Arsad dan Keluarganya Masih Ngontrak Rp500 Ribu Sebulan

Jakarta - Muhammad Arsad pria 23 tahun warga Ciracas Jakarta Timur yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mendadak ramai diperbincangkan di seluruh media nasional, baik cetak, elektronik, maupun online. Ia menjadi terkenal di media bukan karena prestasinya, tapi ulahnya yang diduga telah menghina Presiden Joko Widodo di media sosial Facebook. Karena ulahnya itu, kini Arsad sudah ditetapkan sebagai tersangka, dan ditahan oleh Mabes Polri. Ia dikenakan pasal berlapis yaitu, pasal pencemaran nama baik dalam Undang-Undang ITE dan UU Pornografi. Ancaman hukuman untuk Arsad mencapai 10 tahun penjara. Namun di balik peristiwa itu, banyak masyarakat yang meminta agar Penahanan Arsad ditangguhkan. Alasanya, Arsad adalah rakyat kecil yang sebenarnya tidak tahu apa-apa mengenai dunia politik. Secara pendidikan juga rendah, kemudian ia juga terlahir dari keluarga miskin yang terbiasa hidup sederhana. Ibu Arsad, Mursidah 49 tahun setiap hari bekerja sebagai pengupas bawang kiriman dari Pasar Induk Kramat Djati. Sedangkan Bapaknya Syarifuddin 55 tahun setiap hari bekerja sebagai buruh bangunan. Arsad adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adenya masih kecil-kecil dan masih ada yang sekolah di SD dan SMP. "Ibu Arsad kerjanya ngupas bawang, satu kilonya dibayar Rp 1500, kalau Arsad setiap hari kerja dibayar Rp 30.000," ujar Elsa, saudara Arsad, saat ditemui di rumahnya, Jalan Haji Jum, RT 9/1, Kelurahan Rambutan, Kecamatan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (31/10/2014). Bahkan dari pantauan Obsession News, rumah Arsad terlihat sederhana, posisinya berada di bawah tepat di pinggir Sungai Cipinang yang berwana hitam pekat dan dipenuhi sampah. Arsad tinggal di rumah tersebut enam orang bersama keluarganya. Dari dalam rumah hanya terlihat ada dua kamar berukuran 3X5 meter, dan dipenuhi dengan perabotan rumah tangga. Elsa menuturkan, Arsad bersama keluarganya sudah lama ngontrak di rumah tersebut, puluhan tahun. Ibu dan bapaknya bukanlah orang asli Betawai melainkan orang Tangerang. Namun, ia sudah lama merantau dan tinggal di Jakarta, sehingga warga juga banyak yang mengenalnya. "Ini rumah masih ngontrak Rp 500 ribu per bulan," kata Elsa. Keluarga Arsad memilih untuk ngontrak di pinggir sungai karena di tempat tersebut murah. Kondisi ekonomi yang memaksa mereka untuk tetap bertahan tinggal di tempat yang kumuh itu. Bahkan, kata Elsa sering kali Rumah Arsad terkena banjir. " Kalau banjir mah langganan setiap tahun," terangnya. Tidak hanya itu, menurut cerita Elsa, setiap lima tahun sekali rumah Arsad sering terkena banjir bandang kiriman dari Kota Bogor, Jawa Barat. Terlebih tepat samping kiri rumah Arsad adalah tempat pembuangan sampah yang sudah membumbung tinggi seperti gunung. Tak heran sering kali buanya kemana-mana mengingkuti arah angin. "Kalau dah banjir ya mengungsi ke depan," tuturnya. Sayang sekali, ibu Arsad dan Bapaknya tidak berada di rumah. Mereka sudah meninggalkan kontraknya sejak pagi tadi pukul 08.00 WIB, ke Mabes Polri untuk menemui anaknya yang kini dikabarkan tengah masuk rumah sakit, karena tidak mau makan. Semenjak ditahan Arsad sering ketakutan dan mengaku menyesal atas perbuatannya itu. (Abn)





























