Senin, 28 September 20

Polisi AS yang Melanggar Hukum Langsung Dipecat dan Dipenjara!

Polisi AS yang Melanggar Hukum Langsung Dipecat dan Dipenjara!
* lambang hukum - keadilan

Kematian warga sipil Amerika Serikat (AS) George Floyd di tangan POLISI Minneapolis, Minnesota, AS, jelas dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan oleh POLISI secara brutal.

Tidak lama setelah kejadian itu, empat anggota POLISI yang bertugas menangkap George Floyd dipecat dari anggota Kepolisian Minneapolis. Atas perintah Presiden AS Donald Trump, dan kasus ini pun ditangani oleh pemerintah Federal lewat FBI.

Masalahnya bukan hanya tentang penyalahgunaan kekuasaan dan kebrutalan POLISI, itu adalah masalah yang lebih dalam di masyarakat Amerika yang berakar dari perbudakan, pemisahan dan kebencian di masa lalu antara THE WHIE dan BLACK PEOPLE.

Satu-satunya hal yang baik, ada pemisahan kekuasaan, ada lapisan pemerintah yang menanggapinya dan melakukan hal yang benar untuk menegakkan keadilan. Jadi, para petugas kepolisian itu menyalahgunakan kekuasaan, bukan berarti ORANG-ORANG dapat dengan bebas mencuri dan menghancurkan properti milik orang lain atau orang kulit putih.
Ini yang sedang diselesaikan oleh PENEGAKAN HUKUM di seluruh Amerika.

Ketidakadilan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja terutama yang dilakukan oleh mereka yang BERKUASA dan punya POWER (kekuasaan).

Bagusnya di USA, pemerintah hadir, negara hadir, dan ada separation of power, maka ketika anggota POLICE DEPARTMENT melakukan kesalahan atau abusing power, dalam kasus di Minneapolis, Mayor of Minneapolis langsung memanggil Chief Police and bersama melakukan review terhadap video yg beredar dipublik dan menyimpulkan, anggotanya telah menyalahi aturan dengan accessive power, melanggar police code of public conducts dan abusing power.

Seketika itu, the MAYOR and the CHIEF POLICE of Minnesota mengambil tindakan MEMECAT 4 anggota POLISI yang abusing power dan bersama bikin PRESS CONFERENCE.

Meski begitu, melihat dari video yg beredar tindakan POLISI itu unacceptable dan mengundang amarah dari public khususnya dari anggota masyarakat USA berkulit hitam. Police brutality sudah sering terjadi dan itulah yang trigger RIOTS dan LOATHINGS yang terlihat di banyak media.

Meski demikian, tindakan merusak barang orang lain, mencuri dan membabi buta rampagn dipublik seperti yang kita lihat dilayar television itu tidak dibenarkan oleh hukum di USA dan POLISI akan bertindak secara proportional.

Beda dengan POLISI di Indonesia, begitu banyak anggota POLISI yang ABUSING POWER dan melanggar HAM, tapi mana tindakan accountability terhadap anggota POLISI yang melanggar hukum dan abusing power dari POLRI sendiri dan dari pemerintah atau anggota DPR RI?

Kota-kota di AS berlakukan Jam Malam
Jam malam telah diberlakukan di berbagai kota di Amerika Serikat dalam upaya meredam kerusuhan yang meluas akibat konflik antara demonstran dan polisi menyusul kematian seorang warga kulit hitam, George Floyd.

Unjuk rasa yang meluas memaksa polisi antihuru-hara melepaskan gas air mata dan peluru karet setelah massa membakar mobil-mobil polisi di beberapa kota. Presiden Donald Trump menyalahkan “penjarah dan anarkis” atas aksi kekerasan tersebut. Floyd, 46 tahun, terbunuh di tangan polisi di Minneapolis pada Senin lalu.

Mantan anggota polisi Derek Chauvin, seorang pria kulit putih berusia 44 tahun, telah didakwa atas pembunuhan dan dijadwalkan muncul di pengadilan pada Senin.

Dalam gambar yang beredar luas di media sosial, Chauvin terlihat menahan leher Floyd dengan lututnya selama beberapa menit. Floyd berulang kali mengatakan ia tidak dapat bernapas. Tiga petugas lainnya yang berada di lokasi di saat bersamaan telah dipecat.

Apa perkembangan terbaru dari unjuk rasa?
Unjuk rasa berskala besar telah terjadi setidaknya di 30 kota di Amerika Serikat. Di Chicago, demonstran melempar batu ke arah polisi antihuru-hara, yang membalas dengan tembakan gas air mata. Beberapa orang ditahan pada Sabtu.

Polisi di Los Angeles menembakkan peluru karet untuk membubarkan pengunjuk rasa yang membakar mobil polisi. Foto-foto dari lapangan menunjukkan pengunjuk rasa berdiri di atas kendaraan yang telah rusak.

Selama dua hari berturut-turut, gerombolan besar pengunjuk rasa berkumpul di depan Gedung Putih di Washington, DC.

Di Atlanta, Georgia, di mana bangunan dirusak pada Jumat, status darurat diberlakukan di wilayah tertentu untuk melindungi warga dan properti. Ribuan orang juga turun ke jalanan di Minneapolis, New York, Atlanta dan Philadelphia.

Di Minneapolis, lokasi kematian George Floyd, melahirkan kemarahan warga yang diwarnai aksi pembakaran hingga penjarahan.

Di Atlanta, sekelompok orang membakar satu mobil milik polisi, dan bentrokan antara massa pendemo dan polisi pun terjadi. Penjarahan juga dilaporkan terjadi.

Jam malam telah diberlakukan di antaranya di Minneapolis, Atlanta, Los Angeles, Philadelphia, Portland dan Louisville. Tapi, demonstran di beberapa kota terus mengabaikan jam malam dan penjarahan terus meluas.

Di Minnesota, ratusan tentara dari Garda Nasional – pasukan cadangan yang dapat digunakan oleh Presiden AS atau gubernur negara bagian untuk mengintervensi keadaan darurat – telah dikerahkan sejak Jumat. (*/BBC)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.