Robby Sejak Awal Dikenal Akrab dengan Istana

Jakarta - Panitia Seleksi (Pansel) Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi telah menyerahkan dua orang calon pimpinan KPK kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mereka yakni Robby Arya Brata dan Busryo Muqaddas. Dari dua calon itu, nantinya hanya akan dipilih satu orang yang dianggap pantas menjadi pimpinan KPK menggantikan Busryo Muqaddas yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Ketua KPK dan akan berakhir masa jabatannya pada akhir Desember 2014. Berbeda dengan Robby, sosok Busryo mungkin sudah sangat akrab dengan masyarakat Indonesia, kiprahnya di KPK selama empat tahun ini telah membawanya dikenal oleh masyarakat luas. Namun Robby, namanya masih terlihat asing. Ia saat ini dikenal sebagai orang dekat Istana karena ia sudah lama meniti karier di Sekretariat Kabinet. Lantas apa alasan Pansel memilih Robby untuk dijadikan sebagai Pimpinan KPK? Juru Bicara Pansel KPK Imam Prasodjo mengatakan, Robby dinilai memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal persoalan hukum. Ia juga disebut aktif menulis buku mengenai strategi pemberantasan korupsi dan juga pencegahanya. "Harapannya, kandidat ini bisa jadi pilihan dan usianya relatif muda, 49 tahun, dengan pendidikan memadai dan track record-nya cukup baik," ujarnya, di Jakarta, Kamis (16/10/2014). Banyak pihak yang menduga, pemilihan Robby karena secara emosional ia sudah akrab dengan Istana. Namun, Imam membantahnya, Pansel memilih calon pimpinan KPK sesuai dengan aturan yang berlaku yakni, memiliki kemampuan, kepemimpinan, integritas, dan independensi yang tinggi. "Saya pastikan bahwa sama sekali, SMS pun tak ada kaitan dengan hal ini. Pak Robby konsisten bukan hanya penilaian kualitatif, tapi juga kuantitatif penilaian paper. Saya kira ini menjadi saksi semua, tidak ada titip dan pesan-pesanan. Saya jamin itu," terangnya. Di luar itu, Robby memang tercatat pernah menjadi analis hukum Komnas HAM, Plt Kabag Han Setkab, Asisten Kepala Unit Kerja Presiden 2008-2010, dosen pascasarjana FH UI, dan terakhir menjadi Kepala Bidang Hubungan Internasional Sekretariat Kabinet. Dia meraih gelar doktor di Australia National University pada tahun 2001. Bahkan, pada 2010, Roby pernah menuliskan gagasannya mengenai penyelamatan KPK yang dimuat dalam sebuah media online. Dalam tulisan itu, Roby menganggap terpilihnya Antasari sebagai ketua KPK merupakan bagian dari skenario pembusukan internal KPK. Artinya, Robby meragukan integritas Antasari. Baik Busryo maupun Roby setelah ini nama mereka akan diserahkan ke DPR, untuk mengikuti tes uji kelayakan dan kepatutan. DPR selanjutnya akan memilih satu di antara dua orang itu untuk mengisi posisi wakil ketua. (Abn)





























