Agung Tolak Akbar Tandjung Jadi Mediator

Jakarta - Konflik di tubuh internal Partai Golkar tampaknya akan terus berlarut-larut. Usulan Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tandjung untuk melakukan rekonsialisasi antara dua kubu yang tengah berselisih ternyata ditolak oleh Agung Laksono. Agung menganggap, sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Golkar, Akbar tidak bisa bersikap netral untuk mencarikan jalan tengah dalam rangka mendamaikan kubu Agung dengan kubu Aburizal Bakrie (Ical). Menurutnya, selama ini Akbar terlalu berpihak kepada Ical, sehingga ajakan untuk Islah diragukan. "Kalau mau jadi mediator jangan Akbar Tandjung," ujarnya, Minggu (13/12/2014). Agung ingin, yang menjadi mediator adalah pihak yang tidak berada dalam barisan Ical maupun dirinya, seperti B.J. Habibie dan Cosmas Batubara. Orang-orang ini disamping sudah menjadi tokoh senior di Partai Golkar, mereka juga dianggap paling netral untuk bisa mendamaikan dua kubu. Selain itu, Agung juga mengatakan menolak MS Hidayat jika dirinya ditunjuk sebagai mediator. Namun demikian, Agung mengaku penolakan itu bukan karena atas dasar kebencian, tapi semata-mata untuk kepentingan dan kemajuan Partai Golkar bersama-sama. Ia juga mengaku tetap menjalin persahabatan dengan mereka. Secara terpisah, Wakil Ketua Umum Partai Golkar, versi Agung Laksono, Yoorys Raweyai meminta lebih baik, kubu Ical untuk sabar menunggu keputusan dari Kementerian Hukum Dan Ham yang secara institusi punya hak dan kewenangan untuk mengesankan Partai Golkar yang sah antara dua kubu. "Biarkan pemerintah berfikir matang-matang, jangan didesak terus menerus," katanya. Diketahui, kedua kubu sudah sama-sama melaporkan hasil Munas masing-masing ke Kemenkumham. Mereka meminta agar Menteri Loaly segera mengesahkan kepengurusan Partai Golkar yang baru. Namun, Loaly belum bisa memutuskan karena harus menunggu putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). (Abn)





























