Sabtu, 4 Februari 23

PLTU Adipala Perkuat Sistem Kelistrikan Jawa-Bali

PLTU Adipala Perkuat Sistem Kelistrikan Jawa-Bali
* Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Cilacap, Obsessionnews – Listrik memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup pesat yang ditandai dengan bermunculan sejumlah kawasan industri, maka kebutuhan listrik semakin meningkat. Ketersediaan listrik memang menjadi salah satu daya tarik utama bagi kalangan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Mengingat begitu vitalnya peran listrik dalam sepuluh tahun terakhir pemerintah melalui PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan juga pihak swasta gencar membangun berbagai pembangkit listrik.

Salah satu pembangkit listrik yang dibangun adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala berkapasitas 1 x 700 megawatt (MW) di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Proyek yang menelan investasi Rp 2,2 triliun ini dikerjakan sejak tanggal 27 April 2014. Ditargetkan PLTU Adipala akan beroperasi per 31 Desember 2015.

PLTU Adipala akan memperkuat sistem kelistrikan Jawa-Bali, di mana daya mampu sistem kelistrikan Jawa-Bali saat ini sebesar 30.755 MW, dan akan mendapat tambahan dari PLTU Adipala 700 MW sehingga menjadi 31.455 MW.

PLTU Adipala menggunakan batu bara berkalori rendah yang diperoleh dari Kalimantan dan Sumatera. Kebutuhan batu bara sebanyak 3.073.300 ton/tahun atau setara dengan 8.420 ton/hari. Pemakaian batu bara dapat menghemat sekitar Rp 6,5 triliun/tahun jika dibandingkan dengan menggunakan BBM.

Keistimewaan PLTU Adipala adalah boiler yang dipergunakan untuk memanaskan air dan menghasilkan uap memiliki tekanan dan temperatur operasi lebih tinggi, sehingga menghemat pemakaian batu bara. Keistimewaan lainnya adalah PLTU Adipala memiliki dermaga untuk kapal berkapasitas 35 dead weight tonnage (DWT) atau tonase bobot mati dan memiliki kedalaman laut 13 meter, sehingga memperlancar pengangkutan batu bara.

Pembangunan PLTU Adipala menyerap tenaga kerja sebanyak 2.011 orang, dan 500 orang di antaranya warga Desa Bunton. Selain penyerapan tenaga kerja, dampak lain dari pembangunan PLTU Adipala adalah masyarakat di sekitar PLTU Adipala yang sebelumnya bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani kini beralih ke usaha lain, yakni berdagang sembako, berdagang pulsa, berdagang air isi ulang, membuka usaha rumah kontrakan, dan lain sebagainya.

Dengan adanya PLTU Adipala terjadi multiplier effect atau efek pelipat ganda, di mana roda perekonomian di Cilacap berputar semakin kencang. Jika 2.011 orang karyawan PLTU Adipala mengeluarkan penghasilan rata-rata Rp 1 juta/bulan/orang untuk kebutuhan makan dan kebutuhan rumah tangga, maka di Cilacap terjadi transaksi sekitar Rp 2,011 miliar/bulan. Nilai transaksi semakin besar jika ditambahkan selama pembangunan PLTU Adipala terjadi pembelian bahan bangunan seperti besi, semen, pasir, oli, dan lain-lain.

Sementara itu rasio elektrifikasi (perbandingan antara rumah yang sudah berlistrik dengan jumlah keseluruhan rumah) di Cilacap mengalami peningkatan dari 72,86% tahun 2009 menjadi 87,07% pada tahun 2014. Artinya, sebanyak 87,07% rumah sudah menikmati listrik dari PLN, sedangkan sisanya 12,93% rumah yang belum terjangkau atau tersambung listrik karena faktor geografis yang sulit dijangkau kabel listrik. Daya mampu sistem kelistrikan area Cilacap sebesar 241,60 MW, sedangkan beban puncak 220,32 MW, sehingga surplus 21,28 MW. Sedangkan jumlah pelanggan PLN mengalami peningkatan dari 563.946 pelanggan tahun 2009 menjadi 755.021 pelanggan pada tahun 2014.

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji
Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji

Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji mendukung segala investasi energi swasta. Ia meminta pemerintah pusat supaya mempermudah dalam proses perizinan. Menurutnya, ketersediaan listrik yang memadai dapat menarik investasi sebesar-besarnya, dan hal ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pembangunan PLTU Adipala dan ketersediaan listrik ikut andil terhadap masuknya investasi di Cilacap. Dalam empat tahun terakhir investasi yang menonjol antara lain proyek Pertamina Residual Fluid Catalytic Cracking –RFCC) dengan nilai investasi Rp 8,4 triliun, dua buah hotel bintang dua dengan total investasi Rp 150 miliar, sebuah proyek pertokoan dengan nilai investasi Rp 100 miliar, empat proyek pengolahan dan pemurnian pasir besi dengan total investasi Rp 6,6 miliar, sebuah proyek pengolahan besi murni dengan nilai investasi Rp 2,15 miliar, dan perdagangan kayu dengan investasi Rp 1 miliar. Proyek-proyek tersebut menyerap tenaga kerja sekitar 25.000 orang.

Salah seorang warga yang merasakan manfaat PLTU Adipala adalah Supriyadi yang rumahnya dekat dengan PLTU Adipala, yakni Desa Wlahar, Kecamatan Adipala. Semula lelaki yang tamatan SMP ini bekerja sebagai nelayan dan berpenghasilan tidak menentu. Untuk mengubah nasibnya agar menjadi lebih baik Supriyadi melamar kerja ke PLTU Adipala tahun lalu. Pihak manajemen PLTU Adipala membuat kebijakan memprioritaskan merekrut warga di sekitar PLTU Adipala. Supriyadi beruntung karena diterima bekerja di situ dan mendapat pelatihan memasang pipa, suatu hal baru yang dialaminya. Setelah itu dia ditempatkan bekerja di bagian pemasangan pipa. Ia mendapat upah Rp 62.000/hari yang dibayarkan seminggu sekali. Hal ini berarti sebulan ia memperoleh upah Rp 1,86 juta.

Supriyadi patut bersyukur karena mendapat penghasilan yang cukup besar, dan ia lancar memberi nafkah pada keluarganya. Penghasilannya itu jauh lebih besar dibandingkan ketika ia bekerja sebagai nelayan. Saat menjadi nelayan rata-rata penghasilannya Rp 500.000 – Rp 750.000/bulan.

“Waktu menjadi nelayan saya sering tidak melaut karena cuacanya buruk. Kalau tidak melaut, saya bekerja apa saja yang penting halal. Enakan bekerja di PLTU Adipala, karena mendapat penghasilan yang besar,” kata ayah seorang anak itu sambil tersenyum.

Dia menambahkan, PLTU Adipala membawa berkah bagi warga Cilacap, dan khususnya bagi warga Bunton dan desa-desa di sekitar PLTU Adipala. Sebab, sebagian besar yang bekerja di sini adalah penduduk asli Cilacap.

Sementara itu pasokan listrik dari PLN menjadi daya tarik bagi perusahaan besar untuk menjadi pelanggan. Salah satu di antara perusahaan besar itu adalah PT Pertamina Terminal BBM Lomanis. Semula PT Pertamina menggunakan gas, lalu beralih ke listrik dari PLN dengan alasan lebih hemat. Pihak manajemen PT Pertamina mengajukan sambungan baru 1.500.000 VA dengan biaya Rp 757.500.000 pada tanggal 20 Agustus 2013, dan terealisasi 29 November 2013. Dengan memakai listrik dari PLN itu PT Pertamina menghemat sekitar Rp 81 miliar/tahun jika dibandingkan dengan menggunakan gas.

Pelanggan baru PLN lainnya adalah sebuah hotel berbintang dua yang dibangun tahun 2012 – 2013 dengan nilai investasi Rp 40 miliar. Hotel ini mengajukan sambungan baru 555.000 VA tanggal 26 Juni 2013 dengan biaya Rp 121.200.000, dan terealisasi tanggal 30 Agustus 2013. Rahman, manajer hotel itu, mengatakan, Cilacap salah satu daerah tujuan investasi yang menarik yang didukung ketersediaan listrik yang memadai. Di Cilacap banyak terdapat industri besar dan sejumlah obyek wisata yang dikunjungi wisatawan asing dan wisatawan domestik, dan mereka tentu membutuhkan hotel untuk menginap. Peluang emas itu dimanfaatkan oleh pengusaha untuk membangun hotel. (Arif RH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.