Rujak Cireng Brecxelle dari Depok

Depok - Rujak cireng brecxelle, begitulah sebutannya. Jajanan yang mulai booming pada akhir-akhir ini begitu diminati oleh banyak kalangan. Adalah Agung Edi Suyono, pelaku usaha rujak cireng sekaligus promotor awal panganan ringan ini di Kota Depok, Jawa Barat. [caption id="attachment_17112" align="alignnone" width="257"]
Agung Edi Suyono[/caption] Usaha rujak cireng Agung dimulai pada 2013. Berangkat dari mencoba untuk membuka suatu usaha, Agung awalnya tidak menyangka usahanya saat ini akan menjadi trademark dari Depok. “Saya sudah beberapa kali membuka usaha, tetapi sering gagal. Akhirnya yang terakhir ini saya mencoba merintis usaha ini. Dan alhamdulillah berjalan sampai sekarang, dan bahkan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok meminta saya agar kuliner ini dijadikan makanan khas Depok,” ujarnya kepada obsessionnews, Kamis (1/1/2015). Rujak cireng sendiri adalah salah satu makanan kecil berbahan dasar aci yang digoreng. Jajanan aci goreng berasal dari kawasan Sunda. Biasanya dijadikan makanan kecil semacam gorengan di pinggir jalan. Oleh Agung panganan tersebut diracik sedemikian rupa menjadi sejenis rujak yang bahan dasarnya cireng (aci goreng). “Bahan dasar rujak cireng itu sebenarnya aci yang digoreng yang kemudian saya inovasi menjadi lebih berasa, dan tentu saja sambal rujak yang resepnya dirahasiakan,” tutur Agung sambil tersenyum. Dalam pemasarannya, Agung tidak mengira rujak cireng buatannya akan tersebar sedemikian cepat. Dia merasa terbantu dengan banyaknya koleganya yang membantu mempromosikan produkmya melalu media online. “Yang dilakukan teman-teman itu adalah promosi gratis,” katanya. Berkat promosi melalui media online tersebut rujak cireng brecxelle milik Agung dilirik berbagai kalangan, dan bahkan Disperindag Kota Depok ingin mengangkat rujak buatannya menjadi kuliner khas Depok. “Jadi mungkin karena faktor keadaan, waktu itu Pemerintah Kota Depok sedang mencari kuliner yang dapat dijadikan khas daerah. Nah, karena boomingnya dari rujak cireng seperti kecepatan, makanya waktu itu Disperindag mendatangi saya untuk mengangkat rujak buatan saya,” tuturnya. Peminat rujak cireng sendiri tidak hanya terbatas warga Kota Depok, tetapi juga warga Bandung dan Jakarta. Dan bahkan rujak cireng juga digemari warga Malaysia. “Konsumen saya sekarang tidak hanya masyarakat Depok saja, tapi juga masyarakat di luar Depok. Malahan di Bandung ada konsumen saya yang membuat kafe khusus rujak cireng,” ujarnya. Rujak cireng brecxelle diproduksi di kawasan Pondok Petir, Taman Seruak, Blok D3 No. 3 Depok. Dalam melakukan usahanya itu ia menggunakan tenaga kerja warga sekitar. Penghasilan yang dia dapat juga cukup lumayan dengan produksi hingga 3.000 bungkus tiap hari. “Produksi saya berupa home industry, jadi saya menarik warga sekitar untuk membuat cireng di rumah masing-masing, kemudian mereka menyetorkan kepada saya untuk saya kemas bersama sambal buatan saya sendiri. Untuk penghasilan kotor rata-rata sekarang saya bisa mendapatkan Rp 30 juta per hari. Saya berharap dari rujak cireng ini dapat menginspirasi orang banyak, terutama kalangan muda Kota Depok agar mau berkreativitas lebih jauh lagi. Saya saja yang sudah tua masih mau berkreasi, bagaimana dengan yang muda?” pungkasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)
Agung Edi Suyono[/caption] Usaha rujak cireng Agung dimulai pada 2013. Berangkat dari mencoba untuk membuka suatu usaha, Agung awalnya tidak menyangka usahanya saat ini akan menjadi trademark dari Depok. “Saya sudah beberapa kali membuka usaha, tetapi sering gagal. Akhirnya yang terakhir ini saya mencoba merintis usaha ini. Dan alhamdulillah berjalan sampai sekarang, dan bahkan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Depok meminta saya agar kuliner ini dijadikan makanan khas Depok,” ujarnya kepada obsessionnews, Kamis (1/1/2015). Rujak cireng sendiri adalah salah satu makanan kecil berbahan dasar aci yang digoreng. Jajanan aci goreng berasal dari kawasan Sunda. Biasanya dijadikan makanan kecil semacam gorengan di pinggir jalan. Oleh Agung panganan tersebut diracik sedemikian rupa menjadi sejenis rujak yang bahan dasarnya cireng (aci goreng). “Bahan dasar rujak cireng itu sebenarnya aci yang digoreng yang kemudian saya inovasi menjadi lebih berasa, dan tentu saja sambal rujak yang resepnya dirahasiakan,” tutur Agung sambil tersenyum. Dalam pemasarannya, Agung tidak mengira rujak cireng buatannya akan tersebar sedemikian cepat. Dia merasa terbantu dengan banyaknya koleganya yang membantu mempromosikan produkmya melalu media online. “Yang dilakukan teman-teman itu adalah promosi gratis,” katanya. Berkat promosi melalui media online tersebut rujak cireng brecxelle milik Agung dilirik berbagai kalangan, dan bahkan Disperindag Kota Depok ingin mengangkat rujak buatannya menjadi kuliner khas Depok. “Jadi mungkin karena faktor keadaan, waktu itu Pemerintah Kota Depok sedang mencari kuliner yang dapat dijadikan khas daerah. Nah, karena boomingnya dari rujak cireng seperti kecepatan, makanya waktu itu Disperindag mendatangi saya untuk mengangkat rujak buatan saya,” tuturnya. Peminat rujak cireng sendiri tidak hanya terbatas warga Kota Depok, tetapi juga warga Bandung dan Jakarta. Dan bahkan rujak cireng juga digemari warga Malaysia. “Konsumen saya sekarang tidak hanya masyarakat Depok saja, tapi juga masyarakat di luar Depok. Malahan di Bandung ada konsumen saya yang membuat kafe khusus rujak cireng,” ujarnya. Rujak cireng brecxelle diproduksi di kawasan Pondok Petir, Taman Seruak, Blok D3 No. 3 Depok. Dalam melakukan usahanya itu ia menggunakan tenaga kerja warga sekitar. Penghasilan yang dia dapat juga cukup lumayan dengan produksi hingga 3.000 bungkus tiap hari. “Produksi saya berupa home industry, jadi saya menarik warga sekitar untuk membuat cireng di rumah masing-masing, kemudian mereka menyetorkan kepada saya untuk saya kemas bersama sambal buatan saya sendiri. Untuk penghasilan kotor rata-rata sekarang saya bisa mendapatkan Rp 30 juta per hari. Saya berharap dari rujak cireng ini dapat menginspirasi orang banyak, terutama kalangan muda Kota Depok agar mau berkreativitas lebih jauh lagi. Saya saja yang sudah tua masih mau berkreasi, bagaimana dengan yang muda?” pungkasnya. (Yusuf Isyrin Hanggara)




























