“Enak”, Gethuk Khas Magelang

Magelang - Panganan yang satu ini pastinya Anda sudah tahu bukan? Gethuk. Ya, makanan khas Kota Magelang, Jawa Tengah, ini sudah tak asing lagi di telinga kita. Makanan yang berbahan dari singkong ini seringkali kita jumpai di pusat oleh-oleh khususnya di Magelang. [caption id="attachment_17131" align="alignnone" width="200"]
potongan gethuk yang siap dibungkus[/caption] Seperti usaha yang ditekuni Sugeng Rahardjo. Ditemui di rumahnya yang berlokasi di Magelang, bapak dua anak ini menuturkan, usaha pembuatan gethuknya sudah dilakoninya sejak 2000. Resepnya pun turun-temurun dari keluarga. Sebagian keluarga besarnya juga memiliki usaha gethuk yang serupa. [caption id="attachment_17132" align="alignnone" width="200"]
Pegawai sedang menggiling adonan gethuk[/caption] Bersama istri, Sugeng Rahardjo menjalani usaha ini hingga sekarang. Pemasarannya pun sudah berkembang pesat. Dimulai dari toko ke toko sampai menjadi buah tangan para pelanggan yang akan pergi ke luar kota. Bahkan ke luar negeri hingga Afrika. “Pada tahun 2000 saya mengawali usaha ini. Ya, karena keluarga kami kebanyakan juga pembuat gethuk. Resepnya pun juga turun-temurun,” terang bapak berusia 56 tahun ini. Proses pembuatan gethuk pun tidak mudah. Dengan dibantu istri dan lima pegawainya, Sugeng Rahardjo membuat adonan hingga memotong gethuk menjadi bagian kecil yang tersusun tiga warna. Putih, merah muda, dan cokelat adalah perpaduan warna gethuk andalannya. [caption id="attachment_17133" align="alignnone" width="300"]
Saat para pegawai memanjangkan dan memotong adonan gethuk.[/caption] “Mulanya kami hanya dibantu satu pegawai saja. Tapi, sekarang sudah lima pegawai yang membantu produksi pembuatan gethuk “Enak”. Satu pegawai bertugas menggiling adonan dan keempat lainnya membentuk dan memotong hingga membungkus dan memasukkan dalam kemasan,” jelasnya. Makanan berbahan dasar singkong ini, tiap harinya Sugeng Rahardjo mengambilnya dari kawasan Tegalrejo, Magelang. Pengiriman singkong yang dilakukan pemasok biasanya dua hari sekali. “Gethuk ini membutuhkan 150-200 kilogram singkong per hari. Singkong yang biasa kami gunakan singkong yang baik. Singkong jenis kinanti namanya,” ujar sang istri, Setiabudi Mulyani. Pertama kali singkong diolah, dan singkong yang sudah direbus kemudian dihaluskan. Setelah singkong halus lalu diberi perwarna makanan dan dicampur bumbu. Adonan gethuk tadi digiling hingga menjadi gumpalan besar. Lalu dipanjangkan adonan tersebut, dipotong-potong menjadi bagian kecil. Terakhir dibungkus menggunakan plastik putih. [caption id="attachment_17134" align="alignnone" width="200"]
Setiabudi Mulyani dengan gethuk "Enak"nya[/caption] Ada dua macam kemasan gethuk “Enak” ini baik menggunakan plastik mika maupun dalam bentuk dus. Tiap harinya bisa memproduksi hingga 500 dus. Untuk gethuk yang menggunakan plastik dihargai Rp 7000 isi 12 potong. Sedangkan gethuk dalam kemasan dus isi 16 potong dibandrol harga Rp 11.000. Mengapa diberi nama gethuk “Enak”? Setiabudi Mulyani menjelaskan, semua makanan pasti enak termasuk gethuk. Perpaduan rasa manis dan aroma yang harum itulah yang menjadikan makanan itu mudah disukai peminatnya. Sempat mengalami kendala dalam produksi gethuk. Tak jarang Sugeng menemukan beberapa singkong yang tidak berkualitas baik. Istilahnya singkong ngganyong. Jumlah produksi pun bisa berkurang. Terlebih saat musim hujan juga menjadi salah satu faktor penurunan produksi gethuk. Awal mula gethuk “Enak” diproduksi dengan modal Rp 2 juta. Setiabudi Mulyani mengatakan, di rumah yang juga sebagai tempat produksi, Menowosari nomor 34 RT 02/ RW 01, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Dengan dibantu lima pegawainya ini bisa beromzet Rp 12-13 juta per bulannya. Tak jarang gethuk “Enak” ini menjadi pilihan pelanggan. Selain rasanya yang manis, gethuk “Enak” juga empuk. Tak hanya dipasarkan di toko pusat oleh-oleh tapi juga dipasarkan ke kawasan Muntilan, Secang, dan menjadi oleh-oleh ke luar kota bahkan ke luar negeri. Biasa dipesan untuk acara hajatan seperti arisan keluarga dan pertemuan-pertemuan. “Harapannya ke depan bisa meningkatkan produksi lebih banyak lagi. Bertambahnya pemesanan bertambah pula kami mengolahnya,” pungkas ibu berusia 54 tahun ini. (Anissa Nurul Kurniasari)
potongan gethuk yang siap dibungkus[/caption] Seperti usaha yang ditekuni Sugeng Rahardjo. Ditemui di rumahnya yang berlokasi di Magelang, bapak dua anak ini menuturkan, usaha pembuatan gethuknya sudah dilakoninya sejak 2000. Resepnya pun turun-temurun dari keluarga. Sebagian keluarga besarnya juga memiliki usaha gethuk yang serupa. [caption id="attachment_17132" align="alignnone" width="200"]
Pegawai sedang menggiling adonan gethuk[/caption] Bersama istri, Sugeng Rahardjo menjalani usaha ini hingga sekarang. Pemasarannya pun sudah berkembang pesat. Dimulai dari toko ke toko sampai menjadi buah tangan para pelanggan yang akan pergi ke luar kota. Bahkan ke luar negeri hingga Afrika. “Pada tahun 2000 saya mengawali usaha ini. Ya, karena keluarga kami kebanyakan juga pembuat gethuk. Resepnya pun juga turun-temurun,” terang bapak berusia 56 tahun ini. Proses pembuatan gethuk pun tidak mudah. Dengan dibantu istri dan lima pegawainya, Sugeng Rahardjo membuat adonan hingga memotong gethuk menjadi bagian kecil yang tersusun tiga warna. Putih, merah muda, dan cokelat adalah perpaduan warna gethuk andalannya. [caption id="attachment_17133" align="alignnone" width="300"]
Saat para pegawai memanjangkan dan memotong adonan gethuk.[/caption] “Mulanya kami hanya dibantu satu pegawai saja. Tapi, sekarang sudah lima pegawai yang membantu produksi pembuatan gethuk “Enak”. Satu pegawai bertugas menggiling adonan dan keempat lainnya membentuk dan memotong hingga membungkus dan memasukkan dalam kemasan,” jelasnya. Makanan berbahan dasar singkong ini, tiap harinya Sugeng Rahardjo mengambilnya dari kawasan Tegalrejo, Magelang. Pengiriman singkong yang dilakukan pemasok biasanya dua hari sekali. “Gethuk ini membutuhkan 150-200 kilogram singkong per hari. Singkong yang biasa kami gunakan singkong yang baik. Singkong jenis kinanti namanya,” ujar sang istri, Setiabudi Mulyani. Pertama kali singkong diolah, dan singkong yang sudah direbus kemudian dihaluskan. Setelah singkong halus lalu diberi perwarna makanan dan dicampur bumbu. Adonan gethuk tadi digiling hingga menjadi gumpalan besar. Lalu dipanjangkan adonan tersebut, dipotong-potong menjadi bagian kecil. Terakhir dibungkus menggunakan plastik putih. [caption id="attachment_17134" align="alignnone" width="200"]
Setiabudi Mulyani dengan gethuk "Enak"nya[/caption] Ada dua macam kemasan gethuk “Enak” ini baik menggunakan plastik mika maupun dalam bentuk dus. Tiap harinya bisa memproduksi hingga 500 dus. Untuk gethuk yang menggunakan plastik dihargai Rp 7000 isi 12 potong. Sedangkan gethuk dalam kemasan dus isi 16 potong dibandrol harga Rp 11.000. Mengapa diberi nama gethuk “Enak”? Setiabudi Mulyani menjelaskan, semua makanan pasti enak termasuk gethuk. Perpaduan rasa manis dan aroma yang harum itulah yang menjadikan makanan itu mudah disukai peminatnya. Sempat mengalami kendala dalam produksi gethuk. Tak jarang Sugeng menemukan beberapa singkong yang tidak berkualitas baik. Istilahnya singkong ngganyong. Jumlah produksi pun bisa berkurang. Terlebih saat musim hujan juga menjadi salah satu faktor penurunan produksi gethuk. Awal mula gethuk “Enak” diproduksi dengan modal Rp 2 juta. Setiabudi Mulyani mengatakan, di rumah yang juga sebagai tempat produksi, Menowosari nomor 34 RT 02/ RW 01, Kelurahan Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Dengan dibantu lima pegawainya ini bisa beromzet Rp 12-13 juta per bulannya. Tak jarang gethuk “Enak” ini menjadi pilihan pelanggan. Selain rasanya yang manis, gethuk “Enak” juga empuk. Tak hanya dipasarkan di toko pusat oleh-oleh tapi juga dipasarkan ke kawasan Muntilan, Secang, dan menjadi oleh-oleh ke luar kota bahkan ke luar negeri. Biasa dipesan untuk acara hajatan seperti arisan keluarga dan pertemuan-pertemuan. “Harapannya ke depan bisa meningkatkan produksi lebih banyak lagi. Bertambahnya pemesanan bertambah pula kami mengolahnya,” pungkas ibu berusia 54 tahun ini. (Anissa Nurul Kurniasari)




























