Mau Batik Berkualitas, Cukup Datang ke Thamcity

Jakarta - Bagi Anda yang penggemar batik Nusantara berkualitas, seperti batik tulis, atau batik cap. Tak perlu harus datang ke Cirebon, Solo, Pekalongan Lasem dan lainnya. Cukup datang ke Thamrin City, Jakarta Pusat, pasti Anda bakal jatuh cinta dengan koleksi batik yang ada. Menurut Lucy Ratna, Public Relation and Promotion Manager Thamrin City, dalam siaran pers yang diterima redaksi ON, Selasa (21/10/2014), pihaknya sengaja menghadirkan para pengrajin batik di Nusantara. "Menghadirkan para pengrajin batik di Jakarta merupakan komitmen dari Thamrin City untuk mengangkat batik sebagai warisan leluhur bangsa Indonesia. Terlebih, kegairahan ini diinspirasi oleh pengakuan terhadap Batik Indonesia oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia," tambahnya. Dikatakan Lucy,Thamrin City sudah memiliki Pusat Batik Nusantara (PBN) berlokasi di lantai dasar 1, lantai dasar, lantai 1, yang menjadi pusat jual beli produk batik nasional. Tak kurang, 950 pengrajin dan pedagang batik berbisnis dan mengembangkan batik nusantara, dengan misi menjadikan batik sebagai tren fashion di dunia. Hingga saat ini, lanjut dia, PBN sudah menghadirkan berbagai pengrajin batik yang berasal dari Pekalongan, Yogyakarta, Bantul, Lasem, Solo Raya, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Purbalinggga, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Sumenep, dan Jepara. "Semakin lengkap, koleksi batik yang ada di Thamrin City dengan hadirnya Batik Batavia, Papua, Kalimantan Selatan dan Batik Tanah Lake dari Padang," ucap Lucy. Kehadiran para pengrajin batik di Jakarta sebagai pusat bisnis dan perdagangan tentu saja mempermudah dan mendekatkan interaksi antara pengrajin dan konsumen batik potensial di ibukota. "Jakarta merupakan pasar yang sangat potensi bagi para pengrajin dan para pengusaha batik asal dari daerah, karena jumlah penduduk dan perputaran uang di Ibukota negar ini sangat besar, selain itu akan semakin mempermudah warga Jakarta untuk mendapatkan batik berkualitas dengan variasi batik yang beragam pula," tambahnya. Jadi, kata Lucy, “Ingat Batik Ingat Thamrin City." Pengrajin Maju Usaha para pengrajin Batik Nusantara di Thamrin City semakin berkembang. Para pengrajin batik dari berbagai daerah yang langsung memasarkan aneka produk kerajinan batiknya tersebut mulai meraih keuntungan signifikan. Seperti dialami oleh Nani Indrawati, salah seorang pengrajin batik Lasem yang sudah hadir di Thamarin City sejak tahun 2010 sudah mulai menikmati keuntungan. Toko Surya Kencana miliknya yang terletak di lantai dasar 1 Thamrin City semakin ramai di kunjungi pembeli dari Jakarta dan luar Jawa. “Saat ini usaha makin maju dan sudah punya empat toko yang tersebar di lantai dasar 1 Thamrin city,” ujar Nani yang ditemui beberapa waktu lalu di tokonya. Menurut Nani, usaha kerajinan batik Lasem miliknya itu melayani pembeli dari Surabaya, Semarang, Sumatera dan Kalimantan. “Pembeli dari luar kota biasanya membeli dalam bentuk grosiran untuk dijual kembali, baik dalam bentuk kain maupun baju laki2 dan perempuan,” jelas Nani. Diakuinya, harga baju batik Lasem dijual berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 750 ribu. “Omset perbulan sekitar Rp 500 juta,” kata Nani. Usaha kerajinan batiknya, menurut Nani, telah mempekerjakan dan sekaligus menghidupi sekitar 150 orang pembatik di daerah Lasem, Pemalang, Jawa Tengah. “Usaha kerajinan batik kami sudah 35 tahun di Lasem dan hubungan kerja dengan para pembatik saling memberi manfaat dan keutungan,”ungkapnya. Menikmati keuntungan sebagai pengarajin batik yang lansung berjualan di Thamrin City juga diakui oleh Suyanto salah seorang pengrajin batik Solo yang sudah berjualan di Thamrin City sejak empat tahun lalu. Usaha kerajinan batik Solo, menurut pemilik Toko Batik Sen’d di Lantai Dasar 1 Thamrin City ini, telah menghidupi ratusan pembatik di Solo yang bermitra dengan usahanya itu. “Usaha kerajinan Batik kami sudah puluhan tahun di Solo,”ungkap Suyanto. Di tokonya, Suyanto menjual aneka jenis kain batik, baju laki-laki dan perempuan, souvenir batik, tas dan dompet batik dengan harga mulai dar Rp 35 ribu hingga Rp 3 juta per helai kain batik. “Toko kami di Thamrin City ramai dukunjungi pembeli dari Jakarta dan luar Jawa seperti Bengkulu, Padang, Jambi,” ujarnya Sebagai pengrajin yang langsung menjual Batik di Thamrin City, menurut Suyanto, mendatangkan keuntungan signifikan. Omset penjualan di toko, kata Suyanto, bisa mencapai Rp 600 juta per bulan sedangkan dari Butik miliknya bisa mencapai Rp 900 juta per bulan. “Saya punya beberapa toko batik di Thamrin City , pada awalnya hanya punya satu toko,” ungkapnya. Diakuinya, batik sudah menjadi trend dan disukai berbagai lapisan masyarakat untuk keperluan kerja dan acara-acara resmi. Sehingga, kata dia, permintaan akan batik semakin meningkat dari waktu ke waktu. “Usaha pengrajin batik semakin menguntungkan sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap batik,” pungkasnya.





























