangkan produksi kue semprongnya.    Di Gamping, kue semprongnya bisa dibeli di warung soto sawah Pak Slamet dan MM Gamping Swalayan. Selain itu kue semprongnya juga dipasarkan ke Yogya, Jakarta, Depok, Jawa Timur, dan lain-lain. Atau dengan kata lain berkat kerja keras kue semprong milik Farida berhasil menembus pasaran nasional. Biasanya pelanggan yang memesan bisa datang langsung atau melalui telepon. Farida menata usaha ini bersama suaminya, Adimas Rahardian. Suaminya pun sangat mendukung kemampuannya untuk membuat kue semprong. Produksi kue dengan bahan dasar tepung ini mencapai 20 dus per hari dengan isi 300 gram per bungkus. Produksinya meningkat tajam menjelang Lebaran.             “Kalau Lebaran banyak yang memesan kue semprong, bisa sampai 200 dus per minggu. Untuk satu dus membutuhkan waktu sejam proses memanggangnya,” ucap wanita ayu dan ramah ini. Untuk rasa, Farida baru memproduksi yang original. Tapi ke depan dia akan membuat varian rasa yang lebih banyak seperti wijen, cokelat, dan kurma. Kemungkinan untuk realisasi rasa kurma sebelum puasa Ramadhan tahun ini. “Ke depan kami akan menambah varian rasa, seperti wijen, cokelat, dan kurma. Kebetulan kami menanam pohon kurma di samping rumah. Kemungkinan rasa kurma pada kue semprong kami akan ada pada tahun ini. Kalau untuk rasa nangka, durian dan lainnya itu sudah banyak di pasaran. Makanya kami ingin membuat inovasi baru dengan varian rasa kurma di dalamnya,” tutur ibu dua anak ini sambil tersenyum manis. (Anissa Nurul Kurniasari)