Senin, 6 Juli 20

Raden Saleh Belum Layak Jadi Pahlawan Nasional

Raden Saleh Belum Layak Jadi Pahlawan Nasional
* Raden Saleh. (Foto: Wikipedia)

Oleh: Hendrajit, Pengkaji Geopolitik, dan Direktur Eksekutif Global Future Institute

Beberapa waktu lalu di WAG yang anggotanya para penulis senior baik lebih tua maupun lebih muda dari saya, berdebat soal layaknya tidaknya pelukis Raden Saleh dapat gelar pahlawan nasional. Sayangnya yang tidak setuju Raden Saleh jadi pahlawan nasional lebih pada pertimbangan karena pernah bergabung jadi tentara KNIL Belanda.

Ketika saya kemudian ikut nimbrung diskusi itu, saya juga nyatakan Raden Saleh belum layak jadi pahlawan nasional, tapi bukan karena beliau pernah KNIL. Kalau itu jadi pertimbangan, Jenderal Soeharto dan Jenderal Nasution juga pernah menjadi anggota KNIL. Jenderal Urip Sumoharjo juga lulusan KNIL. Jenderal Gatot Subroto juga anggota KNIL

Yang menurut saya Raden Saleh belum pas dapat gelar itu, justru pada sosok dirinya sebagai seniman lukis. Karya-karyanya memang bagus-bagus, termasuk ketika mengabadikan penangkapan Belanda secara licik terhadap Pangeran Diponegoro.

Namun saya dapat kesan, kepribadian Raden Saleh tidak melebur dalam karyanya. Sehingga sebagus apapun karya lukisnya, lebih mengesankan sebagai juru foto daripada juru lukis.

Ada kawan saya mencoba menyanggah dengan mengatakan bukankah lukisannya tentang penangkapan Belanda terhadap Pangeran Diponegoro itu sangat nasionalis dan patriotis? Saya bilang tidak. Karena kesan teman saya itu, seperti juga saya, karena sebelumnya sudah mengetahui sejarah perlawanan Diponegoro kepada Belanda dan Perang Jawa 1825-1830.

Namun bagi yang belum punya gambaran sama sekali mengenai Perang Jawa 1825-1830, bisa punya kesan berbeda, dan narasi sejarah yang berbeda. Karena ya itu tadi, sebagai karya lukis, Raden Saleh tidak berbicara banyak dan tidak punya pesan sentral yang tidak lekang waktu.

Coba bandingkan karys-karya lukis lain seperti Da Vinci, yakni Monalisa. Meskipun lukisannya sangat personal dan fokus pada sosok wanita bernama Monalisa, namun karya Da Vinci berbicara banyak dan sarat pesan.

Da Vinci dalam lukisannya menghadirkan kegelisahan diri pribadinya terhadap sengitnya persaingan antar mahzab di dalam kekristenan pada abad pertengahan di Eropa yang berlangsung secara senyap. Sehingga karya Da Vinci memancarkan kegelisahan psikologis Eropa kala itu.

Tanpa bermaksud membanding-banding, Raden Saleh dalam karya-karyanya tidak memancarkan kegelisahan atau penglihatan intuitifnya mengenai semangat zaman pada era lukisan itu dibuat. Padahal, yang namanya karya seni baik lukis atau sastra misalnya, sejatinya merupakan buah dari perasaan yang tercerahkan dari sang seniman. Yaitu buah dari imajinasi sang seniman.

Sosok Diponegoro dalam lukisan Raden Saleh tidak memancarkan kondisi psikologis orang-orang Jawa saat itu. Atau kebobrokan moral dan spiritual apa yang melanda kerajaan Mataram Yogyakarta sehingga tergambar mengapa Diponegoro terpanggil melawan Belanda sekaligus melawan klik keraton Yogya kala itu.

Itu karena Raden Saleh piawai dalam memotret peristiwa, tapi bukan pelukis yang menggambarkan suasana kebatinan zaman. Sehingga personifikasi Diponegoro dalam memancarkan kegelisahan rakyat Jawa terhadap kolaborasi penjajah asing dan raja Jawa sama sekali tidak tergambar.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.