Sabtu, 4 Desember 21

Produk Industri Agro Perluas Pasar Eskpor ke Uni Eropa

Produk Industri Agro Perluas Pasar Eskpor ke Uni Eropa
* Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Jakarta, Obsessionnews.com – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto meminta produk-produk industri dalam negeri, terutama pada sektor agro tidak lagi dikenakan tarif anti dumping. Hal tersebut dilakukan agar dapat meningkatkan ekspor komoditas Indonesia ke Benua Biru.

Permintaan tersebut disampaikan Airlangga usai melakukan bilateral meeting dengan komisioner untuk pertanian dan pembangunan daerah Uni Eropa, Phil Hugan, di Jakarta, Selasa (8/11/2016).

“Kami telah membahas mengenai perkembangan (comprehensive economic partnership agreement/CEPA) Indonesia dan Uni Eropa termasuk terkait pengenaan dumping produk kita seperti minyak sawit, biodiesel dan turunannya,” melalui keterangan pers yang diterima Obsessionnews, Rabu (9/11).

Selain itu, Indonesia dan Uni Eropa terus berupaya menanamkan kerja sama perdagangan dan investasi melalui perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif CEPA serta memperluas pasar ekspor bagi produk-produk industri dalam negeri ke Uni Eropa.

“Apalagi Vietnam dan Singapura tengah memproses pemanfaatan CEPA dengan Uni Eropa, maka kita juga harus bisa lebih berdaya saing,” ujarnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbicang dengan European Union Commissioner for Agricultural and Rural Development Mr. Phil Hogan (tengah) serta Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Mr. Vincent Guerend sebelum melakukan Bilateral Meeting di Jakarta, 8 November 2016.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berbicang dengan European Union Commissioner for Agricultural and Rural Development Mr. Phil Hogan (tengah) serta Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam Mr. Vincent Guerend sebelum melakukan Bilateral Meeting di Jakarta, 8 November 2016.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengungkapkan ada beberapa peluang kerja sama investasi di sektor industri agro yang akan dilakukan Indonesia-Uni Eropa, seperti pengembangan produk makanan berbasis susu dan penerapan teknologi penggemukan sapi.

“Kami juga mendorong peningkatan ekspor untuk industri hasil hutan seperti pulp dan kertas,” tuturnya.

Panggah menambahkan, pihak Uni Eropa akan memfasilitasi standarisasi produk-produk industri agro asal Indonesia dengan standar yang berlaku di Uni Eropa. “Eropa memakai standar yang tinggi, sehingga kita akan lakukan penyesuaian supaya produk-produk dalam negeri bisa masuk ke sana,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa di  tahun 2015 mencapai USD 26,4 miliar. Uni Eropa merupakan mitra ke-4 terbesar Indonesia dalam perdagangan luar negeri. Sementara di bidang investasi, Uni Eropa berada pada posisi ke-3 terbesar dengan nilai mencapai USD 2,26 miliar.

Selain itu, Uni Eropa merupakan pasar ekspor non-migas terbesar bagi Indonesia. Jika pasar dibuka lebih luas lagi maka dapat mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi. Pada tahun 2015, nilai perdagangan bilateral dengan Jerman mencapai USD 6,1 miliar, Belgia USD 1,67 miliar, Belanda USD 4,22 miliar, dan Inggris USD 2,55 miliar.

Ekspor Indonesia ke Uni Eropa masih didominasi produk agro, seperti minyak kelapa sawit, karet alam, dan kopra. Sebaliknya, produk impor Indonesia dari Uni Eropa didominasi produk-produk industri, seperti permesinan, peralatan telekomunikasi, suku cadang pesawat terbang, dan obat-obatan.(Aprilia Rahapit)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.