Mc.Bee, Perpaduan Mochi dan Es Krim

Magelang - Tak ada latar belakang pendidikan memasak, bahkan Priyo Nugroho pun tak hobi memasak. Meskipun demikian Priyo bersama empat temannya yang sama-sama alumni sebuah universitas swasta di Jogja mencoba menginovasikan panganan mochi yang dipadukan dengan es krim. Dari sinilah mereka memulai bisnis. [caption id="attachment_17054" align="alignnone" width="230"]
Priyo Nugroho (berkaos kuning) dengan produknya[/caption] Alumni jurusan teknik informatika itu awalnya hanya iseng-iseng saja. Saat Priyo menginjak semester lima dan tidak ada kegiatan yang terlalu padat, ia menemukan ide membuat mochi es krim ini. Dia mencari contoh resep membuat kue Jepang itu melalui buku dan internet. Ia lantas tertarik untuk berkreasi “mengutak-atik” kue mochi. Resep sudah didapat dan Priyo mencoba mengolahnya sesuai apa yang dilihatnya di internet. Penuh perjuangan maksimal, Priyo dan keempat temannya sempat gagal hingga tiga bulan lamanya. Tak mudah baginya mengolah panganan tanpa memiliki kemampuan masak-memasak. [caption id="attachment_17055" align="alignnone" width="300"]
Produk Mc.Bee dengan toping di atasnya[/caption] [caption id="attachment_17056" align="alignnone" width="225"]
Tampilan Mc.Bee rasa strawberry[/caption] “Mulanya kami berlima yang sama-sama satu kampus, satu kelas, dan satu atap, sekadar iseng-iseng membuat mochi es krim. Tapi, kedua dari teman kami mundur untuk menjalani usaha ini karena fokus kuliah. Akhirnya kami hanya bertiga,” terangnya saat ditemui Sabtu (3/1/2015) pagi. Saat itu di Jogja belum ada yang membuat mochi es krim dan hal itu merupakan peluang bisnis yang menggiurkan. Mereka mengapresiasikannya tepat pada bulan Ramadhan tiga tahun lalu. Mereka mencoba memproduksi di rumah kontrakannya, dan menjualnya di sekitar kampus UGM setiap sore hari menjelang buka puasa. Agar keren, lelaki yang akrab dipanggil Tambun ini memberi nama produknya dengan sebutan Mc.Bee. Nama yang mirip dengan produk makanan cepat saji asal Amerika Serikat. “Bee sendiri berarti lebah, yang secara filosofis yaitu saling berbagi,” kata Priyo. Ia menuturkan sempat kesulitan untuk membuat mochi dan es krim. “Kami pernah membuat mochi dengan hasil yang tidak bagus. Didapatkan mochi masih lengket di dalam loyang hingga sebagian tekstur mochi rusak. Bahkan tidak mulus saat pertama kali produksi. Hingga dua ember adonan es krim sempat terbuang karena masih terasa sekali untuk aroma dan rasa telurnya,” ceritanya. [caption id="attachment_17057" align="alignnone" width="300"]
Mochi es krim Mc.Bee digemari kaum perempuan[/caption] Priyo dan kedua temannya akhirnya sepakat tetap mencoba berulang kali untuk mendapatkan mochi es krim dengan hasil yang baik. Beberapa tempat di Jogja ia sambangi sebagai tempat penjualan mochi es krimnya. Biasanya mereka lebih memilih tempat goes to campus jika ada acara. Alun-alun Kidul juga pernah menjadi daerah penjualan mocha es krim. Mengenai rasa, Priyo mengatakan ada sebelas varian rasa, yakni strawberry, strawberry-vanilla, vanilla, vanilla-strawberry, vanilla-cokelat, vanilla-durian, cokelat-vanilla, durian-vanilla, durian, cokelat, dan durian-cokelat. Dari sebelas rasa vanilla-cokelat atau sebaliknya, mochi dan es krimnya bisa dipesan dengan rasa yang berbeda. Misal mochi rasa vanilla dengan es krim rasa cokelat. Lebih cantik lagi biasanya diberi toping di atasnya. Dalam proses produksinya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertama Priyo membuat adonan mochi terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan penggarapan es krimnya dengan bebarapa varian rasa. Untuk mochi sendiri dengan campuran 1 kilogram tepung beras, 1 kilogram gula, dan tepung kanji. Sedangkan adonan es krimnya berupa susu, gula, dan putih telur. Terakhir diberi beberapa varian rasa ke dalam mochi dan es krimnya. Kemudian dimasukkan ke dalam kotak pendingin. Untuk rasa cokelat berasal dari cokelat batangan. Rasa vanilla diberi susu bubuk dengan rasa vanilla juga. Dan rasa lainnya dicampurkan buah-buahan yang ada, seperti strawberry dan durian. Mochi es krimnya meraih penghargaan best seller dalam ketegori bisnis inovatif yang diselenggarakan oleh STIE YKPN Jogja pada November 2011. “Pelanggan produk kami semua umur. Harganya terjangkau. Kami sering juga menerima pesanan dari orang yang punya acara seperti arisan keluarga, pesta pernikahan, dan pesta ulang tahun. Pemasarannya saat ini untuk wilayah Magelang dan Jogja. Biasanya pelanggan bisa datang langsung ke tempat produksi atau di lapangan rindam Magelang pada hari Minggu pagi. Bisa juga delivery order untuk wilayah Magelang,” jelas Priyo. Mochi es krim memang lebih awet disimpan dalam kotak pendingin. Mc.Bee bisa bertahan hingga 20-45 menit jika sudah dikeluarkan dari kotak pendingin. “Sistemnya kan memang lebih enak dimakan saat itu juga, karena es krim akan meleleh di dalam mochi jika tidak langsung dimakan,” tambahnya. Dengan kemasan yang sederhana dan menarik Mc.Bee tidak menggunakan bahan pengawet dan semacamnya. “Untuk menjaga kebersihan dan tetap baru daya tahannya jika dimakan, kami tidak menggunakan bahan pengawet,” ujar Priyo. Omset Mencapai Rp 10 Juta Per Bulan Mc.Bee diproduksi di rumah di Dusun Wonosuko RT 19/ RW 08, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan modal awal Rp 500 ribu. Mc.Bee yang diolah secara manual bisa beromset mencapai Rp 9 juta – Rp 10 juta per bulan. Setiap hari Priyo yang kini dibantu dua karyawan mampu memproduksi hingga 400 – 800 biji Mc.Bee per hari. Apalagi jika untuk pesanan acara tertentu bisa lebih dari itu. Seperti slogan yang ingin memanjakan pembelinya, Mc.Bee dapat menyebabkan ketagihan, kenikmatan, rasa ingin mencoba lagi tanpa menguras dompet Anda. Tagline atau slogannya adalah Love Your Taste, tidak hanya melihat saja tapi bisa mencobanya. Sebagian pemasarannya tersebar di beberapa daerah di Magelang dan Jogja. Paling jauh pernah sampai daerah Wates. Selebihnya dari kampus ke kampus dan tempat tetapnya berada di Alun-alun Kidul, Jogja. Mochi es krim ini dihargai Rp 4.000 per biji. “Pembelinya yang cenderung kaum hawa lebih menyukai rasa vanilla-cokelat. Untuk itu dulu kami sempat hargai lebih mahal dibanding mochi es krim rasa strawberry,” terang Priyo. Mengapa dahulu untuk rasa strawberry paling murah dibanding lainnya? Priyo mengungkapkan, bahan baku untuk rasa strawberry memang yang paling murah. Dari buah strawberry asli sudah bisa didapatkan rasanya untuk mochi es krimnya. Pada awalnya kalau dilihat peluang di Jogja memang belum pernah ada untuk mochi eskrim. Hingga mereka bertiga membandingkan dan mencari harga yang pas untuk masyarakat Jogja. “Rasakan dinginnya kutub utara di dalam mochi,” ujar Priyo sambil menata mochi di piring. Dalam waktu dekat ini Priyo juga berencana untuk menambah varian rasa. Blueberry akan menjadi inovasi rasa baru. “Harapannya bisa menambah varian rasa. Ke depannya juga ingin tetap mencoba hal-hal yang baru terkait usaha ini,” tuturnya. (Anissa Nurul Kurniasari)
Priyo Nugroho (berkaos kuning) dengan produknya[/caption] Alumni jurusan teknik informatika itu awalnya hanya iseng-iseng saja. Saat Priyo menginjak semester lima dan tidak ada kegiatan yang terlalu padat, ia menemukan ide membuat mochi es krim ini. Dia mencari contoh resep membuat kue Jepang itu melalui buku dan internet. Ia lantas tertarik untuk berkreasi “mengutak-atik” kue mochi. Resep sudah didapat dan Priyo mencoba mengolahnya sesuai apa yang dilihatnya di internet. Penuh perjuangan maksimal, Priyo dan keempat temannya sempat gagal hingga tiga bulan lamanya. Tak mudah baginya mengolah panganan tanpa memiliki kemampuan masak-memasak. [caption id="attachment_17055" align="alignnone" width="300"]
Produk Mc.Bee dengan toping di atasnya[/caption] [caption id="attachment_17056" align="alignnone" width="225"]
Tampilan Mc.Bee rasa strawberry[/caption] “Mulanya kami berlima yang sama-sama satu kampus, satu kelas, dan satu atap, sekadar iseng-iseng membuat mochi es krim. Tapi, kedua dari teman kami mundur untuk menjalani usaha ini karena fokus kuliah. Akhirnya kami hanya bertiga,” terangnya saat ditemui Sabtu (3/1/2015) pagi. Saat itu di Jogja belum ada yang membuat mochi es krim dan hal itu merupakan peluang bisnis yang menggiurkan. Mereka mengapresiasikannya tepat pada bulan Ramadhan tiga tahun lalu. Mereka mencoba memproduksi di rumah kontrakannya, dan menjualnya di sekitar kampus UGM setiap sore hari menjelang buka puasa. Agar keren, lelaki yang akrab dipanggil Tambun ini memberi nama produknya dengan sebutan Mc.Bee. Nama yang mirip dengan produk makanan cepat saji asal Amerika Serikat. “Bee sendiri berarti lebah, yang secara filosofis yaitu saling berbagi,” kata Priyo. Ia menuturkan sempat kesulitan untuk membuat mochi dan es krim. “Kami pernah membuat mochi dengan hasil yang tidak bagus. Didapatkan mochi masih lengket di dalam loyang hingga sebagian tekstur mochi rusak. Bahkan tidak mulus saat pertama kali produksi. Hingga dua ember adonan es krim sempat terbuang karena masih terasa sekali untuk aroma dan rasa telurnya,” ceritanya. [caption id="attachment_17057" align="alignnone" width="300"]
Mochi es krim Mc.Bee digemari kaum perempuan[/caption] Priyo dan kedua temannya akhirnya sepakat tetap mencoba berulang kali untuk mendapatkan mochi es krim dengan hasil yang baik. Beberapa tempat di Jogja ia sambangi sebagai tempat penjualan mochi es krimnya. Biasanya mereka lebih memilih tempat goes to campus jika ada acara. Alun-alun Kidul juga pernah menjadi daerah penjualan mocha es krim. Mengenai rasa, Priyo mengatakan ada sebelas varian rasa, yakni strawberry, strawberry-vanilla, vanilla, vanilla-strawberry, vanilla-cokelat, vanilla-durian, cokelat-vanilla, durian-vanilla, durian, cokelat, dan durian-cokelat. Dari sebelas rasa vanilla-cokelat atau sebaliknya, mochi dan es krimnya bisa dipesan dengan rasa yang berbeda. Misal mochi rasa vanilla dengan es krim rasa cokelat. Lebih cantik lagi biasanya diberi toping di atasnya. Dalam proses produksinya dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertama Priyo membuat adonan mochi terlebih dahulu. Kemudian diikuti dengan penggarapan es krimnya dengan bebarapa varian rasa. Untuk mochi sendiri dengan campuran 1 kilogram tepung beras, 1 kilogram gula, dan tepung kanji. Sedangkan adonan es krimnya berupa susu, gula, dan putih telur. Terakhir diberi beberapa varian rasa ke dalam mochi dan es krimnya. Kemudian dimasukkan ke dalam kotak pendingin. Untuk rasa cokelat berasal dari cokelat batangan. Rasa vanilla diberi susu bubuk dengan rasa vanilla juga. Dan rasa lainnya dicampurkan buah-buahan yang ada, seperti strawberry dan durian. Mochi es krimnya meraih penghargaan best seller dalam ketegori bisnis inovatif yang diselenggarakan oleh STIE YKPN Jogja pada November 2011. “Pelanggan produk kami semua umur. Harganya terjangkau. Kami sering juga menerima pesanan dari orang yang punya acara seperti arisan keluarga, pesta pernikahan, dan pesta ulang tahun. Pemasarannya saat ini untuk wilayah Magelang dan Jogja. Biasanya pelanggan bisa datang langsung ke tempat produksi atau di lapangan rindam Magelang pada hari Minggu pagi. Bisa juga delivery order untuk wilayah Magelang,” jelas Priyo. Mochi es krim memang lebih awet disimpan dalam kotak pendingin. Mc.Bee bisa bertahan hingga 20-45 menit jika sudah dikeluarkan dari kotak pendingin. “Sistemnya kan memang lebih enak dimakan saat itu juga, karena es krim akan meleleh di dalam mochi jika tidak langsung dimakan,” tambahnya. Dengan kemasan yang sederhana dan menarik Mc.Bee tidak menggunakan bahan pengawet dan semacamnya. “Untuk menjaga kebersihan dan tetap baru daya tahannya jika dimakan, kami tidak menggunakan bahan pengawet,” ujar Priyo. Omset Mencapai Rp 10 Juta Per Bulan Mc.Bee diproduksi di rumah di Dusun Wonosuko RT 19/ RW 08, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dengan modal awal Rp 500 ribu. Mc.Bee yang diolah secara manual bisa beromset mencapai Rp 9 juta – Rp 10 juta per bulan. Setiap hari Priyo yang kini dibantu dua karyawan mampu memproduksi hingga 400 – 800 biji Mc.Bee per hari. Apalagi jika untuk pesanan acara tertentu bisa lebih dari itu. Seperti slogan yang ingin memanjakan pembelinya, Mc.Bee dapat menyebabkan ketagihan, kenikmatan, rasa ingin mencoba lagi tanpa menguras dompet Anda. Tagline atau slogannya adalah Love Your Taste, tidak hanya melihat saja tapi bisa mencobanya. Sebagian pemasarannya tersebar di beberapa daerah di Magelang dan Jogja. Paling jauh pernah sampai daerah Wates. Selebihnya dari kampus ke kampus dan tempat tetapnya berada di Alun-alun Kidul, Jogja. Mochi es krim ini dihargai Rp 4.000 per biji. “Pembelinya yang cenderung kaum hawa lebih menyukai rasa vanilla-cokelat. Untuk itu dulu kami sempat hargai lebih mahal dibanding mochi es krim rasa strawberry,” terang Priyo. Mengapa dahulu untuk rasa strawberry paling murah dibanding lainnya? Priyo mengungkapkan, bahan baku untuk rasa strawberry memang yang paling murah. Dari buah strawberry asli sudah bisa didapatkan rasanya untuk mochi es krimnya. Pada awalnya kalau dilihat peluang di Jogja memang belum pernah ada untuk mochi eskrim. Hingga mereka bertiga membandingkan dan mencari harga yang pas untuk masyarakat Jogja. “Rasakan dinginnya kutub utara di dalam mochi,” ujar Priyo sambil menata mochi di piring. Dalam waktu dekat ini Priyo juga berencana untuk menambah varian rasa. Blueberry akan menjadi inovasi rasa baru. “Harapannya bisa menambah varian rasa. Ke depannya juga ingin tetap mencoba hal-hal yang baru terkait usaha ini,” tuturnya. (Anissa Nurul Kurniasari) 




























