Susi Kejar Maling Ikan, Nurbaya Kejar Pembalak Hutan

Susi Kejar Maling Ikan, Nurbaya Kejar Pembalak Hutan Di laut sekarang kita punya Menteri Perikanan dan Kelautan, Susi Pudjiastuti, di hutan kita juga punya Srikandi, yakni Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar. Jika Susi telah menggebrak para maling ikan dengan cara bersikap tegas, yakni menenggelamkan kapal mereka. Kita masih menunggu apa yang kemungkinan akan dilakukan Nurbaya ini. Dua-duanya adalah tipikal pekerja keras, namun dibesarkan dengan cara yang berbeda.Susi matang melalui praktek langsung, sedang Nurbaya sebagian hidupnya ditempa melalui jalur akademis, lainnya lewat praktek. Susi hanya tamatan SMP, Nurbaya adalah seorang doktor. Perbedaan latar belakang inilah barangkali yang mewarnai kinerja mereka. Lepas dari itu, keberadaan dua Srikandi di jajaran kabinet sekarang sungguh suatu keberuntungan buat Presiden Jokowi. Sebab Nurbaya selain pekerja keras--- telah dibuktikan saat menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri--- dia adalah konseptor handal. Sehingga meskipun gerakan atau gebrakannya tidak teralihat atau tidak terekpos, tetapi kita yakin hasilnya akan dapat kita rasakan. Pekerjaan yang dihadapi Nurbaya pun tidak kalah berat dengan yang dihadapi Susi. Bahkan mungkin jauh lebih berat dan pelik. Karena maling kayu bukan sekedar tukang blandong, maling biasa. Namun Nurbaya mesti berhadapan dengan para maling kayu berdasi yang tidak jarang memiliki jaringan cukup kuat dengan melibatkan para oknum pejabat dan aparat. Dan posisi atau keberadaan para maling kayu ini, hampir menyerupai mafia migas, mereka telah bercokol cukup lama, mengakar dan beranak pinak. Karena kuat dan mengakarnya para maling kayu tersebut, sehingga tidak jarang aparat kerap dibuat angkat tangan alias terpaksa membiarkan pencurian kayu berlangsung. Pernah suatu ketika di tahun 2003, kita mencoba melihat praktek maling kayu di Kalimantan Barat (Kalbar). Sekitar pukul 05.30 WIB sengaja kita menunggu di perbatasan Indonesia-Malaysia, tepatnya di pos pemeriksaan Entikong-Tebedu. Ini kita lakukan untuk melihat bagaimana caranya maling kayu melewati perbatasan Entikong-Tebedu. Ternyata, mereka para maling kayu itu----yang membawa truk-truk bermuatan kayu bulat penuh----dengan gampangnya melewati perbatasan itu. Saat ditanyakan kepada petugas setempat mengapa begitu gampangnya, mereka lewat. Petugas yang bersangkutan cuma mengangkat bahu. Dan ketika hal serupa ditanyakan kepada aparat terkait, mereka menjawab hampir senada. Paling banyak mengatakan bahwa mereka kekurangan tenaga, sehingga tidak dapat berbuat banyak. Namun itu terjadi sekitar sebelas tahun yang lalu, apakah kondisi saat ini masih seperti dulu, kita tidak tahu persis. Karena rata-rata letak kawasan perbatasan juga cukup jauh dari kota terdekat di Indonesia. Keadaan seperti itulah yang mungkin harus dihadapi Siti Nurbaya Bakar, dan yang harus diwaspadai adalah mengingat keberadaannya sudah cukup lama. Maka jangan heran jika akarnya mungkin saja telah menembus ke kementrian segala. Dan sebagai pejabat baru di kementrian tersebut Nurbaya musti jeli dan hati-hati, jangan sampai akar tersebut menyerimpetnya. Dan akhirnya kita tunggu gebrakan Nurbaya dengan menggembesi truk-truk maling kayu tersebut. Dan sekedar catatan para maling kayu tidak hanya lewat daratan, mereka juga banyak yang jalur sungai dan laut. (Arief Turatno)





























