Faisal Basri: Harga BBM Bisa Turun, Kapan?

Jakarta - Kontrovesi bahan bakar minyak (BBM) perlu diluruskan oleh pemerintah, karena ini sudah menjadi keresahan rakyat. Apalagi, harga minyak dunia saat ini semakin turun terus menerus dan dipekirakan anjlok di tahun depan, namun Indonesia malah menaikkan harga BBM. Terkait menurunnya harga minyak mentah di pasar dunia, adakah kemungkinan pemerintah akan menurunkan harga BBM? “Saya pikir itu bisa saja terjadi, BBM bisa diturunkan dimana sekarang bensin rakyat itu RON 88 nanti berdasarkan rekomendasi ini bensin rakyat itu bisa turun RON 92. Jadi, cocok dengan Pak Rizal Ramli,” ungkap Kepala Tim Khusus Reformasi Tata Kelola Migas, Faisal Basri kepada Obsession News di sela-sela konferensi pers tentang rekomendasi penentuan harga BBM bersubsidi yang dieglar di Gedung ESDM, Jakarta, Minggu (21/12/2014). Meski Faisal menyebutkan ada kemungkinan penurunan harga BBM, namun ia tidak berani memastikan apakah harga BBM akan diturunkan dalam waktu yang dekat ini. “Kalau persoalan harga fleksibel bisa lebih rendah dari delapan setengah (Rp8.5000- red) atau bisa lebih tinggi dari delapan setengah, kan harga berubah terus tiap hari, tapi tidak setiap hari berubah 8 ribu atau 9 ribu,” ujar ekonomi senior ini. Pada kesempatan ini, Faisal mengaku kalau rekomendasi Tim Khusus Reformasi Tata Kelola Migas tersebut sudah diajukan kepada Menteri ESDM dan sudah diperiksa. “Berdasarkan pengalaman saya itu dikomunikasikan oleh menteri ke rekan-rekan menteri ekonomi lain dan ujungnya ke Presiden,” jelasnya. Melalui rekomendasi, lanjutnya, Pertamina butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya. "Jadi perlu kasih waktu Pertamina dan perlu diketahui bahwa kami tidak merekomendasikan harga. Patokan kami melalui rumus yang kami jabarkan semua masyarakat bisa hitung patokan berapa berdasarkan MoPS plus alfa. Jadi tidak ada usulan harga berapa lagi, otomatis pakai rumus yang kami ajukan. Tinggal berapa alfanya itu nanti ditentukan oleh pemerintah dan DPR. Jadi kita tidak ngurusin harga berapa,” tegas Faisal. “Jadi MoPS (harga transaksi di bursa Singapura) ini bergerak terus dimana MoPS mengikuti harga internasional, dan tidak berarti besok turun kemudian BBM turun atau besok naik langsung begitu juga naik tapi ada batasan harga atas dan bawah, kalau melampaui harga atas berarti harga berubah dan kalau melebihi harga bawah bisa jadi harga turun. Jadi jangan dibayangkan seolah-olah naik terus tapi turunpun bisa,” tandasnya. Yang jelas, Faisal menyebutkan kalau harga BBM bisa turun. “Jadi, kesimpulannya harga BBM bisa turun, sangat bisa. Tapi semua itu planing dari pemerintah kapan mau menurunkan, cuma kami hanya merekomendasikan saja,” ungkapnya. Ia pun menyanggah mengenai harga Pertamax di Amerika Serikat yang mencapai harga Rp8.700 dan harga premium Rp 6.500. “Itu tidak betul, kami punya data kalau tentang itu,” elak Faisal seolah membantah pernyataan Kwik Kian Gie yang tampil di TV One, kemarin. Sebagaimana diberitakan, harga rata-rata Pertamax di Amerika Serikat sebesar 2,679 dolar AS per galon tersebut setara dengan Rp8.731 per liter, dengan menggunakan kurs tengah BI per 10 Desember 2014 sebesar Rp12.336 per dolar AS. Lebih lanjut, Faisal mengaku tugasnya sebagai Kepala Tim Khusus Reformasi Tata Kelola Migas tidak mengurusi mafia migas. “Kalau saya tidak mengurusi mafia migas, tapi mengurusi bagaimana migas Indonesia ini bisa bagus,” kilahnya. "Kami tidak bertugas temukan mafia migas, tapi bagaimana menciptakan lingkungan yang bersih agar para rente nggak masuk. Begitu," tandasnya. Tugas menciptakan lingkungan tata kelola migas yang bersih itu, jelas dia, misalnya menyederhanakan sistem rumus perhitungan tata niaga migas yang ruet menjadi lebih mudah dipahami. Kongkritnya, lanjut Faisal, misalnya rumus proses yang ruwet kemudian membuat Indonesia satu-satunya pembelian minyak RON 88. “Ini membuka peluang adanya praktik yang merugikan kita. Parahnya lagi kita sebagai pembeli RON 88 dan terbesar ternyata enggak punya bargaining sama sekali dan tak bisa ikut menentukan harga. Makanya, kami buat biar lebih transparan dan bisa dipahami semua pihak," terangnya. Sebelumnya, Kwik Kian Gie menghitung berdasarkan hasil rata-rata harga minyak mentah dunia sebesar 80 dolar AS per barel, jika di kurs ke rupiah, satu barel yang setara dengan 159 liter, maka per liternya sama saja seharga Rp 6.088 dengan kurs Rp 12.100. Namun, menurut Kwik, kalau pemerintah berpijak dengan harga MoPS di Singapura, yang harga rata-rata FOB Singapura 88,8 dolar AS per barel, plus ongkos angkut 1 dolar AS per barel, maka harga jualnya di 89,8 dolar AS per barel atau setara Rp6.833,84 per liter. Selain itu ada biaya distribusi sebesar Rp 600 per liter sehingga biaya hingga ke SPBU menjadi Rp7.433,84 per liter. Pemerintah juga mengenakan Pajak PPN, PBBKB (15%) sebesar Rp1.115,08 per liter sedangkan pemerintah menjual BBM di SPBU Rp8.500 per liter. Harga BBM turun adalah suatu keniscayaan. Saat kepemimpinan Presiden SBY sempat menurunkan harga BBM bersubsidi. Pengumuman penurunan harga BBM dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani pada 6 November 2008. Saat itu harga premium turun Rp 500 dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500 per liter. Penurunan harga hanya berlaku bagi BBM premium mulai 1 Desember 2008. Penurunan kedua, diumumkan langsung oleh Presiden SBY pada 14 Desember 2008. Premium turun menjadi Rp 5.000 per liter dan solar menjadi Rp 4.800 per liter mulai berlaku pada 15 Desember 2008. Selanjutnya, Presiden SBY kembali menurunkan harga BBM pada 12 Januari 2009. Harga premium turun dari Rp 5.000 per liter menjadi Rp 4.500 per liter. Untuk solar turun dari Rp 4.800 menjadi Rp 4.500 per liter. (Asm)





























