Peristiwa Budaya 2014, Ngalap Berkah, Ngejar Pangkat

Kaleidoskop Bidang Budaya 2014:Peristiwa Budaya 2014, Ngalap Berkah, Ngejar Pangkat Kultur Indonesia tulen adalah kultur agraris, dan budaya ini cenderung lebih percaya kepada yang ghoib daripada usaha nyata. Lihat saja selama perhelatan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) yang berlangsung tanggal 9 April 2014. Tidak sedikit para anggota dewan yang menyerahkan keberuntungannya kepada para orang pinter alias dukun. Bahkan ini dilakukan pasca Pileg, terutama mereka yang stress karena gagal terpilih menjadi anggota dewan. Dan tujuan mereka menemui orang pinter adalah untuk menghilangkan stresnya. Maka tidak heran jika saat Pileg beberapa waktu lalu para orang pinter alias dukun kebanjiran pasien, yang umumnya para calon anggota dewan. Memang mereka ada yang berhasil, namun tidak jarang yang gagal. Bagi mereka yang berhasil, tentu saja akan semakin percaya kepada kemampuan sang dukun. Namun bagi yang gagal, tidak jarang yang muncul adalah sumpah serapah. Selain orang pinter yang diuber, para calon anggota dewan yang ingin terpilih juga mendatangi tempat-tempat keramat, seperti makam keramat Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat (Jabar), Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur (Jatim), termasuk petilasan-petilasan Kramat di Serang, Banten. Pertanyaan dan persoalannya mengapa dukun dan tempat keramat jadi tujuan para caleg? Lebih murah Mereka menganggap cara spiritual semacam itu lebih mudah, serta lebih murah. Dibandingkan jika mereka harus membagi-bagikan sejumlah uang kepada konstituen. Dan umumnya, cara demikian dilakukan para caleg yang memiliki dana pas-pasan tetapi tetap nekad bertarung di kancah Pileg. Maka seperti diberitakan salah satu media ibukota ada caleg yang sampai menyembah pohon. Caleg DPR RI ini dikabarkan berasal dari Daerah Pemilihan (Dapil) DKI Jakarta. Pertanyaannya apakah caleg penyembah pohon tadi terpilih? Tidak dijelaskan oleh media bersangkan tentang kelanjutan nasib caleg tadi. Tidak hanya menyembah pohon, banyak juga yang kungkum (mandi berendam) di sungai supaya terpilih dan dipilih jadi anggota dewan. Fenomena semacam itu seolah-olah telah menjadi budaya bangsa ini, yakni mencoba mengalap (mencari) berkah,sembari mengejar pangkat. Ini tidak hanya dilakukan para caleg, tetapi juga dikerjakan para calon Kepala Desa (Kades), para calon Kepala Daerah. Bahkan para calon Presiden pun tidak jarang melakukan ritual semacam itu. Seperti diungkapkan salah seorang paranormal cukup kondang di Jakarta. Paranormal ini mengaku pernah diminta mendampingi salah seorang calon Presiden yang tengah melakukan ritual di makam Keramat Kadilangu, Demak, Jateng. Ketika ditanya mengapa ritual semacam itu mesti dilakukan, paranormal tadi dengan enteng menjawab bahwa itu sudah menjadi tradisi turun-menurun serta sudah menjadi warisan budaya bangsa. Bagian budaya bangsa Paranormal tadi menggambarkan bahwa ritual semacam itu, sama halnya dengan tradisi sekatenan di Keraton Solo, atau Pajang Jimat setiap bulan Maulud di Cirebon. Dikatakannya bahwa itu sudah menjadi bagian budaya bangsa kita yang sulit ditinggalkan. Dan karena tahun 2014 adalah tahun hajat besar di negeri ini dengan adanya Pileg dan Pilpres. Maka tidak heran jika tahun ini memang paling ramai orang melakukan ritual ngalap berkah, ngejar pangkat. Sekarang pertanyaannya adalah sejauh mana tingkat keberhasilan para caleg yang melakukan ritual semacam itu?Tidak ada data yang pasti mengenai hal ini, karena umumnya orang-orang semacam tadi, yang pergi ke dukun atau tempat-tempat keramat tidak pernah melakukannya secara terbuka, apalagi mendaftarkan diri dan dicatat segala. Sehingga tentu sangat sulit mendapatkan data mereka. Namun dilihat dari tetap ramainya tempat-tempat seperti tadi, maka kemungkinan banyak juga yang berhasil. Sehubungan dengan itu, ada sesuatu yang menarik dan menggelitik serta perlu diketengahkan disini. Ini ceritera dari seorang paranormal yang mengaku banyak didatangi pasien yang umumnya para caleg jelang Pileng 9 April 2014 lalu . Paranormal yang tinggal di salah satu desa di Kabupaten Tegal, Jateng mengatakan bahwa agar dia dipercaya keampuhannya, maka harus banyak menjaring caleg. Artinya, jika caleg yang satu gagal, maka yang lain kemungkinan bisa berhasil. Kalau dalam kancah perpolitikan nasional, mungkin sikap paranormal ini mirip dengan istilah berdiri di dua perahu. Pokoknya serba untung, dan fenomena semacam itu, kenyataannya tidak hanya dilakukan paranormal tadi saja. Namun dilakukan oleh hampir sebagian besar paranormal yang ada di tanah air. Tinjaun psikologis Dari tinjaun psikhologis atau kejiwaan orang-orang semacam tadi, dianggap rawan terkena serangan stress. Dan berdasarkan catatan yang ada, data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI caleg penderita stress ini tidak hanya terjadi di Pileg 2014 saja. Namun juga terjadi di Pileg 2009. Data ini menyebutkan bahwa ada sekitar 49 caleg DPR RI , 499 caleg DPRD Provinsi, 4 caleg DPD, dan sekitar 6.837 caleg kabupaten/kota yang berpotensi gila. Jika data tersebut benar, sama saja artinya bahwa upaya ngalap berkah ngejar pangkat, tidak hanya terjadi di tahun 2014 saja. Namun terjadi sepanjang tahun, dan khususnya di setiap Pemilu. Hanya di tahun 2014 jumlah yang berpotensi menderita stress lebih banyak dibanding Pileg 2009. Menurut data 1246 caleg DPR RI, 12.412 caleg DPRD Provinsi, 111 caleg DPD dan 169.198 caleg kabupaten/kota terancam stress. Kenyataannya? Kembali bahwa belum ada penelitian mengenai berapa banyak para caleg yang gila, atau pun bunuhdiri karena gagal tidak terpilih jadi anggota dewan. Meskipun begitu fenomena semacam itu dipastikan ada, hanya mungkin skalanya lebih kecil. Apa pun kesimpulannya, itulah fenomena budaya bangsa kita yang setidaknya telah mewarnai kehidupan bermasyarakat dan berbangsa sepanjang tahun tahun 2014 ini. (Arief Turatno)





























