"Soeharto: Golkar Musti Ganti Gambar Dua Celeng"

Jakarta - Kisruh di internal Partai Golkar semakin menjadikan Partai berlambang beringin ini melenceng dari jati diri partai politik yang berkuasa di era Orde Baru selama era kepemimpinan Presiden Soeharto. Lebih konyol lagi, mereka yang berseteru justru antar para senior kawakan Golkar yang membuat kalangan kader yunior Partai jadi kebingungan. Pasalnya, para tokoh tua Golkar malah kayak anak-anak kecil berebut mainan. Andaikan Soeharto masih hidup, kira-kira dia akan berucap begini: “Hmm… Dengan demikien, ini akan semangkin membuat kasus daripada kekisruhan di Golkar semangkin memaluken…” Untuk membayangkan apa reaksi Soeharto andaikan masih hidup, maka Obsession News membuat wawancara imaginer dengan mantan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Almarhum HM Soeharto tentang kira-kira apa saja yang mungkin dilakukan beliau melihat keruwetan tersebut. Berikut wawancara Obsession News (ON) dengan mantan Presiden HM Soeharto (HMS) tentang skandal kekisruhan di Golkar sekarang yang menghebohkan konstelasi politik di Indonesia saat ini. ON:  Begini, Pak. Golkar sekarang kok beda sekali dengan dulu ketika Bapak masih jadi Ketua Dewan Pembina? Kenapa sekarang Golkar jadi kisruh? HMS: Hhmmm… Kisruh yang terjadi dari pada Golkar itu menunjukken mental dari pada pengurus Golkar yang mementingken perutnya sendiri ketimbang kepentingan dari pada rakyat dari pada bangsa. Mereka pada tidak becus jadi pemimpin. Mereka pada merasa jadi pahlawan yang paling bener, sok pinter sendiri. Saya dulu 32 tahun memimpin Golkar disegani. Sekarang pemimpin Golkar tidak jaga wibawa, sehingga tidak disegani. ON: Dulu tidak ada kubu-kubuan. Kalau ada intrik internal pun mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Sekarang tidak saja konfliknya sangat terbuka, namun juga sangat memalukan. Mengapa? HMS:  He…he…hee…. Kekisruhan di Golkar sekarang semangkin memaluken. Yah kalau dulu ada yang macem-macem sama Golkar, pasti saya gebuk. Apalagi yang macem-macem orang Golkar sendiri, pasti saya gebuk-gebuk. ON: Oh, jadi harus begitu ya Pak? HMS: Orang-orang Golkar ini pinter-pinter, karenanya sering susah diatur. Mereka dibiarken ngomong, pating celometan. Jika mengaturnya  hanya dengan ucapan tok, mereka seperti dininaboboken. Bisa Ketiduran. Mangkanya, mesti digebuk, baru mereka mengerti. ON: Sekarang bagaimana Pak? HMS: Lha siapa yang bisa menggebuk, wong mereka itu sejajar. Kedudukannya hampir sama tinggi, pengalamannya  maupun pendidikannya hampir setara. Jadi siapa bisa menggebuk siapa. Kalau dulu saya selain dari pada Ketua Dewan Pembina Golkar, Saya juga Presiden. Jadi siapa yang berani macem-macem sama saya dan Golkar? ON: Bukankah sekarang ada orang semacam Akbar Tandjung, Jusuf Kalla (JK), maupun mantan Presiden Habibie. Mengapa mereka pun sepertinya tidak berkutik juga? HMS: Ya, terang ndak bisa. Wong mereka sejajar dan secara, kebetulan saja kubunya berbeda. Misalnya, Akbar Tandjung kelihatan lebih dekat kepada Aburizal Bakrie (ARB). Sementara JK kelihatannya lebih intim dengan Agung Laksono. Akan halnya Habibie, meskipun sepintas kelihatan netral, sepertinya sudah main mata dengan ARB. Jadi intinya, jika mereka setara tidak mungkin dapat mengatur pihak yang lain. Apalagi mereka sudah tidak netral. Kalau dulu saya sebagai Ketua Dewan Pembina selalu mendudukken para kader Golkar sejajar satu sama lain. Jika ada yang menonjol atau menonjolkan diri dengan membuat pernyataan di media secara terbuka, pasti saya tegur. Kalau macem-macem, ya saya gebuk. ON: Masalah Golkar di luar pemerintahan bagaimana menurut Bapak? HMS: Ini ‘ken yang membuat saya prihatin. Kok, ya ada-ada saja pengurus Golkar sekarang. Wong partai ini didirikan selain untuk mencegah gerak laju daripada Partai Komunis Indonesia (PKI), pada masa pemerintahan lalu. Juga partai ini dibentuk untuk memperkuat pemerintahan agar tidak mudah paham asing masuk dan merusak sendi-sendi kehidupan dari pada berbangsa dan bernegara berdasarkan UUD 45 dan Pancasila. Di dalam pemerintahan ‘ken tidak harus manut begitu saja. Kalau pemerintah berjalan dengan baik wajib kita dukung. Sebaliknya, kalau pemerintahan melenceng yang kita ingatkan. Kalau masih tetap membandel, ya kita jewer. Namun Golkar tidak pernah didesign untuk berada di luar pagar pemerintahan. Karena Golkar doktrinnya adalah partai kekaryaan, jadi ya harus  berada di pemerintahan. ON: Lha, kalau mereka tetap ngotot di luar pemerintahan? HMS: Ya, itu tidak benar. Lihat saja mengapa Golkar mengambil lambang pohon beringin rindang. Itu menggambarken bahwa Golkar mengayomi semua orang. Tempat berlindung dari pada rakyat. Siapa yang dapat melindungi dan jadi pelindung dari pada rakyat? Ya tentu saja pemerintah. Karenanya ndak usah macem-macem lah. Kembali ke asalnya. Kalau ndak mau dan tetap ngotot berada di luar pemerintahan, ya jangan pakai lambang itu lagi. Ganti dengan lambang lain, seperti gambar dua celeng (babi hutan- red) yang saling nyeruduk. Inget! lambang Golkar juga dijadikan lambang Korp Pegawai Republik Indonesia atau Korpri. Ini artinya atau mengindikasikan bahwa Golkar tidak mungkin dipisahken dari pada pemerintahan. (Arief Turatno)