Detik-detik Tenggelamnya KLM Karya Utama II

Surabaya - Kapal layar motor (KLM) Karya Utama II muat ternak tenggelam di laut Jawa, Sabtu (2/1) siang. Ini detik-detik saat kapal tersebut tenggelam. Dari informasi yang diterima obsessionnews.com, Selasa (6/1), terungkap pompa kapal rusak tersumbat kotoran sapi tidak mampu menguras air laut yang memenuhi kapal akibat terjangan ombak setinggi empat meter. Sebelum tenggelam pukul 14.00 WIB, para anak buah kapal (ABK) mendapat perintah untuk meninggalkan kapal. Pasalnya, badan kapal oleng kiri dan akhirnya terbalik. Sedikit demi sedikit badan kapal bagian belakang mulai terangkat ke atas dan tenggalam karena ratusan ternak yang terikat pada badan kapal mempercepat tenggelamnya kapal milik Haji Hasan itu. "Selama dua jam saya berusaha kontak radio pantai tapi tidak ada respons. Akhirnya saya putuskan meninggalkan kapal," ungkap Samsudin sang kapten kapal. Beberapa ABK keluar dengan pelampung yang kemudian diselamatkan oleh kapal asing MV Vodraadores. Disebutkan dua jam sebelum tenggalam, para ABK merakit drum dan kayu seadanya untuk digunakan sebagai rakit. Kapal tenggelam diyakini karena cuaca buruk, dengan kecepatan angin 20 m/s dan ombak 4 m. Satu ABK hilang bersama tenggelamnya kapal KLM Karya Utama II. Kapal yang menyelamatkan 12 orang warga negara Indonesia itu adalah MV Vodraadores, kapal cargo asal Panama. Karena kapal itu menuju ke Papua Nugini, nahkoda meminta KM Labobar yang tidak jauh dari lokasi penemuan ABK, yakni 40 mil sebelum perairan Masalembu, untuk memberikan bantuan. Sayangnya, dua kapal tersebut tidak bisa merapat sehingga dalam proses evakuasi para ABK harus turun kapal kargo dan berenang menuju ke kapal Pelni. Kloter pertama 3 ABK naik bersamaan ke kapal Pelni. Karena hempasan ombak cukup kuat, ketiganya diminta kapten KM Labobar untuk turun lagi dan satu per satu naik kembali. "Ketika naik lagi, Sulaiman tiba-tiba tidak ada dalam kapal itu (KM Labobar,red)," kata Samsudin. Herannya, nahkoda KM Labobar dan awak kapalnya hanya mencari ABK yang hanyut itu dari atas kapal, tanpa menurunkan sekoci (life raft). "Mungkin pertimbangan gelombang tinggi," tegas Samsudin. (G A Semeru)





























