PSSI Siap Diperiksa KPK Soal Mafia Perjudian

PSSI Siap Diperiksa KPK Soal Mafia Perjudian
Jakarta - Anggota EXCO Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Djamal Aziz mempersilahkan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk masuk dalam membuktikan adanya mafia perjudian  yang ada di tubuh PSSI. "KPK silahkan masuk, ayo masuk, kalau bisa menangkap penjudi dan sebagainya mafia itu, silahkan tangkap meski di dalam PSSI. Tentu untuk perbaikan dan kita terbuka," ujar Aziz  dalam acara diskusi di salah satu Cafe bilangan Cikini, Jakarta, Sabtu (20/12/2012). Menurut Aziz, lebih baik lembaga adhoc pimpinan Abraham Samad itu mengurusi permasalahan yang ada di negeri ini. "Jangan sampai lembaga adhoc yang mengurus permasalahan negeri belum selesai, sekarang disuruh masuk ke bola lagi, mau masuk monggo ayo," tegasnya. Untuk itu, lanjut Aziz, KPK dipersilahkan untuk  melakukan pemeriksaan, agar transparansi didalam tubuh PSSI akan terwujud. "Kita senang sekali, ayo biar dia (KPK) tahu, harapan masyarakat bila ada yang dicurigai panggil KPK, monggo ayo silakan," pungkasnya. Sementara itu ditempat yang sama, Pengamat Sepakbola, Tommy Welly menyampaikan bahwa tindakan match fixing (mafia skor) dalam sejumlah pertandingan sepakbola baik di Indonesia maupun di pertadingan dunia sekalipun. Tindakan itu layaknya penyakit sosial yang cepat menjangkit siapa saja. "Sport radar konsultan yang terkait match fixing yang dikontrak UEFA, AFC dan juga kita menjalin kerjasama dengan dia. Match Fixing terjadi dimana-mana karena itu semacam penyakit sosial," ujar Tommy kepada wartawan. Tommy menjelaskan, Match fixing ada macam-macam bentuknya seperti skor, menang-kalah, dan sebagainya. "Hingga dalam pertadingan club sekalas liga Champion tidak luput," jelasnya. Bicara soal match fixing, kata Tommy, sudah jelas prinsipnya integritas sepakbola. Karena kita sudah tahu bahwa hari ini berakhir skornya sekian, berarti sepakbola itu runtuh. "Kita tahu sebelum pertandingan itu dimulai maka sepak bola itu runtuh," katanya. Sehingga, lanjut dia, bila hal itu dibiarkan maka melakukan pembinaan terhadap para bibit-bibit muda menjadi sia-sia. "Kalau sepakbola seperti itu ngapain membina anak-anak yang keluar biayanya jutaan? menjadi sia-sia," pungkas Tommy. (Pur)