Kapolri: Perbedaan Keislaman Harus Disikapi Bijaksana

Surabaya - Kapolri Jenderal Pol Drs. Sutarman meminta masyarakat harus bijak dalam menyikapi atas perbedaan pendapat mengenai Islam. “Jika ada perbedaan pendapat mengenai Islam, mari berargumentasi dengan cerdas dan berdasar pada kitab suci kita, bukan malah melakukan tindakan anarki,” jelasnya dalam rilis yang diterima obsessionnews.com, Rabu (7/1/2015). Menurut Kapolri, kondisi perkembangan Islam selama lebih dari 140 tahun telah memecah menjadi beberapa kelompok , baik sunni, syi’ah, ataupun lainnya. "Karena itu masyarakat harus menanyakan kepada seorang kyai yang mumpuni dalam keislaman," jelasnya. [caption id="attachment_17436" align="alignnone" width="300"]
Kapolri Jenderal Pol Sutarman bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf disela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (PP) Walisongo, Situbondo, Selasa (6/1/2015) malam.[/caption] Ia menjelaskan, apa yang diyakini dan dipercayai serta sudah dijalani itulah yang benar tanpa harus menyalahkan orang lain yang berbeda pengertian sehingga memicu konflik. Belakangan banyak saudara sesama muslim yang melakukan pengeboman hanya karena kesalahan penafsiran. “Sebagai penanggung jawab keamanan di negara ini saya berharap apapun etnis, profesi, maupun kedudukan kita jika mengaku Islam maka harus bisa menghargai sesamanya. Lebih-lebih pada kaum non muslim, karena Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan tidak pernah bertindak anarki sedikitpun,” pesannya. (GA Semeru)
Kapolri Jenderal Pol Sutarman bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf disela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (PP) Walisongo, Situbondo, Selasa (6/1/2015) malam.[/caption] Ia menjelaskan, apa yang diyakini dan dipercayai serta sudah dijalani itulah yang benar tanpa harus menyalahkan orang lain yang berbeda pengertian sehingga memicu konflik. Belakangan banyak saudara sesama muslim yang melakukan pengeboman hanya karena kesalahan penafsiran. “Sebagai penanggung jawab keamanan di negara ini saya berharap apapun etnis, profesi, maupun kedudukan kita jika mengaku Islam maka harus bisa menghargai sesamanya. Lebih-lebih pada kaum non muslim, karena Nabi Muhammad SAW sendiri mencontohkan tidak pernah bertindak anarki sedikitpun,” pesannya. (GA Semeru)




























